Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Khutbah Arafah 1447 H: Meraih Haji Mabrur dan Meneguhkan Kemaslahatan Umat

Khutbah Arafah 1447 H: Meraih Haji Mabrur dan Meneguhkan Kemaslahatan Umat

khutbah-arafah-1447-h:-meraih-haji-mabrur-dan-meneguhkan-kemaslahatan-umat
Khutbah Arafah 1447 H: Meraih Haji Mabrur dan Meneguhkan Kemaslahatan Umat
service

Khutbah Arafah ini mengajak jemaah haji untuk memaknai wukuf sebagai momentum tobat, doa, dan kembali kepada Allah SWT. Jemaah diingatkan bahwa haji mabrur tidak hanya tampak pada sahnya manasik, tetapi juga pada akhlak yang lebih baik, hati yang lebih lembut, dan kepedulian sosial yang semakin kuat. Khutbah ini juga menegaskan pentingnya Tri Sukses Haji: sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses keadaban dan peradaban.

Teks khutbah berikut ini berjudul “Khutbah Arafah 1447 H: Meraih Haji Mabrur dan Meneguhkan Kemaslahatan Umat.” Untuk mengunduh naskah khutbah Arafah ini, silakan klik tombol download di atas atau bawah artikel ini. Semoga bermanfaat! (Redaksi).

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي دَعَانَا إِلَى بَيْتِهِ الْحَرَامِ، وَوَقَفَنَا فِي عَرَفَاتَ، وَأَفَاضَ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ وَإِحْسَانِهِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ.

Jemaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah

Pada hari yang agung ini, kita berkumpul di Arafah. Kita hadir di tempat yang menjadi inti ibadah haji. Kita datang dengan pakaian ihram. Kita menanggalkan atribut-atribut dunia. Kita menundukkan hati di hadapan Allah. Kita menyadari bahwa manusia tidak memiliki daya kecuali dengan pertolongan-Nya.

Di Padang Arafah ini, manusia belajar bahwa tidak ada kemuliaan sejati selain ketakwaan. Di tempat ini, air mata taubat lebih berharga daripada kemegahan dunia. Kedudukan tidak membuat seseorang lebih tinggi. Harta tidak membuat seseorang lebih mulia. Jabatan tidak membuat seseorang lebih dekat kepada Allah.

Di tempat ini pula, seorang hamba menyadari bahwa seluruh perjalanan hidup pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Semua hadir sebagai hamba. Semua memohon ampun. Semua mengharap rahmat. Semua menunggu karunia Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Artinya, “Haji adalah Arafah.”

Hadits ini mengingatkan kita bahwa wukuf bukan sekadar hadir secara jasmani, tetapi sekaligus hadir dengan hati. Wukuf adalah mengakui kelemahan diri. Wukuf adalah kembali kepada Allah.

Wukuf adalah saat seorang hamba berkata dalam diamnya: Ya Allah, aku datang kepada-Mu. Aku membawa dosa dan harapan. Aku membawa kelemahan dan kerinduan. Aku memohon ampunan-Mu. Aku memohon ridha-Mu.

Jemaah haji yang dirahmati Allah

Hari Arafah adalah hari di mana doa dipanjatkan dan ampunan diharapkan. Hari Arafah adalah hari ketika Allah memberikan kemurahan kepada hamba-hamba-Nya yang datang dengan debu perjalanan, lelah badan, dan air mata kerinduan.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

Artinya, “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan biarkan waktu ini berlalu tanpa istighfar. Jangan biarkan Arafah berlalu tanpa munajat. Jangan biarkan detik-detik mulia ini hilang tanpa doa untuk diri, keluarga, orang tua, guru, para petugas, para pemimpin, semua jemaah haji, umat Islam, dan bangsa Indonesia. Mari kita panjatkan doa terbaik untuk semuanya.

Di tempat ini, mari kita tundukkan hati, kita jernihkan niat, kita bersihkan lisan dari keluhan yang tidak perlu dan berpotensi melukai hati orang lain. Mari kita lapangkan dada dan kita mohon kepada Allah agar haji ini menjadi haji yang mabrur.

