Judul Buku: Kesetiaan adalah Jalan yang Sepi: 65 Tahun Karlina Supelli
Penulis: Joko Priyono
Penerbit: Penerbit Doa Ibu
Tahun Terbit: 2023
Tebal: xiv + 113 Hlm.
Mubadalah.id – “Saya bukan hanya punya imajinasi, tapi juga harapan. Sebab, hidup tanpa harapan akan berhenti. Merawat imajinasi dan harapan sambil kita terus berproses dan kita melakukan apa pun sesedikit mungkin untuk ikut menjelmakan imajinasi itu.” (Kompas.id, 06/08/2024).
Untaian kalimat bernada optimistis tersebut meluncur sebagai bentuk apresiasi dari seorang filsuf dan astronom perempuan Indonesia, Karlina Supelli. Ia telah mempresentasikan penelitian tujuh anak tentang identitas Indonesia. Bagi Karlina, imajinasi menempati posisi krusial dalam dunia anak-anak. Melalui imajinasi, seseorang dituntun untuk melihat realitas dengan cara yang berbeda. Sekaligus menjadi pintu masuk untuk menyelami isi bacaan secara lebih mendalam.
Refleksi atas pentingnya menjaga kedalaman berpikir ini, mengingatkan saya pada garapan fisikawan partikelir sekaligus esais populer, Joko Priyono. Buku itu berjudul Kesetiaan adalah Jalan yang Sepi: 65 Tahun Karlina Supelli (2023). Buku ini, secara garis besar membahas rekam gagasan Karlina Supelli di berbagai media massa mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Membaca lembar demi lembar buku ini, setidaknya akan memunculkan kesadaran mendesak akan pentingnya aktivitas membaca dan menulis sebagai bentuk keberpihakan nyata seseorang pada ilmu pengetahuan.
Keberpihakan pada ilmu pengetahuan, semakin menemukan tantangan terbesarnya pada hari ini. Karena bagaimana pun, di era digital yang serba instan ini, tradisi literasi kian tergeser oleh kepungan video pendek dan kecanggihan Artificial Intelligence (AI). Kita dimanjakan oleh kemudahan mengakses informasi dalam hitungan detik tanpa perlu melewati proses berpikir yang panjang.
Namun demikian, kepraktisan tersebut, masih menyimpan bom waktu yang dapat mengikis esensi ilmu pengetahuan itu sendiri. Terutama di saat dunia kian menuntut penguasaan teknologi yang lebih kompleks.
Jebakan Ketergantungan
Urgensi untuk merawat kapasitas berpikir kritis, sebagaimana yang Karlina Supelli harapkan, terasa kian kontekstual ketika kita tarik pada realitas hari ini. Dalam artikel opini yang berjudul Dilema Nuklirisasi Asia Tenggara (Kompas.id, 12/07/2026), Muhadi Sugiono memaparkan sebuah ironi besar.
Pasalnya, menurut Sugiono pesatnya lonjakan kebutuhan energi di Asia Tenggara saat ini justru terpicu secara agresif oleh ledakan teknologi AI dan pengoperasian ribuan pusat data. Akibat logis dari fenomena ini, telah menjadikan kawasan regional terpaksa melompat ke perkembangan energi nuklir yang sarat risiko.
Satu hal yang perlu kita ingat dari tulisan Sugiono terkait nuklir, adalah peringatannya: bahwa dalam mengadopsi teknologi PLTN, sebuah negara tidak boleh sekadar tergiur oleh aspek pembiayaan murah. Akan tetapi juga wajib mengutamakan pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan transfer teknologi.
Dari apa yang Sugiono sampaikan di atas, kita berhadapan dengan bejibun persoalan rumit yang berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis di era kepungan video pendek dan kecerdasan buatan. Bagaimana mungkin transfer teknologi tingkat tinggi dapat terwujud jika generasi muda kian kehilangan ketekunan membaca buku-buku tebal dan merumuskan gagasan secara reflektif?
Tentunya, tanpa pondasi literasi yang kuat, kapasitas generasi bangsa pun akan rapuh. Akibatnya, alih-alih mencapai kedaulatan teknologi, lompatan nuklir yang kita butuhkan saat ini, justru berisiko menjadi jebakan menuju ketergantungan geopolitik jangka panjang terhadap negara-negara pemasok teknologi asing yang sudah lebih berpengalaman.
Sisi Politis Teknologi
Di dalam buku Kesetiaan adalah Jalan yang Sepi, terdapat satu bagian esai menarik berjudul “PLTN” yang merekam ketajaman Karlina dalam membedah persinggungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan politik. Karlina mengamati bahwa dalam pelbagai forum diskusi mengenai PLTN di Indonesia, ruang pembicaraan kerap dominan secara sepihak oleh lembaga pemerintah dan kalangan industri (hlm. 69).
Melalui kritik tersebut, Karlina menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya tidak pernah netral. Ia menulis secara lugas:
“Teknologi bukan pelayan netral masyarakat. Mengatakan bahwa pemerintah memilih teknologi demi memenuhi kebutuhan masyarakat, merupakan omong kosong yang besar.”
Pendeknya, Karlina mewanti-wanti agar mengambil kebijakan teknologi tidak berdasarkan kalkulasi politik pragmatis kelompok tertentu yang mengorbankan hajat hidup orang banyak.
Dalam esai lain yang berjudul “Sesudah Roda Berputar”, Karlina menyodorkan alternatif logis bahwa Indonesia sesungguhnya merupakan lumbung energi terbarukan—mulai dari angin, surya, hidro, biomassa, hingga panas bumi—yang tidak akan habis terproduksi.
Namun, pemanfaatan potensi alam ini masih jauh di bawah potensinya. Karakteristik geografis Indonesia sangatlah jelas, yang menurut Karlina, berbeda dari Korea Selatan atau Taiwan yang miskin sumber daya energi primer. Sehingga menjadi sebuah kejanggalan berpikir ketika Indonesia justru bersikeras meniru mentah-mentah perkembangan pemakaian PLTN dari kedua negara tersebut (hlm. 71-72).
Memilih Jalan Sepi
Melalui jalinan pemikiran yang terhimpun dalam buku ini, Joko Priyono telah berhasil menggaungkan kembali nasihat epik Karlina Supelli: bahwa kesetiaan pada ilmu pengetahuan adalah jalan yang sepi.
Menjadi setia—sebagaimana nasihat dan teladan hidup Karlina Supelli—berarti rela menepi demi membaca secara mendalam, tekun menulis secara reflektif, serta berani menyuarakan kebenaran ilmiah di hadapan arus kebijakan yang bias kepentingan.
Buku ini pada akhirnya melempar alarm keras bagi pembacanya. Bahwa kedaulatan ilmu pengetahuan bangsa ini tidak akan pernah bisa terawat dengan mentalitas instan penikmat teknologi. Ia hanya bisa terjaga oleh manusia-manusia tangguh yang memilih meniti jalan sepi literasi, demi merawat imajinasi, memelihara harapan, dan memastikan nalar publik tetap tegak berdaulat. []





Comments are closed.