Bincangperempuan.com– Setelah mengantar anak ke sekolah, Yurmayenti (49) tak kembali berdiam di rumah. Perempuan asal Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau, itu justru bergegas menuju lahan perhutanan sosial bersama belasan perempuan lain. Di atas hamparan lahan gambut, mereka memulai hari dengan membersihkan gulma, menanam bibit, memanen sayuran, hingga mengangkut hasil panen untuk dipasarkan.
“Kami basic-nya ibu rumah tangga, setelah antar anak ke sekolah langsung kami ke ladang,” tutur Yurmayenti saat ditemui pada Senin (29/6/2026) di Jakarta.
Rutinitas tersebut belum pernah terbayang beberapa tahun lalu. Bersama perempuan lain di desanya, Yurmayenti sebelumnya aktif dalam kelompok Desa Wisma yang kegiatannya antara lain menyulam, mengelola tanaman obat keluarga, dan menanam sayuran untuk kebutuhan rumah tangga.
Perubahan mulai terjadi pada 2023, ketika kelompok tersebut mendapat pendampingan dari Regional Community Forestry Training Center for Asia and the Pacific (RECOFTC), organisasi nirlaba yang mendampingi pengelolaan hutan berbasis masyarakat di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Melalui pendampingan tersebut, kelompok perempuan di Dayun diperkenalkan pada pengelolaan perhutanan sosial, mulai dari pembibitan, budidaya hortikultura, penguatan kelembagaan, hingga pemasaran hasil panen.
Perlahan, kelompok perempuan yang sebelumnya hanya mengurus pekerjaan domestik mulai mengambil peran lebih besar dalam mengelola lahan. Mereka juga bisa menghasilkan pendapatan tambahan dan memimpin kelompok usaha dalam program Hutan Kemasyarakatan (HKm) Mandiri Sejahrera.
Baca juga: Perempuan Penjaga Gurita: Dari Nelayan Pesisir hingga Pengendali Rantai Pasok
Dari Desa Wisma Menjadi Pengelola Hutan
Awalnya, kelompok HKm Mandiri Sejahtera yang dipimpin Yurmayenti hanya beranggotakan 10 perempuan. Mereka belum pernah mengelola lahan dalam skala besar. Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang kesehariannya berkutat dengan memasak, mengurus anak, dan pekerjaan rumah lainnya. Meski demikian, mereka sepakat untuk mencoba.
“Dengan tidak menyampingkan tugas kami sebagai ibu rumah tangga, kayak masak, mengawasi anak, kami mencoba pergi ke ladang,” kata Yurmayenti.
Pembagian waktu menjadi kunci. Setiap kali ada jadwal penanaman atau panen, informasi disampaikan sehari sebelumnya melalui grup percakapan di WhatsApp. Para anggota kemudian menyesuaikan aktivitas rumah tangga agar tetap bisa turun ke lahan.
“Kalau besok ada penanaman atau panen, sore ini kami kasih info di grup (chat). Jadi ibu-ibu bangun lebih awal supaya pekerjaan rumah selesai dulu,” ujarnya.
Saat ini, kelompok HKm Mandiri Sejahtera yang sebagian besar dikelola oleh perempuan mengurus sekitar 25 hektare lahan di Dayun. Berbagai komoditas ditanam, mulai dari kangkung, bayam, kacang panjang, terong, hingga nanas. Sayuran dipanen hampir setiap hari dengan sistem tanam bergilir, sedangkan nanas mulai dipanen setelah sekitar delapan bulan dan dapat dipetik dua kali dalam sepekan.
Tak hanya bekerja di lahan, para anggota juga ikut memasarkan hasil panen secara langsung maupun melalui media digital Facebook dan Instagram. Adapun, menurut Yurmayenti, permintaan pasar lokal masih sangat tinggi.
“Kalau lokal saja kami sudah kewalahan memenuhi permintaan,” kata dia.

