Sekitar setengah dari populasi dunia mengalami menstruasi pada suatu waktu dalam hidup mereka. Sehingga, mendukung orang-orang dalam segala keberagaman mereka untuk mewujudkan kesehatan menstruasi dan mengalami menstruasi dengan bermartabat adalah isu global.
Menurut data nasional terbaru, sekitar dua dari lima sekolah (39%) saat ini menyediakan pendidikan kesehatan menstruasi. Artinya banyak orang yang mengalami menstruasi tidak menerima pendidikan kesehatan menstruasi yang sesuai usia sebelum siklus menstruasi pertama mereka.
Kemiskinan menstruasi adalah kurangnya akses atau ketersediaan bahan-bahan menstruasi yang diproduksi secara lokal atau komersial karena kendala keuangan. Kemiskinan menstruasi secara tidak proporsional memengaruhi perempuan yang mengalami menstruasi di negara-negara berpenghasilan rendah, daerah yang terkena konflik, dan lingkungan kemanusiaan lainnya.
Berbagai undang-undang dan kebijakan dapat membantu memberikan pendidikan kesehatan menstruasi yang luas, dan membuat bahan-bahan menstruasi terjangkau. Selain itu, membuat fasilitas sanitasi dapat diterima dan diakses, serta meningkatkan akses ke layanan kesehatan menstruasi.
Kebutuhan yang belum terpenuhi akan perawatan kesehatan menstruasi, bersama dengan stigma dan tabu yang terkait dengan menstruasi, dapat membatasi peluang dan kemampuan perempuan yang mengalami menstruasi untuk mencapai potensi mereka. Ini membuat pilihan hidup mereka sendiri secara bebas, dan menjalani kehidupan yang bermartabat.
Kelompok masyarakat yang kurang terlayani dan mengalami menstruasi memiliki risiko lebih tinggi dari rata-rata untuk mengalami masalah kesehatan menstruasi. Kelompok ini meliputi: penyandang disabilitas intelektual dan/atau fisik, orang yang mengalami tunawisma, penahanan, dan/atau institusionalisasi, dan migran dan orang yang terdampak atau mengungsi akibat konflik, perubahan iklim, dan krisis kemanusiaan lainnya.
Selain itu, ada kelompok remaja dan kaum muda yang tidak bersekolah, buruh tani dan orang yang bekerja di sektor tenaga kerja informal, orang yang hidup dengan HIV, dan masyarakat adat dan orang yang termasuk dalam kelompok ras atau etnis minoritas.
Ada juga orang yang mengidentifikasi diri sebagai lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, atau queer (LGBTIQ+), orang yang pernah mengalami mutilasi genital perempuan, pekerja seks komersial, dan orang yang terpinggirkan secara ekonomi.
WHO mempromosikan menstruasi yang sehat, bermartabat, dan bebas diskriminasi bagi semua orang yang berlandaskan hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan keadilan sosial. WHO bekerja sama dengan negara anggota dan mitra untuk mengatasi kesehatan menstruasi sebagai bagian dari upaya keseluruhannya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan perempuan secara global.
Ini termasuk pengembangan pedoman global tentang kesehatan menstruasi. Pedoman global tentang endometriosis juga sedang dikembangkan. Selain itu, WHO mempromosikan penelitian kesehatan menstruasi yang berupaya mengidentifikasi dan mengangkat pertanyaan-pertanyaan terpenting yang belum terjawab terkait kesehatan menstruasi.
WHO bekerja sama dengan mitra pemerintah dan non-pemerintah untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan menstruasi sebagai isu kesehatan masyarakat global.
WHO mendukung upaya untuk menghasilkan data dan statistik guna mendorong negara anggota dan mitra untuk lebih memperhatikan kesehatan menstruasi, dampaknya, dan faktor penentunya di seluruh kebijakan, layanan, dan pembiayaan kesehatan nasional. Hal ini untuk memastikan bahwa orang yang mengalami menstruasi dalam segala keberagamannya dapat mewujudkan hak mereka atas keselamatan, kendali atas tubuh mereka sendiri, keadilan, dan martabat.





Comments are closed.