Sun,31 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Kalangan Muda Lebih Mudah Jalin Persahabatan Sejati, Begini Penjelasannya

Kalangan Muda Lebih Mudah Jalin Persahabatan Sejati, Begini Penjelasannya

kalangan-muda-lebih-mudah-jalin-persahabatan-sejati,-begini-penjelasannya
Kalangan Muda Lebih Mudah Jalin Persahabatan Sejati, Begini Penjelasannya
service

Jakarta, Arina.id Dosen filsafat Islam Fahruddin Faiz mengungkapkan bahwa anak muda memiliki peluang lebih besar untuk membangun persahabatan sejati dibandingkan orang yang telah memasuki usia dewasa. Pandangan tersebut disampaikannya saat menjelaskan teori persahabatan menurut filsuf Yunani kuno, Aristoteles.

Menurut Faiz, Aristoteles membedakan persahabatan ke dalam tiga jenis, yakni persahabatan yang didasarkan pada manfaat (utility), kesenangan (pleasure), dan kebajikan (virtue). Dari ketiga jenis tersebut, persahabatan yang berlandaskan kebajikan dinilai sebagai bentuk persahabatan yang paling tinggi dan paling sempurna.

Ia menjelaskan bahwa persahabatan yang didasarkan pada kesenangan lebih dekat menuju persahabatan sejati dibandingkan persahabatan yang semata-mata dibangun atas dasar manfaat.

“Orang yang bahagia dan mandiri sebenarnya tidak membutuhkan teman karena manfaatnya. Ia membutuhkan teman karena kebersamaan dan kesenangan yang dihadirkan dalam hubungan tersebut,” ujar Faiz dalam tayangan Mengaji Hening diakses Minggu (31/5/2026).

Karena itu, lanjutnya, Aristoteles melihat bahwa persahabatan berbasis kesenangan lebih banyak ditemukan pada kalangan muda. Pada fase ini, seseorang umumnya belum terlalu dibebani berbagai kepentingan praktis yang sering muncul ketika memasuki dunia kerja atau kehidupan sosial yang lebih kompleks.

“Anak muda lebih mudah menjalin persahabatan sejati dibandingkan orang yang sudah dewasa. Ketika usia bertambah, biasanya muncul banyak kepentingan, seperti karier, jabatan, status sosial, urusan organisasi, maupun kepentingan-kepentingan lainnya,” jelasnya.

Meski demikian, Faiz menegaskan bahwa bukan berarti orang dewasa tidak dapat memiliki sahabat sejati. Hanya saja, kondisi kehidupan yang semakin kompleks membuat proses membangun hubungan yang tulus menjadi lebih menantang.

Ia mencontohkan bagaimana anak-anak muda sering kali menerima kekurangan temannya tanpa banyak pertimbangan. Kedekatan emosional yang kuat membuat mereka lebih mudah menunjukkan kepedulian dan solidaritas terhadap sesama kelompoknya.

Namun, menurut Faiz, persahabatan yang paling ideal tetaplah persahabatan yang didasarkan pada kebajikan atau virtue. Dalam hubungan seperti ini, seseorang menjalin persahabatan bukan karena manfaat yang diperoleh ataupun kesenangan yang dirasakan semata, melainkan karena menghargai karakter baik yang dimiliki sahabatnya.

“Kalau yang bersahabat sama-sama orang baik dan berbudi luhur, hubungan itu menjadi lebih sempurna. Dasarnya bukan lagi manfaat atau kesenangan, tetapi kualitas pribadi masing-masing,” katanya.

Persahabatan semacam ini, lanjut Faiz, juga cenderung lebih langgeng karena fondasinya adalah karakter yang relatif stabil. Berbeda dengan manfaat dan kesenangan yang dapat berubah seiring waktu, kebajikan menjadi perekat hubungan yang lebih kuat.

Ia menambahkan bahwa seseorang yang telah mencapai tingkat persahabatan berbasis kebajikan tidak perlu khawatir kehilangan manfaat atau kesenangan dalam hubungan tersebut. Sebab, kedua hal itu justru akan hadir secara alami.

“Kalau sudah berada di tingkat kebajikan, manfaat akan didapat, kesenangan juga akan didapat. Tetapi jika persahabatan hanya dibangun atas dasar manfaat atau kesenangan, belum tentu bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.

Mengutip pemikiran Aristoteles, Faiz menjelaskan bahwa orang yang memiliki keutamaan moral membutuhkan sahabat bukan untuk dimanfaatkan, melainkan sebagai ruang untuk menebarkan kebaikan. Dalam persahabatan yang ideal, masing-masing pihak berusaha memberikan manfaat terbaik bagi sahabatnya.

“Persahabatan yang didasarkan pada kebajikan membuat setiap orang berlomba-lomba berbuat baik untuk sahabatnya. Inilah yang membuat hubungan tersebut dapat bertahan lama,” katanya.

Karena itu, Faiz mengajak generasi muda untuk memanfaatkan masa-masa persahabatan yang masih terbuka luas sebagai sarana membangun karakter dan menumbuhkan kebajikan bersama.

“Bagi anak muda, ini kesempatan yang sangat baik untuk menjadikan persahabatan sebagai arena kebaikan. Jangan hanya berhenti pada kesenangan, tetapi naikkan ke tingkat kebajikan agar persahabatan menjadi lebih bermakna dan langgeng,” jelasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.