Gunung Halau-Halau, bagian dari Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, tutup permanen terhadap aktivitas pendakian umum, ekspedisi, serta wisata komersial. Keputusan yang keluar 1 Mei, melalui musyawarah yang melibatkan Kepala Desa Juhu, Kepala Desa Hinas Kiri, Babinsa, Pokdarwis, serta tokoh masyarakat setempat ini bertujuan untuk menghormati komunitas adat Dayak Meratus. Masyarakat Adat Meratus memiliki alasan spiritual di balik penutupan Gunung Halau-Halau. Dalam kepercayaan mereka, puncak tertinggi di Kalsel itu merupakan tempat bersemayam roh leluhur dan penjaga alam. Abdul Dunduk, Kepala Desa Juhu, menyebut, dulu leluhur menerima wahyu dari roh penjaga gunung untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Mereka memandang tempat itu pusat kekuatan spiritual, bertemunya langit dan bumi, yang sekaligus dapat memberi sumber kehidupan bagi makhluk di sekitarnya. “Karena itu, setiap aktivitas yang berkaitan harus dilakukan dengan penghormatan, ritual adat meminta izin kepada roh penjaga agar perjalanan berjalan aman dan tidak menimbulkan gangguan bagi alam sekitar,” katanya. Di sana, masyarakat juga kerap lakukan upacara pembersihan diri dan lingkungan dari energi negatif. Serta aruh, bentuk rasa syukur pada roh leluhur atas bumi dan kehidupan yang seimbang. Jadi, ritual dan kepercayaan, tidak hanya memperkuat ikatan spiritual Masyarakat Dayak Meratus, juga menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian alam di Pegunungan Meratus. Rubi, Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel, menyebut, penutupan itu bentuk komitmen Masyarakat Adat Meratus dalam menjaga kelestarian ekosistem serta nilai kesakralan. Halau-Halau, katanya, bukan sekadar sebagai objek wisata atau bernilai ekonomi. Warga Desa Juhu itu berpendapat, desa dekat dengan Gunung Halau-Halau, kawasan menyimpan banyak cerita dan mitologi dalam kehidupan…This article was originally published on Mongabay
Masyarakat Adat Meratus Tutup Gunung Halau-Halau Demi Jaga Kesakralan
Masyarakat Adat Meratus Tutup Gunung Halau-Halau Demi Jaga Kesakralan





Comments are closed.