Rasulullah SAW bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya, “Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Haji mabrur bukan hanya selesai manasik. Haji mabrur adalah perubahan hidup yang akan menampakkan diri pada wujud hati yang lebih lembut, ibadah yang lebih terjaga, lisan yang lebih santun, sikap yang lebih sabar dan bijak, serta kepedulian yang lebih nyata dalam kehidupan.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Jemaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah

Arafah mengajarkan tauhid. Talbiyah yang kita ucapkan sejak ihram mengajarkan bahwa hidup kita harus kembali kepada Allah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ

Artinya, “Kami datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Kalimat ini sederhana. Namun maknanya sangat dalam bagi seorang hamba yang bertalbiyah, sebab dengan kalimat ini dia sedang menyerahkan dirinya kepada Allah. Ia menyatakan kesiapan untuk taat. Ia menyatakan kesediaan untuk dibimbing. Ia menyatakan kesadaran bahwa seluruh pujian, nikmat, dan kekuasaan hanya milik Allah.

Inilah sesungguhnya ruh haji itu. Inilah inti ibadah yang agung ini. Haji bukan perjalanan wisata, bukan perjalanan status, bukan perjalanan untuk mencari sebutan. Haji adalah perjalanan kembali, kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah, kembali kepada hidup yang bersih.

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَاتَّقُوْنِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya, “Berbekallah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Oleh-oleh terbaik dari haji bukanlah barang, suvenir, dan status yang kita bawa pulang. Oleh-oleh terbaik dari haji adalah takwa, hati yang lebih bersih, hidup yang lebih dekat kepada Allah, kesediaan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bermartabat.

Jemaah haji yang dirahmati Allah

Di Arafah ini, kita juga belajar persaudaraan. Jutaan manusia dari berbagai negara berkumpul dalam satu pakaian, satu arah, satu zikir, dan satu harapan. Mereka berbeda bahasa, berbeda warna kulit, dan berbeda latar belakang. Namun mereka disatukan oleh tauhid.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا، إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya, “Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini sangat dekat dengan kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa kita terdiri dari banyak suku, bahasa, budaya, dan agama. Kita hidup dalam rumah besar bernama Indonesia. Karena itu, haji harus menguatkan rasa persaudaraan. Haji harus melatih kita untuk tidak mudah merendahkan dan menganggap orang lain tidak penting. Haji harus membuat kita lebih mampu mendengar, memahami, menolong, dan menjaga sesama.

Jemaah haji yang dimuliakan Allah

Haji mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kesombongan. Kemuliaan lahir dari takwa, lahir dari akhlak, lahir dari kemampuan menahan diri saat lelah, tetap santun saat berdesakan, tetap sabar saat menunggu, dan tetap peduli saat melihat saudara membutuhkan bantuan.

Di tengah jutaan manusia, haji menguji watak kita. Di tengah panas dan padat, haji menguji kesabaran kita. Di tengah keterbatasan fisik, haji menguji keikhlasan kita. Di tengah perbedaan kebiasaan, haji menguji keluasan hati kita.

Sebagai jemaah haji Indonesia, kita harus menjadi teladan. Teladan dalam tertib, teladan dalam menjaga kebersihan, teladan dalam menghormati sesama, teladan dalam mematuhi ketentuan, dan teladan dalam menolong lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah yang lemah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Jemaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah

Dalam penyelenggaraan haji, pemerintah mencanangkan Tri Sukses Haji. Tri Sukses Haji bukan sekadar slogan. Ia adalah arah khidmah. Ia adalah cara kita memastikan bahwa ibadah haji memberi manfaat bagi pribadi, umat, bangsa, dan peradaban.

Sebab dalam timbangan syariat, setiap ikhtiar perbaikan layanan ini adalah wujud nyata dari penegakan maqashid syariah, yaitu menjaga keselamatan jiwa (hifzhun nafs), kenyamanan beribadah (hifzhud din), serta memuliakan harkat kemanusiaan.

