Mon,13 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Dulu Ibu Rumah Tangga, Kini Perempuan Dayun Mengelola 25 Hektare Hutan Sosial

Dulu Ibu Rumah Tangga, Kini Perempuan Dayun Mengelola 25 Hektare Hutan Sosial

dulu-ibu-rumah-tangga,-kini-perempuan-dayun-mengelola-25-hektare-hutan-sosial
Dulu Ibu Rumah Tangga, Kini Perempuan Dayun Mengelola 25 Hektare Hutan Sosial
service

Bincangperempuan.com– Setelah mengantar anak ke sekolah, Yurmayenti (49) tak kembali berdiam di rumah. Perempuan asal Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau, itu justru bergegas menuju lahan perhutanan sosial bersama belasan perempuan lain. Di atas hamparan lahan gambut, mereka memulai hari dengan membersihkan gulma, menanam bibit, memanen sayuran, hingga mengangkut hasil panen untuk dipasarkan.

“Kami basic-nya ibu rumah tangga, setelah antar anak ke sekolah langsung kami ke ladang,” tutur Yurmayenti saat ditemui pada Senin (29/6/2026) di Jakarta.

Rutinitas tersebut belum pernah terbayang beberapa tahun lalu. Bersama perempuan lain di desanya, Yurmayenti sebelumnya aktif dalam kelompok Desa Wisma yang kegiatannya antara lain menyulam, mengelola tanaman obat keluarga, dan menanam sayuran untuk kebutuhan rumah tangga.

Perubahan mulai terjadi pada 2023, ketika kelompok tersebut mendapat pendampingan dari Regional Community Forestry Training Center for Asia and the Pacific (RECOFTC), organisasi nirlaba yang mendampingi pengelolaan hutan berbasis masyarakat di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Melalui pendampingan tersebut, kelompok perempuan di Dayun diperkenalkan pada pengelolaan perhutanan sosial, mulai dari pembibitan, budidaya hortikultura, penguatan kelembagaan, hingga pemasaran hasil panen.

Perlahan, kelompok perempuan yang sebelumnya hanya mengurus pekerjaan domestik mulai mengambil peran lebih besar dalam mengelola lahan. Mereka juga bisa menghasilkan pendapatan tambahan dan memimpin kelompok usaha dalam program Hutan Kemasyarakatan (HKm) Mandiri Sejahrera.

Baca juga: Perempuan Penjaga Gurita: Dari Nelayan Pesisir hingga Pengendali Rantai Pasok 

Dari Desa Wisma Menjadi Pengelola Hutan

Awalnya, kelompok HKm Mandiri Sejahtera yang dipimpin Yurmayenti hanya beranggotakan 10 perempuan. Mereka belum pernah mengelola lahan dalam skala besar. Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang kesehariannya berkutat dengan memasak, mengurus anak, dan pekerjaan rumah lainnya. Meski demikian, mereka sepakat untuk mencoba.

“Dengan tidak menyampingkan tugas kami sebagai ibu rumah tangga, kayak masak, mengawasi anak, kami mencoba pergi ke ladang,” kata Yurmayenti.

Pembagian waktu menjadi kunci. Setiap kali ada jadwal penanaman atau panen, informasi disampaikan sehari sebelumnya melalui grup percakapan di WhatsApp. Para anggota kemudian menyesuaikan aktivitas rumah tangga agar tetap bisa turun ke lahan.

“Kalau besok ada penanaman atau panen, sore ini kami kasih info di grup (chat). Jadi ibu-ibu bangun lebih awal supaya pekerjaan rumah selesai dulu,” ujarnya.

Saat ini, kelompok HKm Mandiri Sejahtera yang sebagian besar dikelola oleh perempuan mengurus sekitar 25 hektare lahan di Dayun. Berbagai komoditas ditanam, mulai dari kangkung, bayam, kacang panjang, terong, hingga nanas. Sayuran dipanen hampir setiap hari dengan sistem tanam bergilir, sedangkan nanas mulai dipanen setelah sekitar delapan bulan dan dapat dipetik dua kali dalam sepekan.

Tak hanya bekerja di lahan, para anggota juga ikut memasarkan hasil panen secara langsung maupun melalui media digital Facebook dan Instagram. Adapun, menurut Yurmayenti, permintaan pasar lokal masih sangat tinggi.

“Kalau lokal saja kami sudah kewalahan memenuhi permintaan,” kata dia.

