Kemarin, dalam penantian saya di bandara selama kurang lebih 5 jam karena menunggu delay pesawat menuju Surabaya, saya ditemani oleh buku di bawah ini sampai tuntas saya membacanya. Pertama-tama, saya berterima kasih kepada Didik Hariyanto dari GDN yang telah menerjemahkan karya yang sangat penting untuk memahami bagaimana sejarah Zionisme sebagai kaum kolonial pemukim yang menjajah bumi Palestina. Buku ini adalah sumbangan yang sangat berarti dalam literasi soal kuasa asimetris dalam relasi antara Israel dan Palestina beserta implikasinya.
Ilan Pappe sendiri adalah seorang intelektual penting, sejarawan berdarah Yahudi Ashkenazi (Yahudi keturunan Eropa), dan awalnya tinggal di Israel. Dia yang merintis jalan bagi mazhab sejarah kritis yang disebut sebagai Post-Zionism, yakni kalangan sejarawan Yahudi yang riset sejarahnya bertujuan mempertanyakan kembali segenap simbol, narasi, sejarah, dan doktrin yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang given (terberi) dalam tatanan negara Israel, dalam semangat keadilan dan pembebasan manusia.
Buku ini adalah versi yang sangat singkat, padat, dan penting terkait apa yang terjadi dalam penindasan Israel atas Palestina dalam perjalanan sejarah yang panjang (long durée history). Dari pembacaan tuntas atas buku ini, ada beberapa refleksi filosofis-historis yang coba saya tampilkan di sini.
Proyek Zionisme Israel adalah bentuk penyimpangan historis atas perjuangan emansipasi kaum Yahudi terhadap penindasan dan persekusi yang dilakukan oleh kaum Eropa rasis terhadap mereka selama berabad-abad. Politik Zionisme adalah politik yang gagal dalam melakukan pembebasan kaumnya, sebagai bentuk politik negasi terhadap mereka yang melakukan negasi atas dirinya sendiri (Sartrean). Yang mereka lakukan adalah upaya mencari jalan keluar dengan menjadi bagian dari proses negasi suatu lapisan manusia atas manusia lainnya sebagai jalan keluar. Sehingga yang dilakukan oleh Zionisme adalah melakukan reproduksi sosial terhadap proyek negasi atas eksistensi yang lain, di mana dirinya adalah bagian dari proyek tersebut yang mengorbankan warga Arab.
Seperti diuraikan oleh Pappe, bumi Palestina, tempat migrasi warga Yahudi Eropa, telah diposisikan sebagai “tanah tanpa bangsa” yang diperuntukkan bagi “bangsa tanpa tanah”. Kehadiran warga Arab Palestina sendiri dinegasikan. Bahkan, realitas sejarah menunjukkan dinamika kemajuan masyarakat yang tinggal di Palestina, dengan tingkat literasi, terutama dalam kesusastraan dan budaya yang tinggi, ruang publik yang dinamis, serta kemunculan budayawan, penyair, dan jurnalis yang menandai kehidupan intelektual di sana. Dikenal istilah di dunia Arab bahwa buku-buku ditulis di Mesir, dicetak di Beirut, dan dibaca di Jaffa, Palestina.
Bahkan secara kemajuan material, mulai dari pelabuhan, jalur kereta api, listrik, serta kota dan pasar yang sibuk dan ramai, tumbuh di Palestina. Terutama pada abad ke-19, seiring dengan bangkitnya semangat Pan-Arabisme. Demikian pula, semangat nasionalisme tumbuh dan berkembang di Palestina.
Sementara di kalangan Zionisme, sejak awal jauh sebelum kemerdekaan tahun 1948, kalangan Zionis telah berniat untuk menjadikan tanah Palestina tidak saja tempat bagi kalangan Yahudi untuk berlindung setelah menghadapi rasialisme Eropa, namun lebih jauh intensi untuk membuat negara eksklusif di mana warga-warga Arab yang tinggal di sana akan ditransfer keluar Palestina sudah menjadi tujuan politik mereka. Zionisme sudah memproyeksikan arah politik yang tidak adil sejak dalam pikiran.
Yang ironis adalah migrasi kaum Zionis ke Palestina sendiri didukung oleh kalangan politisi rasis, baik dalam bentuk antisemitisme maupun fanatik agama (Kristen Zionis) yang hendak membersihkan Eropa dari warga Yahudi maupun diorientasikan oleh kepentingan apokaliptik bahwa di akhir zaman, kemunculan Yesus kedua ditandai oleh masuknya seluruh warga Yahudi dari berbagai bangsa ke Palestina. Keberhasilan kepentingan yang sebetulnya berkontradiktif ini mendapatkan momentumnya dengan Deklarasi Balfour pada tahun 1917, dengan komitmen Palestina menjadi tanah air bagi bangsa Yahudi. Alfred Balfour sendiri ketika menjadi Perdana Menteri tahun 1905 memastikan kebijakan imigrasi yang menghalangi migrasi warga Yahudi yang mengalami persekusi di Rusia untuk datang ke Inggris.
Kesuksesan Deklarasi Balfour sendiri pada tahun 1917 juga tidak dapat dilepaskan dari perjumpaan kepentingan untuk mereproduksi kepentingan imperialisme diantara Kerajaan Inggris maupun kaum Zionis. Bagi Inggris eksis dan dominasi Zionis di Palestina akan meredam dorongan perlawanan anti-kolonialis di Timur Tengah, selain itu juga terkait dengan pemastian penguasaan atas tanah Palestina oleh aliansinya, karena di wilayah itu telah terbangun infrastruktur transportasi laut dan kereta api untuk mengirimkan sumber daya alam yang dikeruk oleh imperialis Inggris dari wilayah koloninya.
