
Kunjungan WWF ke Ujung Kulon/WWF
Upaya badak jawa, mamalia paling langka di dunia yang kini hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon, diperkuat melalui kerja sama antara WWF-Indonesia dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Kolaborasi ini menjadi bagian dari nota kesepahaman antara WWF-Indonesia dan Kementerian Kehutanan pada 2025.
Head Forest & Wildlife Program in Sumatra WWF-Indonesia, Dede Hendra Setiawan, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut telah menghasilkan rencana program lima tahun yang kini memasuki tahun pertama pelaksanaan.
“Kehadiran WWF di Ujung Kulon adalah untuk upaya konservasi yang dilakukan Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Fokus utama kami adalah mendukung pengelolaan kawasan secara memperkuat upaya konservasi badak jawa,” ujar Dede.
Menurutnya, keberhasilan konservasi badak jawa tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. WWF bekerja bersama berbagai mitra lain seperti Yayasan Badak Indonesia (YABI), ALERT, JSI, dan YIARI untuk memastikan perlindungan spesies tersebut berjalan secara berkelanjutan.
Memperkuat Pengelolaan Kawasan dan Habitat Badak Jawa
Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah penguatan kapasitas pengelolaan kawasan konservasi. WWF mendukung peningkatan perencanaan pengelolaan taman nasional, hingga berbagai kegiatan pemantauan satwa liar.
Dukungan tersebut juga mencakup smart patrol di darat dan perairan yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon bersama masyarakat sekitar kawasan. WWF berperan menyediakan dukungan logistik untuk memastikan kegiatan pengamanan kawasan dapat berjalan optimal.
“Tim smart patrol tetap berasal dari Balai Taman Nasional dan masyarakat. WWF mendukung kebutuhan logistiknya agar kegiatan pengamanan kawasan dan pemantauan satwa dapat berlangsung secara konsisten,” kata Dede.
Selain patroli, WWF juga mendukung kegiatan monitoring badak jawa melalui pemasangan dan pengecekan kamera jebak (camera trap). Teknologi ini menjadi salah satu instrumen penting untuk memantau populasi, perilaku, dan kondisi satwa tanpa mengganggu habitat alaminya.
Program lainnya adalah pengelolaan habitat badak jawa. Saat ini populasi badak jawa masih terkonsentrasi di satu wilayah utama di Ujung Kulon. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan berupa keterbatasan sumber pakan dan ruang gerak akibat kepadatan vegetasi.
“Kami mendukung upaya manajemen habitat karena badak jawa menghadapi tantangan keterbatasan pakan dan ruang pergerakan. Habitat yang sehat menjadi kunci keberlangsungan populasi badak jawa di masa depan,” jelas Dede.
Masyarakat Jadi Bagian Penting Konservasi
WWF menilai konservasi tidak hanya berbicara mengenai perlindungan satwa dan kawasan, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat memperoleh manfaat dari keberadaan kawasan konservasi tersebut.
Karena itu, pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu program utama yang terus diperkuat di Ujung Kulon. WWF mendorong pengembangan usaha berbasis konservasi yang memiliki keterkaitan dengan identitas kawasan dan dapat memberikan nilai ekonomi bagi warga.
Salah satu contoh yang pernah dilakukan adalah pendampingan pengrajin lokal untuk mengembangkan kerajinan berbentuk badak jawa dari limbah kayu. Produk tersebut tidak hanya menjadi suvenir khas daerah, tetapi juga membantu memperkenalkan badak jawa sebagai simbol konservasi Ujung Kulon.
“Ekowisata yang baik bukan hanya menghadirkan pengalaman menikmati alam, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi yang selaras dengan upaya konservasi,” ujar Dede.
Dukungan terhadap upaya konservasi di Ujung Kulon juga diperkuat melalui kolaborasi dengan sektor swasta. Salah satu contohnya adalah kemitraan WWF dengan Agoda, yang melalui program Eco Deals turut membantu menghimpun pendanaan untuk mendukung berbagai proyek konservasi satwa liar dan perlindungan habitat di sejumlah destinasi di Asia, termasuk Taman Nasional Ujung Kulon.
Program tersebut diharapkan dapat memperkuat pemantauan satwa liar, pengelolaan kawasan, serta pemberdayaan masyarakat sekitar taman nasional. WWF menilai sektor pariwisata memiliki peluang besar untuk berkontribusi pada pelestarian alam sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Ujung Kulon merupakan salah satu kawasan yang memungkinkan kita menyaksikan kekayaan alam dalam kondisi yang masih sangat alami. Karena itu, menjaga kelestariannya menjadi penting agar generasi mendatang tetap memiliki kesempatan untuk mengenal, menikmati, dan menghargai warisan alam yang berharga ini secara bertanggung jawab,” ujar Boratay Uysal, Senior Sustainability & Inclusion Manager Agoda.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor





Comments are closed.