Di banyak pusat perbelanjaan, stasiun, bandara, gedung perkantoran, hingga tempat wisata, ruangan khusus untuk merawat bayi bukan diberi nama “nursery room (ruang perawatan)”.
Ruangan kecil dengan sofa empuk, wastafel, meja ganti popok, dan ilustrasi ibu menggendong bayi kadang diberi nama serupa: “mother’s room”, “ruang ibu dan anak”. Di depan pintunya kerap tertulis larangan bagi laki-laki untuk masuk. Sebagian bahkan menampilkan simbol perempuan secara dominan, seolah ruang itu sepenuhnya milik ibu.
Pada titik tertentu, penamaan tersebut tampak biasa saja. Bahkan dianggap wajar karena menyusui memang dilakukan oleh perempuan. Namun di balik istilah yang tampak sederhana itu, tersembunyi cara pandang sosial yang lebih besar: asumsi bahwa kerja perawatan anak adalah kodrat perempuan, sementara laki-laki ditempatkan sebagai pihak luar dari urusan mengasuh dan merawat.
Bahasa tidak pernah netral. Penamaan ruang publik selalu membawa ideologi tertentu tentang siapa yang dianggap pantas berada di dalamnya dan siapa yang tidak. Ketika ruang mengganti popok, menenangkan anak yang menangis, atau sekadar memberi makan bayi diberi nama “mother’s room”, maka publik sedang diberitahu bahwa pekerjaan itu terutama milik ibu. Bahkan ketika fasilitas di dalamnya tidak hanya berkaitan dengan menyusui, melainkan juga aktivitas pengasuhan umum seperti mengganti popok atau menidurkan anak, laki-laki tetap dianggap tidak relevan dalam ruang tersebut.
Akibatnya, ayah yang datang sendirian bersama anak sering kebingungan mencari tempat mengganti popok karena takut dianggap melanggar aturan. Ada pula laki-laki yang dipelototi ketika mencoba masuk ke ruang tersebut untuk merawat bayinya sendiri. Dalam banyak kasus, laki-laki akhirnya memilih menyerahkan seluruh kerja pengasuhan di ruang publik kepada pasangan perempuan mereka.
Baca juga: ‘1 Kakak 7 Ponakan’, Kisah Kerja Perawatan dan Pengorbanannya
Situasi ini memperkuat pembagian kerja berbasis gender yang timpang: perempuan menjadi pihak yang otomatis bertanggung jawab atas tubuh, kebutuhan, dan kenyamanan anak, sementara laki-laki dapat tetap menjadi “pembantu” dalam pengasuhan, bukan pelaku utama yang memiliki tanggung jawab setara.
Padahal feminisme sejak lama mengkritik bagaimana kerja perawatan atau care work dipinggirkan sekaligus dibebankan secara tidak proporsional kepada perempuan. Pemikir feminis seperti Silvia Federici dan Nancy Fraser menjelaskan bahwa kapitalisme modern berdiri di atas kerja reproduksi sosial yang tidak dibayar, mulai dari melahirkan, merawat anak, membersihkan rumah, hingga merawat anggota keluarga yang sakit. Kerja-kerja ini dianggap “alami” dilakukan perempuan sehingga sering tidak diakui sebagai kerja sungguhan.
Penamaan “mother’s room” memperlihatkan bagaimana logika tersebut masih hidup di ruang publik modern: negara, perusahaan, dan masyarakat mengakui kebutuhan ruang perawatan, tetapi tetap menempatkan perempuan sebagai subjek utama—bahkan satu-satunya subjek—dalam kerja tersebut.
Ironisnya, di saat perempuan didorong untuk aktif bekerja di ruang publik, tanggung jawab domestik tetap melekat pada tubuh mereka. Banyak perempuan yang harus membawa bayi ke pusat perbelanjaan atau tempat umum sambil tetap memastikan kebutuhan anak terpenuhi karena pasangan laki-laki tidak dianggap memiliki kompetensi atau tanggung jawab yang sama. Ruang “mother’s room” lalu menjadi simbol bagaimana masyarakat ingin perempuan hadir di ruang publik tanpa benar-benar membebaskan mereka dari beban domestik.
Di sisi lain, larangan laki-laki masuk ke ruang perawatan juga lahir dari realitas yang tidak bisa diabaikan: ruang publik memang sering tidak aman bagi perempuan dan anak. Banyak perempuan merasa lebih nyaman jika ruang menyusui dibatasi karena takut mengalami pelecehan seksual, pengintaian, voyeurisme, atau ancaman lain dari laki-laki. Kekhawatiran ini bukan paranoia tanpa dasar. Kekerasan seksual di ruang publik sangat nyata dan dilakukan mayoritas oleh laki-laki. Dalam konteks itu, ruang khusus perempuan sering dipahami sebagai bentuk perlindungan minimum di tengah dunia yang belum aman.
Baca juga: ‘Harus Berhenti Kerja, Urus Orang Tua’ Kerja Perawatan Masih Dipikul Perempuan
Namun di sinilah kontradiksinya. Perempuan akhirnya harus terus menanggung beban pembatasan akibat kekerasan yang dilakukan laki-laki. Alih-alih membangun budaya pengasuhan setara dan ruang publik yang aman, solusi yang diambil justru memisahkan perempuan ke ruang khusus sambil tetap mempertahankan asumsi bahwa laki-laki adalah ancaman potensial sekaligus bukan pelaku utama pengasuhan. Akibatnya, perempuan menanggung dua beban sekaligus: beban merawat anak dan beban menjaga keselamatan diri serta anak dari kemungkinan kekerasan laki-laki.