Perempuan pengelola Hutan Kemasyarakatan Mandiri Sejahtera di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau. (Dok. RECOFTC)

Namun, perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Lahan yang mereka kelola berada cukup jauh dari permukiman. Jalan menuju lokasi belum beraspal sehingga setiap anggota harus menggunakan kendaraan umum atau pribadi untuk mencapai kebun. Belum lagi, cuaca yang tak menentu jadi tantangan lain yang harus mereka hadapi di ladang.

“Kalau sudah turun ke lapangan memang panas. Namanya lahan gambut,” ujar Yurmayenti.

Meski demikian, ia mengaku bahwa kebersamaan membuat tantangan tersebut terasa lebih ringan. Upaya yang mereka garap di ladang pun sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Selain membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, pendapatan dari hasil panen memberi ruang bagi para perempuan untuk memiliki penghasilan sendiri. 

Contohnya, dalam panen nanas, pekerja dibayar sekitar Rp600 per buah. Dalam sehari, seorang anggota dapat memperoleh sekitar Rp120 ribu hingga Rp131 ribu, bergantung pada jumlah panen.

“Bisa membantu ekonomi rumah tangga. Bisa nabung, bisa juga buat kebutuhan anak,” tutur ibu rumah tangga berusia 49 tahun itu.

Perempuan pengelola Hutan Kemasyarakatan Mandiri Sejahtera di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau. (Dok. RECOFTC)

Membangun Ruang Kepemimpinan Perempuan

Perubahan yang dialami kelompok Yurmayenti tidak hanya diukur dari luas lahan atau hasil panen, tetapi juga dari meningkatnya kepercayaan diri perempuan untuk mengambil keputusan. Direktur Program Indonesia RECOFTC Gama Galudra mengatakan bahwa aspek itulah yang menjadi tantangan terbesar dalam pendampingan kelompok perempuan dalam mengelola program perhutanan sosial.

“Penguatan kapasitas kepemimpinan perempuan menjadi salah satu hal yang krusial dalam pengelolaan perhutanan sosial,” kata Gama, Senin (29/6/2026) di Jakarta.

Menurut Gama, banyak perempuan belum terbiasa berada di posisi pemimpin karena konstruksi sosial yang selama ini menempatkan laki-laki sebagai pengambil keputusan.

“Ketika bicara penguatan kapasitas perempuan, kita juga perlu membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran perempuan dalam pengelolaan hutan,” ujarnya.

Selain perempuan, RECOFTC juga mendorong regenerasi melalui pelibatan anak muda dalam pengelolaan hutan. Salah satunya Koperasi Pesona Alam Leuwi Hejo yang dikelola oleh anak-anak muda di Bogor, Jawa Barat.

Baca juga: #RebuildingtheCommons: Perempuan Kota Merawat Kehidupan Lewat Kebun Rumahan di Tengah Keterbatasan Ruang

Pengakuan yang Mulai Diberikan

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Catur Endah Prasetiani, mengatakan perempuan telah lama menjadi tulang punggung pengelolaan hasil hutan. Survei yang dikutip kementerian menunjukkan jumlah perempuan yang bekerja di kawasan hutan mencapai dua kali lipat dibanding laki-laki.

“Secara formal yang tercatat di dalam SK memang masih sedikit, tetapi pada dasarnya perempuan memegang peranan kunci dalam pengelolaan perhutanan sosial,” kata Catur, Senin (29/6/2026) di Jakarta.

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan Catur Endah Prasetiani  dan Direktur Program Indonesia RECOFTC Gama Galudra. (Dok. RECOFTC)

Catur menjelaskan, pada 21 April 2026, Kementerian Kehutanan mulai menerbitkan skema yang memungkinkan istri maupun anak perempuan tercantum sebagai anggota resmi dalam SK Persetujuan Perhutanan Sosial. Pada tahap awal diterbitkan enam SK dengan total sekitar 453 anggota kelompok, sekitar 90 persen di antaranya perempuan. Kajian bersama Katadata juga menunjukkan program perhutanan sosial memunculkan sekitar 30 persen jenis pekerjaan baru di tingkat masyarakat.

“Perempuan ini memegang peranan kunci juga di dalam program perhutanan sosial,” ujar Catur.

Di Dayun, kelompok Yurmayenti kini berkembang menjadi 16 anggota dan empat perempuan lain tengah mengikuti pelatihan sebelum bergabung. Bagi perempuan-perempuan di Dayun, hutan bukan lagi sekedar ruang produksi, melainkan telah menjadi ruang belajar, bekerja, dan perlahan mengambil tempat sebagai ruang kepemimpinan perempuan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.