Sejak akhir abad ke-19, manusia kerap mendatangkan satu spesies untuk mengendalikan spesies lain yang dianggap hama. Salah satu contohnya adalah introduksi atau pelepasan garangan kecil India ke sejumlah perkebunan tebu di Jamaika, Hawaii, dan Fiji, antara 1870-an hingga awal 1880-an, dengan tujuan menekan populasi tikus (didominasi Rattus rattus) yang merusak tanaman. Rencana ini terdengar sederhana di atas kertas; garangan adalah predator, tikus adalah mangsa, jadi tinggal melepas garangan dan tikus akan berkurang karena dimangsa garangan. Tapi ternyata, hasilnya jauh dari harapan, dan bahkan sebagian dampaknya masih terasa sampai sekarang.

Perkebunan tebu di pulau-pulau tropis kala itu menghadapi kerugian besar akibat serangan tikus. Sebagai jalan keluar, para pemilik lahan mendatangkan garangan kecil India, yang kini lebih tepat disebut Herpestes auropunctatus, dari wilayah Calcutta, India. W.B. Espeut, pemilik perkebunan di Jamaika, tercatat sebagai orang pertama yang mendatangkannya pada 1872. Hawaii dan Fiji kemudian mendapat garangan dari Jamaika, bukan impor baru dari Asia. Spesies ini sempat dikenal luas dengan nama ilmiah Herpestes javanicus, yang mengandung kata “javanicus” merujuk ke Jawa, meski spesimen introduksi tidak pernah berasal dari Indonesia. Nama itu adalah hasil kekeliruan taksonomi awal yang menganggap garangan Asia Selatan sama dengan garangan Jawa, sebelum keduanya belakangan dipisahkan sebagai dua spesies berbeda. Pada masa introduksi itu, pengetahuan soal perilaku predator masih sangat terbatas, sehingga tidak ada kajian lapangan dulu sebelum garangan benar-benar dilepas ke kebun.
Jadwal Garangan dan Tikus yang Tidak Pernah Bertemu
Yang luput dari perhitungan adalah “jam kerja” masing-masing hewan. Garangan kecil India aktif di siang hari, waktu ketika ia mengandalkan penglihatan untuk berburu. Tikus perkebunan, sebaliknya, keluar mencari makan di malam hari, sebagian besar untuk menghindari panas dan predator. Akibatnya, kedua spesies ini jarang benar-benar bertemu di lapangan. Garangan berburu saat tikus bersembunyi di liang atau celah tanaman, dan tikus baru bergerak keluar setelah garangan kembali ke sarangnya untuk beristirahat.
Ketimpangan jadwal ini bukan sekadar dugaan. Salah satu studi awal yang mendokumentasikannya adalah penelitian entomolog Amerika, David Pimentel, yang meneliti populasi garangan dan tikus di Puerto Rico, sebuah wilayah di Karibia, pada 1950-an. Pimentel membedah isi perut garangan yang ditangkap dan menemukan bahwa tikus hanya menyumbang sebagian kecil dari total makanan garangan, jauh lebih sedikit dari serangga, reptil, dan telur burung. Temuan ini menjadi salah satu bukti lapangan pertama bahwa introduksi garangan tidak bekerja seperti yang diharapkan.

Karena jam aktif yang tidak pernah bertemu itu, populasi tikus di sebagian besar lokasi introduksi tidak turun signifikan dalam jangka panjang, meski garangan sudah berkeliaran di kebun setiap hari. Tinjauan yang dilakukan Samuel Hays dan Sheila Conant, dua peneliti yang menerbitkan kajian komprehensif soal garangan di jurnal Pacific Science , merangkum puluhan studi semacam ini dan menyimpulkan bahwa manfaat garangan sebagai pengendali tikus di pulau-pulau Pasifik jauh lebih kecil dibanding ekspektasi awal para pemilik perkebunan.
Meski begitu, garangan-garangan tersebut tetap bisa bertahan hidup meski gagal memburu tikus secara rutin, karena pola makannya tidak terpaku pada satu jenis mangsa. Sebagai karnivora oportunistik, garangan akan memakan apa pun yang tersedia dan mudah ditangkap di lingkungan sekitarnya. Begitu tikus terbukti sulit dijangkau akibat beda jadwal aktif, garangan beralih ke mangsa lain yang lebih mudah ditemukan di siang hari, seperti burung yang bersarang di tanah, telur burung, serangga besar, dan reptil kecil seperti kadal. Fleksibilitas pola makan inilah yang membuat garangan tetap bertahan dan berkembang biak di lokasi introduksi, meski tujuan awal kedatangannya, yaitu mengendalikan tikus, sebenarnya gagal tercapai.
Dampak yang Bertahan Lebih Lama dari Manfaatnya
Peralihan mangsa inilah yang jadi masalah baru. Burung yang bersarang di tanah, telur burung, reptil kecil, dan amfibi lokal sebagian besar berevolusi di pulau-pulau terisolasi tanpa kehadiran predator mamalia darat sebelumnya. Akibatnya, mereka tidak punya insting menghindar atau mekanisme pertahanan yang memadai saat berhadapan dengan garangan, berbeda dengan mangsa di daratan benua yang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan karnivora sejak lama. Jamaika, Puerto Rico, dan sejumlah pulau Karibia lain mencatat penurunan populasi beberapa spesies burung endemik dan reptil setelah garangan masuk.

Salah satu kasus paling sering dikutip adalah ular racer Antigua (Alsophis antiguae). Dulu ular ini tersebar di daratan utama Antigua, tapi predasi oleh garangan mendorong populasinya nyaris punah, hingga hanya bertahan di satu pulau kecil lepas pantai yang tidak pernah dimasuki garangan. Kasus ini kini jadi salah satu bahan rujukan konservasi ular paling terancam di dunia.
Hawaii mengalami tekanan serupa. Garangan menjadi salah satu ancaman tambahan bagi burung darat endemik yang sebelumnya sudah tertekan oleh hilangnya habitat dan spesies invasif lain, termasuk tikus dan kucing liar. Fiji juga mencatat pola yang sama sejak garangan diperkenalkan pada awal 1880-an, dengan beberapa reptil dan burung lokal mengalami tekanan predasi yang meningkat.
Penelitian menyimpulkan bahwa dampak garangan terhadap satwa liar asli jauh lebih terdokumentasi dan lebih besar dibanding manfaatnya dalam mengendalikan tikus. Garangan kini masuk daftar 100 spesies invasif paling berdampak di dunia versi IUCN, dan tercatat pula di berbagai basis data spesies invasif regional lain. Penyebabnya cukup jelas; reproduksi cepat, pola makan generalis, dan hampir tidak ada predator alami di ekosistem pulau tempat mereka dilepaskan.
**
Reference:
Hays, W. S. T., & Conant, S. (2007). Biology and impacts of Pacific Island invasive species. 1. A worldwide review of effects of the small Indian mongoose, Herpestes javanicus (Carnivora: Herpestidae). Pacific Science, 61(1), 3–16. https://doi.org/10.1353/psc.2007.0006





Comments are closed.