Asumsi lain yang juga bekerja adalah keyakinan patriarkal bahwa laki-laki tidak cocok melakukan kerja perawatan. Sejak kecil, anak laki-laki sering dibesarkan jauh dari aktivitas mengasuh. Mereka jarang diajarkan mengganti popok, menenangkan bayi, atau memahami kebutuhan emosional anak.
Ketika dewasa, ketidakmampuan itu kemudian dianggap “alami”. Banyak laki-laki dipuji berlebihan hanya karena menggendong anak sendiri di ruang publik, sesuatu yang sebenarnya merupakan tanggung jawab dasar sebagai orang tua. Sebaliknya, perempuan yang melakukan hal sama dianggap sekadar menjalankan kewajiban.
Budaya ini menciptakan lingkaran setan. Karena laki-laki dianggap tidak kompeten dalam pengasuhan, fasilitas publik dibuat berpusat pada perempuan. Karena fasilitas publik berpusat pada perempuan, laki-laki semakin jarang terlibat dalam pengasuhan sehari-hari. Ketimpangan itu kemudian dianggap bukti bahwa perempuan memang lebih cocok menjadi pengasuh utama.
Perspektif feminis interseksional juga penting digunakan untuk melihat persoalan ini. Tidak semua keluarga terdiri dari ibu heteroseksual dan ayah heteroseksual. Ada ayah tunggal yang mengasuh anak sendiri. Ada pasangan sesama jenis. Juga ada kakek, paman, atau saudara laki-laki yang menjadi pengasuh utama anak. Ada pula orang tua trans dan nonbiner yang tidak merasa terwakili oleh istilah “mother’s room”. Ketika ruang publik hanya membayangkan ibu sebagai satu-satunya pengasuh sah, maka kelompok-kelompok lain ikut terpinggirkan.
Baca juga: Mengakui Kerja-Kerja Caregiver dengan Perspektif Feminis
Selain itu, penamaan “mother’s room” sering memusatkan fungsi ruang hanya pada menyusui, padahal kebutuhan pengasuhan jauh lebih luas. Bayi perlu diganti popoknya. Anak kecil perlu ditenangkan. Balita perlu ruang istirahat. Semua aktivitas itu bisa dilakukan oleh siapa pun yang menjadi pengasuh, tidak terbatas pada ibu biologis. Dengan kata lain, banyak ruang yang disebut “mother’s room” sebenarnya adalah ruang perawatan keluarga, tetapi tetap diberi nama yang membatasi peran pengasuhan pada perempuan.
Karena itu, mengganti nama menjadi “family room” atau “family care room” dapat menjadi langkah simbolik sekaligus politis yang penting. Perubahan nama mungkin tampak kecil, tetapi bahasa membentuk cara masyarakat memahami peran sosial. Ketika ruang itu disebut “family room”, publik mulai diajak melihat bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab bersama, bukan tugas perempuan semata.
Namun perubahan nama saja tidak cukup. Ruang tersebut tetap perlu dirancang dengan perspektif keamanan dan kenyamanan perempuan. Salah satu solusi yang lebih adil adalah membuat ruang keluarga yang inklusif dengan area menyusui privat di dalamnya. Artinya, laki-laki atau pengasuh lain tetap dapat masuk untuk mengganti popok, menenangkan anak, atau mengurus kebutuhan bayi. Tetapi perempuan yang ingin menyusui tetap memiliki ruang tertutup dan aman. Dengan desain seperti itu, hak perempuan atas privasi tetap terlindungi tanpa mengecualikan laki-laki dari kerja pengasuhan.
Lebih jauh lagi, ruang publik perlu berhenti menganggap keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan sebagai bonus moral. Laki-laki bukan “membantu istri” ketika merawat anak mereka sendiri. Mereka sedang menjalankan tanggung jawab yang setara. Kampanye publik, kebijakan tempat kerja, hingga desain fasilitas umum harus bergerak ke arah yang sama: membangun budaya pengasuhan kolektif dan egaliter.
Baca juga: Survei AJI: Hanya 4 media yang Punya Ruang Menyusui
Di beberapa negara, konsep family room sudah mulai diterapkan dengan fasilitas yang lebih inklusif. Meja ganti popok ditempatkan juga di toilet laki-laki. Ruang keluarga dapat diakses semua pengasuh. Ayah membawa bayi tidak lagi dipandang aneh. Perubahan semacam ini penting karena pengasuhan bukan sekadar urusan domestik pribadi, melainkan bagian dari struktur sosial yang menentukan bagaimana gender bekerja dalam masyarakat.
Selama ruang publik terus menamai kerja perawatan sebagai urusan “ibu”, selama itu pula perempuan akan terus dianggap penanggung jawab utama pengasuhan. Dan selama laki-laki tetap diposisikan sebagai pihak luar dalam kerja perawatan, ketimpangan gender akan terus direproduksi bahkan melalui hal-hal yang tampak sepele seperti papan nama di depan sebuah ruangan kecil.
Pada akhirnya, kritik terhadap istilah “mother’s room” bukan berarti menolak kebutuhan perempuan akan ruang aman dan privat untuk menyusui. Kritik ini justru ingin memperluas tanggung jawab pengasuhan agar tidak terus dibebankan hanya kepada perempuan. Feminisme tidak sedang meminta perempuan kehilangan ruang aman mereka, melainkan menuntut dunia yang membuat kerja perawatan menjadi tanggung jawab bersama sekaligus menciptakan ruang publik yang aman bagi semua.
Sebab anak bukan hanya milik ibu. Dan merawat anak seharusnya tidak pernah dianggap semata-mata pekerjaan perempuan.





Comments are closed.