Indonesia memindahkan ibu kota pemerintahan dari Jakarta yang padat dan terancam tenggelam ke Kalimantan Timur. Ambisi ini mulai mengubah bentang hutan tropis yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati serta masyarakat adat yang telah hidup berdampingan dengannya secara turun-temurun.
Di tengah pembangunan yang terus berlangsung, Abidin, seorang tetua adat Balik, menyaksikan gedung-gedung menjulang dan riuh mesin menghadirkan lanskap yang terasa asing di tengah hutan leluhurnya.
Ia berpacu dengan waktu bersama para peneliti untuk merekam suara-suara hutan sebelum perlahan tergantikan oleh bunyi-bunyi kota. Kicau burung, suara mamalia, dan dengung serangga menjadi bagian dari arsip akustik hutan.
Bagi para peneliti, arsip suara ini membantu memantau satwa liar, mengidentifikasi spesies, dan memahami bagaimana ekosistem merespons perubahan yang dipicu pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN)
Namun bagi Abidin dan masyarakat Balik, maknanya melampaui data ilmiah. Setiap bunyi menyimpan pengetahuan leluhur, ingatan kolektif, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan rekaman-rekaman itu, mereka menjaga jejak suara hutan yang mungkin kelak tak terdengar sama lagi.





Comments are closed.