Tiga jam setelah hujan turun, air Sungai Sirilanggai mulai meluap hingga menggenangi jalan dan halaman rumah warga Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang siang, banjir sudah lebih dari satu meter. Dapur dan kamar mandi rumah Barnabas Saerejen, tokoh masyarakat Siberut tak luput dari banjir hari itu. “Nanti kalau hujannya berhenti, baru airnya pelan-pelan surut,” katanya, awal Juli. Meski banjir terus meninggi, sebagian warga tetap beraktivitas ke ladang. Mereka melewati banjir dengan berjalan kaki sambil menyandang orek (tas tradisional Suku Mentawai untuk membawa hasil ladang), sedang anak-anak bermain bola di lapangan sekitar kampung. Barnabas bilang, banjir bukan hal baru bagi warga sekitar. Kampung mereka berada di dataran rendah hingga kerap kebanjiran saat sungai meluap. Namun, beberapa tahun terakhir, frekuensi makin meningkat. Dulu, banjir besar hanya terjadi sekali dalam setahun, kini, setiap kali hujan turun dalam dua jam, hampir pasti kebanjiran. Menurut dia, banjir makin sering terjadi sejak hutan di hulu mulai terbuka untuk aktivitas penebangan kayu. Dia tidak bisa memastikan secara ilmiah bahwa pembalakan menjadi penyebab banjir yang semakin sering terjadi. Namun sebagai orang yang lahir dan besar di kampung itu, dia merasakan sendiri perubahan aliran sungai dan kondisi hutan yang berbeda ketimbang puluhan tahun lalu. “Kalau hujan lebih dari dua jam saja, apalagi cukup lebat, kami pasti kebanjiran,” katanya. Banjir besar pada akhir November 2025 menjadi peristiwa yang paling membekas dalam ingatan warga. Selama hampir tiga pekan, banjir merendam sebagian besar Kecamatan Siberut Utara. Rumah-rumah warga terendam, lahan pertanian rusak, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Pada…This article was originally published on Mongabay
Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang
Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang





Comments are closed.