Fri,10 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Ahli Desak Kota Beradaptasi Hadapi Ancaman Panas Ekstrem

Ahli Desak Kota Beradaptasi Hadapi Ancaman Panas Ekstrem

ahli-desak-kota-beradaptasi-hadapi-ancaman-panas-ekstrem
Ahli Desak Kota Beradaptasi Hadapi Ancaman Panas Ekstrem
service

Jakarta, NU Online

Executive Director Rujak Center for Urban Studies Elisa Sutanudjaja menyampaikan bahwa ancaman pemanasan global yang dipicu oleh kenaikan suhu akibat perubahan iklim, risiko paparan panas juga diperparah oleh fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan yang membuat suhu di kawasan kota lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena kota-kota dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi material seperti beton dan aspal yang menyerap sekaligus menyimpan panas lebih lama.

Elisa menegaskan bahwa upaya menghadapi suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu. Desain rumah, lingkungan, hingga tata kota menjadi faktor penting yang menentukan tingkat paparan panas yang diterima masyarakat.

“Salah satu fenomena yang mendorong peningkatan suhu adalah urban heat island yang memang spesifik terjadi di kawasan perkotaan,” ujarnya dalam Webinar Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino pada Kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan, fenomena tersebut muncul seiring ekspansi kawasan perkotaan yang tidak memperhatikan aspek iklim. Penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas menyebabkan suhu meningkat, sementara aliran angin menjadi lebih lambat sehingga panas terperangkap lebih lama.

“Fenomena ini muncul akibat ekspansi kota yang ditandai dengan penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas, sehingga suhu meningkat. Di saat yang bersamaan, kondisi tersebut juga memperlambat aliran angin,” ujar ahli arsitektur tersebut.

Elisa mendesak wilayah kota perlu melakukan adaptasi melalui desain bangunan yang lebih responsif terhadap iklim dan panas ekstrem. Langkah yang dapat diterapkan antara lain menggunakan konsep passive cooling, memilih material yang tidak menyerap panas secara berlebihan, serta memperbanyak vegetasi dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.

“Rumah ataupun tempat-tempat lainnya sebaiknya ditambahkan untuk vegetasi, karena vegetasi ini bisa menurunkan suhu walau secara mikro di rumah mereka, tapi ini berdampak nyata,” katanya.

Ia menegaskan bahwa perbedaan kondisi lingkungan yang memiliki vegetasi dan yang minim ruang hijau dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

“Jika membandingkan kampung yang setiap rumahnya ada vegetasi dan ruang terbuka hijaunya, dengan yang tidak ada, pasti akan terasa seperti lebih panas,” tuturnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.