Berapa lama lagi suara burung kakatua, nuri, atau betet terdengar di hutan-hutan Indonesia? Perburuan, perdagangan ilegal, hingga hilangnya habitat akibat aktivitas eksraktif merupakan ancaman utama yang membayangi masa depan paruh bengkok. Mereka dikenal sebagai kelompok burung penebar biji handal di hutan tropis kita. Dudi Nandika, Ketua Perkumpulan Konservasi Kakatua Indonesia (KKI), mengatakan kondisi populasi sejumlah jenis kelompok burung cerdas ini, jauh lebih memprihatinkan dibandingkan satu hingga dua dekade lalu. Ancaman terbesar masih datang dari tingginya perburuan dan perdagangan ilegal yang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia timur. “Ditambah lagi maraknya tambang dan perusahaan-perusahaan kayu yang punya konsesi di hutan alami, sangat berdampak terhadap populasi paruh bengkok,” ujar Dudi yang sejak 2007 konsisten mengawal isu kakatua, Sabtu (30/05/2026). Sejumlah spesies di Maluku, menurutnya, menunjukkan tren penurunan. Di Pulau Seram, misalnya, populasi kakaktua dan nuri bayan mengalami tekanan semakin besar. Sementara di Pulau Buru, beberapa spesies endemik juga menghadapi ancaman serupa akibat perubahan habitat yang berlangsung cepat, seperti perkici buru, kring-kring buru, dan betet-kelapa buru. “Diperkirakan, hampir tiap tahun ribuan ekor burung dari berbagai jenis keluar dari Maluku.” Kondisi mengkhawatirkan juga terlihat dari hasil pemantauan populasi di Pulau Ambon. Jika dua dekade lalu keberadaan kakatua masih relatif mudah dijumpai, kini jumlahnya menurun. Dudi menyebut, penelitian yang dilakukan 2022 menunjukkan kepadatan populasi Cacatuidae di Pulau berjuluk “Ambon manise” ini hanya berkisar 1-2 individu per 10 hektar. “Itu sangat mengkhawatirkan. Saat ini, kakaktua hanya ditemukan di kawasan Hutan Sirimau.” Melindungi kehidupan kakatua sumba berarti kita harus menjaga habitatnya, yaitu hutan. Foto: Muhammad Soleh/Sumba. Wildlife. Achmad…This article was originally published on Mongabay
Paruh Bengkok, Penjaga Hutan yang Hidupnya Terancam
Paruh Bengkok, Penjaga Hutan yang Hidupnya Terancam





Comments are closed.