Ketika kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan jemaah terjaga melalui tata kelola yang baik, di sinilah esensi kemaslahatan umat (mashlahatul ummah) itu membumi. Haji yang mabrur tidak hanya lahir dari kekhusyukan ritual individu di atas sajadah, tetapi juga ditopang oleh hadirnya kemaslahatan kolektif yang menghadirkan rasa aman bagi setiap tamu Allah dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tri Sukses Haji tersebut dapat kami uraikan sebagai berikut:

Pertama, sukses ritual.

Haji adalah ibadah ritual. Haji adalah satu dari lima rukun Islam. Haji masuk dalam wilayah fiqh ibadah yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqh klasik dan kontemporer. Karena itu, kesuksesan paling utama dalam haji adalah sahnya ibadah. Jemaah harus memahami rukun haji, wajib haji, sunah haji, larangan ihram, dam, rukhsah, dan tata cara ibadah sesuai tuntunan syariat.

Sukses ritual berarti jemaah mampu menjalankan haji dengan benar. Wukufnya sah. Tawafnya sah. Sa’inya sah. Tahallulnya sah. Mabit dan lontar jumrahnya dilaksanakan sesuai ketentuan syariat. Bagi yang memiliki uzur, syariat menyediakan kemudahan, sebab Islam tidak memaksakan umatnya mengerjakan sesuatu di luar kemampuan yang bisa dia lakukan.

Allah SWT berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Kedua, sukses ekosistem ekonomi haji.

Haji adalah ibadah. Haji menggerakkan ekosistem yang besar, bahkan sangat besar. Ia menyerap lebih dari dua puluh triliun rupiah. Di dalamnya ada transportasi, akomodasi, konsumsi, perlengkapan, logistik, layanan kesehatan, teknologi, pembinaan, dan berbagai kebutuhan jemaah.

Ekosistem ini harus memberi dampak ekonomi yang baik. Ia harus mendorong manfaat bagi umat dan bangsa. Ia harus membuka peluang bagi produk Indonesia untuk hadir di Arab Saudi. Ia harus mendorong penyediaan akomodasi dan konsumsi yang membawa nilai tambah bagi tanah air. Ia harus dikelola secara amanah, transparan, akuntabel, dan berpihak pada kemaslahatan jemaah dan kita sebagai bangsa Indonesia.

Jemaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah.

Sukses ekosistem ekonomi haji menuntut kejujuran. Uang jemaah adalah amanah. Layanan jemaah adalah amanah. Setiap kontrak adalah amanah. Setiap rupiah harus dijaga. Setiap layanan harus dipertanggungjawabkan. Tidak boleh ada ruang untuk kelalaian, pemborosan, atau kepentingan yang merugikan jemaah.

Jika ekosistem haji dikelola dengan benar, haji tidak hanya mengantarkan jemaah menuju kemabruran. Tetapi haji di sisi yang lain juga dapat menguatkan ekonomi umat, mengangkat produk bangsa, memperluas kemaslahatan, dan haji juga dapat menjadi jalan bagi Indonesia untuk hadir lebih bermartabat dalam tata kelola layanan ibadah ini.

Ketiga, sukses keadaban dan peradaban.

Haji harus membentuk akhlak personal. Haji harus menjadikan seseorang lebih santun kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga, lebih jujur dalam pekerjaan, lebih disiplin dalam amanah, dan lebih rendah hati dalam kehidupan sosial.

Haji juga harus menjadikan jemaah sebagai teladan lingkungan. Ketika pulang ke tanah air, jemaah haji harus membawa kesejukan. Ia harus menjadi penengah, bukan pemecah. Ia harus menjadi penyambung persaudaraan, bukan penyulut permusuhan. Ia harus menebarkan kedamaian, bukan kebencian. Ia harus menguatkan masyarakat, bukan membebani masyarakat.

Inilah makna sukses keadaban dan peradaban. Haji bukan hanya membentuk kesalehan pribadi. Haji harus menguatkan kesalehan sosial sekaligus menjadi katalisator peradaban nasional. Dalam sejarah bangsa, banyak pendiri dan penggerak kemerdekaan adalah para haji. Mereka pulang dari Tanah Suci dengan kesadaran baru, dengan keberanian moral, dengan semangat membela umat, dan dengan tekad membangun bangsa.