Sementara Zionisme memastikan bahwa mereka akan menjadi perpanjangan peradaban Eropa maupun kepentingan imperialis bagi Inggris di bumi Timur Tengah yang menurut mereka primitif dn terbelakang. Sejak saat itu Inggris mengkhianati janji kemerdekaan bagi warga Arab Palestina (pada tahun 1915 warga Arab dijanjikan kemerdekaan oleh Inggris) dan memberikan jalan bagi kaum Zhionis untuk merekonsolidasi kaumnya membentuk otoritas politik. Diskriminasi sikap otoritas Inggris ini kemudian berujung pada pemberian otoritas politik bagi warga Zhionis dan penghancuran serta pengusiran besar-besaran terhadap warga Palestina melalui peristiwa Nakba tahun 1948.
Jalan partisipasi terhadap proyek negasi atas kemanusiaan yang dilakukan melalui proyek Zionisme adalah melalui pembentukan rezim Kolonialisme Pemukim yang secara sepihak menegasikan fakta-fakta yang diuraikan dalam buku ini terkait nasionalisme Palestina, eksistensi rakyat Palestina, dan seterusnya. Melalui rezim Kolonialisme Pemukim, Zionisme Israel menjalankan proyek represi melalui anihilasi rakyat Palestina, sejarah, dan creeping apartheid (apartheid merangkak), serta hegemoni dengan meyakinkan Eropa dan AS bahwa mereka sedang menjalankan misi pemberadaban ala demokrasi dan tatanan liberal di Timur Tengah.
Proyek Kolonialisme Pemukim (Settler Colonialism Project) memiliki perbedaan dengan proyek kolonialisme pada umumnya. Kolonialisme pada umumnya menekankan pada kontrol terhadap koloninya dari pusat metropolis dan bertujuan untuk mendapatkan sumber daya alam serta tenaga kerja murah untuk kesejahteraan negara pusat. Sementara pada kolonialisme pemukim seperti yang dilakukan oleh Zionisme, maka yang dilakukan adalah pembersihan etnis penduduk asal, pengusiran warga Arab dari bumi Palestina, tanpa diberikan ruang untuk kembali lagi. Hal itu bertujuan untuk menjadikan Israel sebagai negara eksklusif bagi warga Yahudi yang dilakukan melalui penghancuran kemanusiaan bagi warga Arab di Palestina. Itulah yang terjadi semenjak 1948 sampai saat ini. Melalui perluasan wilayah okupasi semenjak tahun 1967 di wilayah Gaza sampai Tepi Barat (West Bank) yang selalu menghadapi brutalitas rezim Zionis sembari memperluas pemukiman warga Yahudi.
Langkah aneksasi dan brutalitas koersif dari Zionis ini berjalan dengan dukungan serta lobi dari dunia internasional. Sejak awal Palestina dibiarkan sendirian, dikhinati oleh Dunia Arab, khususnya Yordania sampai selalu menjadi permainan manipulatif dari kekuatan Neo-imperialisme Eropa maupun AS. Berbagai perundingan mulai dari Camp David sampai Oslo pada kenyataannya justru semakin menjauhkan kemerdekaan negara Palestina.
Menarik dalam karya ini, Pappe juga mengajak kita berpikir lebih mendalam, ketika dia mengawali karyanya dengan momen serangan HAMAS 23 Oktober 2025. Menurut Pappe bagaimana kita harus menimbang peristiwa ini secara adil? Apakah Hamas bisa dengan serta merta dianggap pihak yang paling bersalah dan absah dicap sebagai teroris biang kerok keadaan? Peristiwa ini tidak bisa dilihat dengan mengabaikan historisitas peritiwa kolonisasi Israel atas Palestina.
Kemunculan Hamas sebagai gerakan Islam, seperti juga pada fenomena bangkitnya kekuatan politik religius di tempat lain yang tak dapat dilepaskan dari kegagalan artikulasi politik nasionalis sekuler menjadi pelindung kepentingan bangsa Palestina. Sementara sudah sedemikian lama warga Palestina hidup dalam brutalitas perilaku anihilasi dan penghancuran dari Zionis Israel. Gerilyawan Hamas sebagian besar asalah generasi muda yang tumbuh dalam pengalaman dan bahasa kekerasan, di tengah pengabaian dunia internasional, maupun problem korupsi, inkompetensi maupun kegagalan jalan diplomatik dari para elite petinggi Palestina sekuler lainnya. Dalam kondisi demikian menurut Pappe, bagi masyarakat manapun di luar Palestina apabila menghadapi nasib penistaan dan penghancuran yang sama belum tentu akan mengambil jalan yang berbeda.
Akhirnya, berbagai bentuk perlawanan rakyat Palestina terhadap kolonialisme Israel adalah bentuk proyek negasi atas negasi kemanusiaan terhadap manusia Palestina. Suatu bentuk negasi atas negasi pihak lain terhadap eksistensi dirinya. Itulah yang kita saksikan sampai sekarang. Apa yang mereka lakukan, dalam berbagai bentuk manifestasinya, adalah bagian dari terapi pemulihan kemanusiaan terhadap proses dehumanisasi total yang dilakukan terhadap diri mereka!





Comments are closed.