Tesis Kiai Imaduddin Utsman, seorang tokoh NU Banten, mengungkapkan bahwa silsilah keluarga Ba’alawi yang menurunkan marga-marga habaib Ba’alawi yang selama ini kita kenal seperti Alatas, Al-Idrus, al-ʻAidid, al-Ḥabshī, Assegaf, dan lain-lain, sebenarnya tidak bersambung sampai kepada Sayyidah Fatimah putri Nabi.
Kiai Imad, dalam podcastnya bersama Rhoma Irama, percaya bahwa tokoh Ubaidillah yang menjadi moyang marga-marga Ba’alawi itu tidak terkonfirmasi eksistensinya, alias fiktif. Tesis Kiai Imad ini mendapat dukungan analisis filologi dari seorang filolog bernama Menachem Ali.
Menurut catatan Rabithah Alawiyah (RA), para habaib Ba’alawi mempunyai nasab yang tersambung secara terus menerus melalui jalur laki-laki (paternal lineage) sampai kepada Imam Husein bin Fatimah binti Nabi SAW. Namun, kajian dan analisis DNA oleh Sugeng Sugiharto dari BRIN menolak klaim Ba’alawi soal paternal lineage tersebut.
Menurut Sugeng, keturunan Nabi Muhammad jalur paternal (laki-laki) harus ber-haplogroup J, karena Nabi Ibrahim juga ber-haplogroup J. Sementara dari ratusan para habaib Ba’alawi yang telah melakukan tes DNA, hasilnya mayoritas memiliki haplogroup G.
Namun penelitian Sugeng itu tidak menutup kemungkinan bahwa Ba’alawi masih mengandung darah Nabi atau nutfah nubuwwah melalui jalur perempuan di sebagian generasinya, hanya saja tidak tercatat oleh RA. Kalau demikian, berarti status ketersambungan nasab Ba’alawi dengan Nabi menjadi sama kondisinya seperti nasab para Walisongo, trah raja-raja Mataram, dan kiai-kiai yang tersambung nasabnya dengan Nabi secara zigzag antara laki-laki dan perempuan. Inilah posisi yang dikemukakan oleh Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf.
Selain itu, di pihak RA, Sayyid Fikri Shahab secara cukup meyakinkan menyanggah bahwa dalam jurnal-jurnal akademik, metode genetika belum cukup reliable atau handal untuk mengetahui nenek moyang yang hidup di zaman dulu yang lebih lampau (lebih dari 6 generasi).
Peran Ba’alawi dalam penyebaran Islam
Terlepas dari pro-kontra ketersambungan nasab Ba’alawi dengan Nabi SAW, namun tidak diragukan lagi, sejarah panjang keluarga Ba’alawi, yang lebih dari seribu tahun, telah menyaksikan khidmah atau pelayanan mereka dalam penyebaran Islam di Indian ocean rim, atau seputaran samudera Hindia: India Selatan, Asia Tenggara dan Afrika Timur (Khalid Hasa al-Juhi, al-Hadarim fi al-Hijaz Dauruhum fi al-Hayat al-Ilmiyah wa al-Tijariyah).
Paham Sunni Syafii ikut menyebar bersama mereka (Ibrahim, Ahmad; Siddique, Sharon & Hussain, Yasmin, eds, Readings on Islam in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies, 2025). Siapapun bisa menyaksikan di peta Sunni-Syiah saat ini yang dengan mudah bisa di-googling, bahwa kawasan seputaran samudera Hindia didominasi oleh mazhab Sunni Syafii.
Beberapa Saadat Ba’alawi juga menikahi kaum bangsawan lokal dan bahkan berhasil menjadi penguasa setempat seperti Dinasti Jamalullail di Perlis, Malaysia, Kesultanan Pontianak, Kesultanan Siak Indrapura, Riau, Indonesia (Freitag, Ulrike & Clarence-Smith, William G., ed., Hadhrami Traders, Scholars and Statesmen in the Indian Ocean, 1750s to 1960s. Vol. 5, . 1997), Kesultanan Sulu, Lanao, dan Maguindanao di Filipina (Abdurahman, Habib Jamasali Sharief Rajah Bassal, The Sultanate of Sulu. University of Michigan: Astoria Print. & Publishing Company, 2002)
Keturunan Ba’alawi tidak semuanya bergerak di bidang keagamaan. Sebagian juga menjadi aktivis dan politisi. Tentu kita ingat Raden Saleh bin Yahya sang pelukis, Ali Alatas mantan Menlu RI terlama, jurnalis Najwa Shihab, Tsamara Amany Alatas eks-PSI, Alwi Shihab PKB, Prof Quraish Shihab salah satu penafsir Al-Qur’an kekinian, Habib Soleh Al-Muhdar PDIP, Habib Aboe Bakar Al-Habsyi dan Salim Segaf Al-Jufri PKS, Sri Sultan Hamid II al-Qadry Pontianak, dan seterusnya. Spektrum ideologi politik mereka sangat beragam.
Reaksi yang proporsional
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian anggota keluarga Ba’alawi berperilaku tidak sesuai akhlakul karimah. Keberatan-keberatan juga telah diungkapkan bahwa oknum pemuda Ba’alawi melakukan glorifikasi berlebihan dengan terlalu mengagung-agungkan leluhurnya sehingga membuat kasta eksklusif dalam umat Islam. Upaya pemalsuan identitas makam-makam kuno dan pengklaiman beberapa pahlawan nasional sebagai anggota Ba’alawi family, entah siapapun pelakunya, juga telah merisaukan banyak pihak.
Hal-hal inilah yang mendorong penelitian kiai Imad tersebut. Walaupun kesimpulan Kiai Imad tidak mutlak benar, namun beberapa pengikutnya bertindak jauh dengan melakukan demonisasi atau pelabelan sebagai monster yang jahat di mana kaum Ba’alawi dianggap sebagai penjajah, penipu, pemberontak negara, atau penggusur pribumi. Olok-olok juga ditujukan kepada muhibbin atau pecinta habaib yang dianggap budak yang bodoh.
Padahal jika mau fair, kiai dan gus yang sikapnya tidak sesuai akhlakul karimah juga ada. Kiai-gus yang jadzab ajaib juga banyak. Hal semacam ini adalah ‘penyakit’ orang-orang yang merasa memiliki kuasa atas agama. Bisa jadi kita juga akan berlaku sama jika memiliki kesempatan.
Tentu semua itu adalah tindakan ekstrem yang justru memperburuk citra umat Islam. Sebenarnya masih jauh lebih banyak para habaib Ba’alawi yang berhaluan moderat, seperti Habib Jindan pemimpin Yayasan Fachriyah Tangerang, serta murid beliau Husein Ja’far Al Hadar yang belakangan dikenal dengan program toleransi beragama dan kolaborasinya dengan pemuda lintas iman; Prof Alwi Shihab penulis buku berjudul: Islam Inklusif. Pemerintah dan pemuka agama sudah seharusnya bertindak untuk mencegah perpecahan ulama dan habaib yang selama ini lebih banyak menjalin hubungan secara harmonis dalam hubungan sebagai santri-guru maupun kekerabatan.
Alih-alih meributkan nasab dan berkonflik hingga seekstrem itu. Apalagi sampai membuat ketidaknyamanan masyarakat akar rumput, semestinya tokoh-tokoh agama yang menyandang gelar gus, ustadh, kiai, atau habib itu bersaing atau berlomba dalam pelayanan kepada umat Islam.
(AN)





Comments are closed.