Thu,21 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Pentingnya Inovasi Teknologi untuk Adaptasi Krisis Iklim Kelompok Rentan

Pentingnya Inovasi Teknologi untuk Adaptasi Krisis Iklim Kelompok Rentan

pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan
Pentingnya Inovasi Teknologi untuk Adaptasi Krisis Iklim Kelompok Rentan
service

Adaptasi krisis iklim tidak akan berjalan tanpa inovasi yang tepat. Peran riset dan teknologi pun krusial untuk menyediakan inovasi yang memudahkan kelompok-kelompok rentan. Hal ini tergambar dalam knowledge and innovation exchange (KIE) Jakarta Summit 2026, akhir April. Salah satunya dalam bentuk The Coupled Seaweed and Solar Salt Farming (CSSSF) di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Teknologi ini memadukan tambak garam tradisional menjadi kawasan produksi terpadu yang menghasilkan air bersih, energi hijau, dan pangan berkelanjutan secara mandiri. Inisiatif ini hadir dari tim peneliti Universitas Trunojoyo, the University of Newcastle, the Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia membuat petambak garam tradisional bisa dapat penghasilan tambahan dari budidaya rumput laut, listrik dari tenaga surya, juga air bersih dari desalinasi air laut. Fathur Rokhim, petambak garam tradisional, menyebut,  krisis iklim membuatnya dan banyak petani garam tradisional lain nelangsa. Pasalnya, selain membuat budidaya yang hanya bisa mereka lakukan dalam tujuh bulan musim kemarau ini rentan, praktik mereka yang mengandalkan tenaga manusia dan pompa diesel ini pun tinggi emisi. Sementara, dia tidak pernah terpikirkan punya penghasilan lain, termasuk rumput laut. “Selama ini petani garam belum pernah budidayakan rumput laut,” katanya. Wahyudi Agustiono, peneliti Universitas Trunojoyo, menjelaskan, prototype ini menampung air laut yang petambak garam proses secara manual ke dalam kolam yang sudah berisi rumput laut. Kemudian  memisahkan dengan desalinasi yang membantu kristalisasi lebih cepat, sehingga panen pun lebih cepat. Teknologi ini juga menggunakan sistem Organic Rankine Cycle (ORC), memanfaatkan panas untuk menghasilkan energi pengubah panas yang bisa menjadi sumber energi.…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.