Studi terbaru dari Pusat Pengendalian Tembakau Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Magelang (MTCC UNIMMA) mematahkan narasi sesat industri tembakau yang mengatasnamakan petani sebagai tameng penolak regulasi menaikkan cukai rokok. Sejumlah argumentasi yang digadang-gadang industri seperti kerugian petani akibat kenaikan bea cukai, petani tidak bisa beralih dari tembakau, hingga pengendalian tembakau menjadi ancaman utama bagi petani, tidaklah sesuai realita di lapangan.
Dalam pemaparannya, peneliti MTCC UNIMMA Nugroho Agung Prabowo menyatakan petani selalu dihadapkan pada situasi di dekatnya. Salah satu faktor penyebabnya, kata Agung, adalah penurunan produksi tembakau namun industri tetap mengandalkan impor.
Sepanjang tahun 2025, total produksi tembakau di Indonesia sebesar 248,80 ribu ton, menurun 1,49 persen dari tahun sebelumnya. Sementara, data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan sepanjang Agustus 2023 hingga Agustus 2025 impor tembakau mencapai 363.456 ton atau meningkat 21 persen. Peningkatan nilai impor tembakau tahun 2025 bahkan mencapai 50 persen dari total produksi dalam negeri.
“Harga ditentukan sepihak oleh pengepul maupun industri rokok. Petani tidak punya kesempatan menjual dengan harga yang pantas. Hari per hari, bahkan jam per jam itu fluktuatif sekali,” ujar Agung dalam konferensi pers kajian MTCC UNIMMA yang berjudul “Membangun Dialog tentang Masa Depan Petani Tembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau” di Magelang, Rabu 17 Juni 2026.
Ironisnya, kata dia, meskipun menjadi daerah penghasil tembakau terbesar di Jawa Tengah, hasil studi MTCC menunjukkan petani Magelang dan Temanggung selalu merugi dari tahun ke tahun. Belum lagi faktor iklim seperti curah hujan yang berdampak signifikan terhadap produktivitas tembakau. Agung berkaca pada pengalaman pribadinya sebagai anak petani tembakau yang tumbuh dalam pabrik menanam tembakau di Temanggung.
“Menanam tembakau itu ibarat seni. Waktu saya kecil mengamati bapak saya, penanaman tembakau ditentukan waktu pemetikan, kapan dijemur, kualitasnya berbeda,” kata Agung.
Namun, ucap dia, budaya menanam tembakau kini perlahan beralih dan petani sudah mulai beralih ke tanaman lain atau melakukan diversifikasi. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam budi daya tembakau semakin menurun. Di Magelang, misalnya, per tahun 2025, terjadi penurunan sebesar 71 persen dengan 9.821 petani beralih ke tanaman nontembakau dari total jumlah sebanyak 13.713 petani yang tersebar di 20 desa pada tahun 2022.
“Petani beralih menanam ubi Madusari, kopi Windusari, kacang koro pedang yang bisa dipanen 2 hingga 3 minggu sekali selama 4 bulan dengan 1 are lahan bisa menghasilkan 250 kilogram atau 25.000 kilogram per hektare,” kata dia.
Tahun lalu, ujar Agung, petani Magelang mulai mengembangkan penanaman sorgum. Hal ini menegaskan kesejahteraan petani dapat diperoleh dari jalur nontembakau. Asumsi bahwa tembakau bisa memberikan keuntungan jangka panjang, menganggap menanam tembakau sebagai warisan budaya masih sulit didobrak.
“Di sebagian daerah Magelang dan Temanggung, meski harga untuk petani tidak bagus, petani pasrah karena menanam tembakau mereka anggap sudah mengakar jadi budaya. Apalagi kesulitan air saat kemarau bikin tembakau jadi tanaman pilihan, plus rayuan industri rokok,” kata Agung.
Rayuan yang dimaksud Agung merujuk pada pemberian modal dan bibit agar petani tetap menanam tembakau dengan dalih program kemitraan. Meski begitu, MTCC menginisiasi dua solusi agar petani berdaya yaitu pembuatan embung mini untuk memenuhi kebutuhan air petani untuk diversifikasi dan alih tanam saat musim kemarau.
“Tahun 2023, kami membuat 5 embung mini berukuran 4×10 meter kepada 5 kelompok tani di Kledung, Temanggung, Yang tadi kalau musim kering hanya bisa ditanami di waktu tertentu, sekarang lahan bisa ditanami sepanjang tahun,” tutur Agung.
Selain itu, MTCC UNIMMA membentuk Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah yang menyasar petani generasi muda milenial di berbagai daerah untuk kemiskinan sektor pertanian dan kemandirian ekonomi sejak tahun 2021.
Pesertanya, kata dia, tidak harus anggota Muhammadiyah. Bahkan 70 persennya bukan anggota Muhammadiyah. “Kami tidak membatasi. Materinya kekinian yaitu praktik pertanian modern, juga digital marketing. Bukan hanya Jawa Tengah, tapi sudah ada di 5 provinsi juga di Jawa Timur, NTB, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera,” ujarnya.
MTCC UNIMMA berharap melalui kajiannya berharap kemandirian petani dapat semakin diperkuat. Dengan demikian, kesejahteraan petani dapat meningkat tanpa harus bergantung pada industri tembakau, sementara kebijakan pengendalian tembakau tetap dapat berjalan untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Hasil kajian MTCC UNIMMA itu direspon seluruh kementerian/lembaga baik pusat dan daerah yang hadir dalam konferensi pers itu. Sejumlah pejabat dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) juga mengapresiasi hasil kajian MTCC UNIMMA.
Staf Ahli Produk Hukum Daerah Direktorat Jenderal Otonomi Daerah (Ditjen Otda Kemendagri) Rachmalia menekan pendekatan pengendalian tembakau untuk mengurangi dampak kesehatan dari sisi kebijakan pemda khususnya soal kawasan tanpa rokok (KTR).
“Dalam konteks otonomi daerah, kami mendorong produk hukum daerah mampu menciptakan keseimbangan antara perlindungan kesehatan, kepastian hukum bagi pelaku usaha, perlindungan terhadap masyarakat tidak merokok, peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya merokok, dan peningkatan ekonomi petani dan pelaku usaha terkait,” kata Rachmalia.
Di sisi lain, Rachmalia mengakui adanya tantangan implementasi yang tidak sesuai dengan kebijakan produk hukum daerah sehingga kolaborasi lintas sektor perlu diperkuat.
“Efektivitasnya sangat bergantung pada pengawasan, sosialisasi, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan. Kajian akademik seperti yang dilakukan MTCC jadi masukan penting bagi pemerintah pusat dalam merumuskan kebijakan yang berbasis data,” ujar Rachmalia.





Comments are closed.