Gejolak revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak hanya soal perang antara Belanda dengan Indonesia. Di dalamnya banyak tersimpan cerita, salah satunya adalah dua saudara yang saling berlawanan, namun saling menyayangi. Itulah yang diangkat dalam novelette Perlawanan (Ganaco, 1974).
Novelette Perlawanan merupakan karya Muhammad Abu Nawar Romli atau akrab dipanggil dengan nama Abnar Romli, pria kelahiran Tegal 13 Maret 1943. Belakangan, ia lebih dikenal sebagai sutradara.Misteri Gunung Merapi, sinetron yang populer di awal tahun 2000-an merupakan salah satu garapannya.
Cerita dalam Perlawanan hanya berfokus pada satu konflik utama, tanpa banyak plot. Meskipun begitu, penulis mampu membangun cerita dan latar dengan baik.
Perlawanan menceritakan dua saudara yatim-piatu di masa revolusi kemerdekaan. Meskipun tinggal satu rumah, keduanya berlawanan satu sama lain. Sang kakak bernama Imron merupakan agen rahasia Belanda. Sementara adiknya bernama Ahmad merupakan gerilyawan. Meskipun tahu kakaknya bekerja pada Belanda, Ahmad tidak melaporkan kepada komandannya. Ia melindungi kakaknya, meskipun hatinya diliputi kegundahan. Ia teringat akan nasihat mendiang orang tuanya untuk saling menjaga satu sama lain.
Pada akhirnya, komandan mengetahui apa yang dilakukan oleh Ahmad. Ia dipersidangkan dan diberi tugas untuk menghabisi kakaknya. Jika ia tidak menjalankan misi itu, maka dirinya yang akan dihabisi. Di rumah, ia mecurahkan kegundahannya kepada pembantu rumah bernama Pak Karim. Ia menyayangkan kakaknya terpedaya oleh harta dan wanita Indo yang juga agen rahasia bernama Kristine
Pak Karim memberikan wejangan untuk mencintai tanah air lebih dari segala-galanya. Ia bahkan mendukung keputusan atasan Ahmad untuk menghabisi Imron. Namun, keraguan masih menyelimuti dirinya. Maka ia berpamitan pergi dan akan kembali nanti malam.
Sepeninggal Ahmad, Imron pulang bersama dengan Van Holden dan Van Keller. Atasannya membawa sebuah dokumen berisi misi untuk Imron. Betapa terkejutnya ketika membuka dokumen itu, dua diantara empat foto itu ia sangat mengenalnya. Potret pertama adalah Hasan, sahabat yang pernah menyelamatkan nyawanya sewaktu dulu kecil tenggelam. Lalu potret kedua adalah Ahmad adik tercintanya.
Imron menolak menjalankan misi itu dan mengungkapkan alasannya. Namun, di bawah todongan pistol, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Imron menandatangani surat menjalankan misi. Percakapan antara Ahmad dengan Van Holden dan Van Keller didengar oleh Pak Karim.
Setelah Van Holden dan Van Keller pergi, Imron menelepon Kristine, menceritakan bahwa mendapat misi baru dan besok mulai bekerja. Kemudian ia meninggalkan rumah menuju apartemen kekasihnya.
Pak Karim berada dalam kebingungan, ia hilir mudik tak menentu. Lalu datanglah Ahmad. Lantas, Pak Karim menceritakan apa yang didengar. Ahmad tidak menyangka, kakaknya menyanggupi misi itu. Maka ia membulatkan tekad untuk menghabisi kakaknya. Segera ia berlari menuju kamar Imron, membuka paksa lemari guna mengambil dokumen misi milik kakaknya.
Di luar rumah, terdengar suara deheman Imron, segera Ahmad mematikan lampu dan bersembunyi di balik dinding. Di sinilah terjadi todong-menodong pistol dan juga pertengkaran mulut. Pada akhirnya Imron meletupkan pistolnya dan membuat adiknya tersungkur. Dalam sekaratnya, Ahmad tidak menyangka sang kakak begitu tega. Imron terpekik dan menangis melihat adiknya berlumuran darah. Kedua kakak beradik itu saling berangkulan, menumpahkan perasaannya masing-masing.
Tema revolusi kemerdekaan Indonesia memang banyak diangkat oleh para sastrawan Indonesia, baik angkatan dulu maupun sekarang. Namun, Abnar Romli menghadirkan cerita yang berbeda dari kebanyakan sastra dengan tema serupa di zamannya. Ia lebih fokus pada konflik psikologis, dilema moral, dan pergulatan batin tokohnya. Kemudian Abnar Romli juga tidak melakukan glorifikasi berlebihan terhadap peran tentara. Ia lebih menonjolkan bagaimana kekejaman perang mengharuskan dua saudara saling bunuh.
Abnar Romli juga menciptakan ending yang di luar prediksi pembaca di awal. Di akhir cerita, ia tidak menempatkan Imron sebagai penghianat bangsa, tetapi sebaliknya. Di mana setelah peristiwa berdarah kakak beradik, Imron menelpon atasannya, Van Holden dan Van Keller untuk datang ke rumah. Merekapun tewas di tangan Imron.
Data Buku
Judul Buku: Perlawanan
Penulis: M. Abnar Romli
Penerbit: Ganaco N. V.
Tahun Terbit: Cetakan Kedua, 1974
Tebal Halaman: 40 Halaman
Malik Ibnu Zaman
Kelahiran Tegal Jawa Tengah. Menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online.





Comments are closed.