Maka hari ini, dari Arafah, kita berdoa agar jemaah haji Indonesia pulang sebagai manusia yang lebih bertakwa. Pulang sebagai pribadi yang lebih bermanfaat. Pulang sebagai keluarga yang lebih meneduhkan. Pulang sebagai warga bangsa yang lebih mencintai Indonesia. Pulang sebagai hamba Allah yang membawa rahmat bagi sesama.

Jemaah haji yang dirahmati Allah

Padang Arafah akan segera kita tinggalkan, namun nilai-nilai Arafah jangan sampai hilang dari kehidupan kita. Biarlah hati tetap tunduk kepada Allah, lisan tetap basah dengan zikir, akhlak tetap terjaga, dan semangat melayani sesama terus tumbuh dalam kehidupan setelah haji.

Semoga kita pulang bukan hanya membawa cerita perjalanan, tetapi membawa perubahan diri. Pulang dengan hati yang lebih bersih, ibadah yang lebih istiqamah, akhlak yang lebih mulia, serta cinta yang lebih besar kepada umat dan bangsa.

Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, menjaga bangsa Indonesia dalam persatuan dan keberkahan, serta menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang memperoleh haji mabrur.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ.

Jemaah haji yang dimuliakan Allah.

Di penghujung khutbah ini, marilah kita bersungguh-sungguh berdoa. Rendahkan hati. Hadirkan wajah orang tua kita. Hadirkan keluarga kita. Hadirkan guru-guru kita. Hadirkan saudara-saudara kita. Hadirkan bangsa Indonesia dalam doa kita.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا، وَتَقَبَّلْ حَجَّنَا، وَاجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُوْرًا، وَسَعْيًا مَشْكُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مَقْبُوْلًا.

Ya Allah, lindungilah jemaah haji Indonesia dan seluruh jemaah haji di tanah suci. Mudahkan manasik mereka. Berikan kesehatan dan keselamatan. Lindungi diri, keluarga, dan harta mereka. Kembalikan mereka ke tanah air dalam keadaan selamat, membawa keberkahan, dan diterima ibadahnya.

Ya Allah, sembuhkan yang sakit. Kuatkan yang lemah. Sayangi para lansia. Lindungi kaum perempuan. Jagalah saudara-saudara kami penyandang disabilitas. Berikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Berikan kelapangan dari setiap kegelisahan.

اللهُمَّ احْفَظُ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلْدَةً طَيِّبَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، سَخِيَّةً رَخِيَّةً، مَحْفُوْظَةً مِنْ كُلِّ بَلَاءٍ وَفِتْنَةٍ وَمِحْنَةٍ وَخَطَرٍ.

Ya Allah, lindungi tanah kami, laut kami, dan langit kami. Lindungi desa dan kota kami. Lindungi keluarga dan anak-anak kami. Berikan kepada rakyat kami rezeki yang halal, baik, dan penuh berkah.

Ya Allah, bimbinglah Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Bimbinglah para pemimpin kami, para pemegang amanah, para ulama, dan para pejabat kami kepada jalan yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Jadikan mereka pemimpin yang amanah, jujur, adil, penyayang, mencintai rakyat, menjaga persatuan, melayani kemaslahatan, dan jauh dari kezaliman, korupsi, serta kelalaian.

Ya Allah, satukan hati kami. Perbaikilah hubungan di antara kami. Tunjukkan kepada kami jalan keselamatan. Keluarkan kami dari kegelapan menuju cahaya. Jauhkan kami dari keburukan dan fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, jangan jadikan keberangkatan kami ke Tanah Suci hanya sebagai perjalanan jasad tanpa perubahan hati. Jadikan haji ini sebagai titik lahirnya ketakwaan, keikhlasan, persaudaraan, dan pengabdian yang lebih tulus kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A., Pengasuh/Pendiri Pondok Pesantren Amanatul Ummah.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.