Namun, perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Lahan yang mereka kelola berada cukup jauh dari permukiman. Jalan menuju lokasi belum beraspal sehingga setiap anggota harus menggunakan kendaraan umum atau pribadi untuk mencapai kebun. Belum lagi, cuaca yang tak menentu jadi tantangan lain yang harus mereka hadapi di ladang.
“Kalau sudah turun ke lapangan memang panas. Namanya lahan gambut,” ujar Yurmayenti.
Meski demikian, ia mengaku bahwa kebersamaan membuat tantangan tersebut terasa lebih ringan. Upaya yang mereka garap di ladang pun sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Selain membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, pendapatan dari hasil panen memberi ruang bagi para perempuan untuk memiliki penghasilan sendiri.
Contohnya, dalam panen nanas, pekerja dibayar sekitar Rp600 per buah. Dalam sehari, seorang anggota dapat memperoleh sekitar Rp120 ribu hingga Rp131 ribu, bergantung pada jumlah panen.
“Bisa membantu ekonomi rumah tangga. Bisa nabung, bisa juga buat kebutuhan anak,” tutur ibu rumah tangga berusia 49 tahun itu.

Membangun Ruang Kepemimpinan Perempuan
Perubahan yang dialami kelompok Yurmayenti tidak hanya diukur dari luas lahan atau hasil panen, tetapi juga dari meningkatnya kepercayaan diri perempuan untuk mengambil keputusan. Direktur Program Indonesia RECOFTC Gama Galudra mengatakan bahwa aspek itulah yang menjadi tantangan terbesar dalam pendampingan kelompok perempuan dalam mengelola program perhutanan sosial.
“Penguatan kapasitas kepemimpinan perempuan menjadi salah satu hal yang krusial dalam pengelolaan perhutanan sosial,” kata Gama, Senin (29/6/2026) di Jakarta.
Menurut Gama, banyak perempuan belum terbiasa berada di posisi pemimpin karena konstruksi sosial yang selama ini menempatkan laki-laki sebagai pengambil keputusan.
“Ketika bicara penguatan kapasitas perempuan, kita juga perlu membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran perempuan dalam pengelolaan hutan,” ujarnya.
Selain perempuan, RECOFTC juga mendorong regenerasi melalui pelibatan anak muda dalam pengelolaan hutan. Salah satunya Koperasi Pesona Alam Leuwi Hejo yang dikelola oleh anak-anak muda di Bogor, Jawa Barat.
Pengakuan yang Mulai Diberikan
Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Catur Endah Prasetiani, mengatakan perempuan telah lama menjadi tulang punggung pengelolaan hasil hutan. Survei yang dikutip kementerian menunjukkan jumlah perempuan yang bekerja di kawasan hutan mencapai dua kali lipat dibanding laki-laki.
“Secara formal yang tercatat di dalam SK memang masih sedikit, tetapi pada dasarnya perempuan memegang peranan kunci dalam pengelolaan perhutanan sosial,” kata Catur, Senin (29/6/2026) di Jakarta.

Catur menjelaskan, pada 21 April 2026, Kementerian Kehutanan mulai menerbitkan skema yang memungkinkan istri maupun anak perempuan tercantum sebagai anggota resmi dalam SK Persetujuan Perhutanan Sosial. Pada tahap awal diterbitkan enam SK dengan total sekitar 453 anggota kelompok, sekitar 90 persen di antaranya perempuan. Kajian bersama Katadata juga menunjukkan program perhutanan sosial memunculkan sekitar 30 persen jenis pekerjaan baru di tingkat masyarakat.
“Perempuan ini memegang peranan kunci juga di dalam program perhutanan sosial,” ujar Catur.
Di Dayun, kelompok Yurmayenti kini berkembang menjadi 16 anggota dan empat perempuan lain tengah mengikuti pelatihan sebelum bergabung. Bagi perempuan-perempuan di Dayun, hutan bukan lagi sekedar ruang produksi, melainkan telah menjadi ruang belajar, bekerja, dan perlahan mengambil tempat sebagai ruang kepemimpinan perempuan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.