Anggi Wahyuda. (Foto: YouTube/Good News From Indonesia)
Anggi Wahyuda adalah kreator konten yang kerap mendapat sorotan di media sosial masa ini. Konten-konten yang ia ciptakan berupa kegiatannya berlari dan mendaki gunung dari satu tempat ke tempat lainnya.
Namun, Anggi tidak seperti pelari dan pendaki gunung pada umumnya. Ia hanya memiliki satu kaki setelah kakinya diamputasi seusai kecelakaan menimpanya semasa SMA pada 2015 lalu. Untuk berjalan terlebih mendaki gunung, Anggi pun mesti menggunakan sepasang kruk yang dibawanya ke mana saja.
Kekurangan justru tidak membuat Anggi terpuruk. Semangatnya untuk hidup masih dan bahkan terus menyala sehingga ia menjadi pelari dan pendaki gunung yang istimewa bermodalkan satu kaki yang tersisa.
Tetap Ceria
Kehilangan salah satu anggota tubuh karena insiden jelas membuat siapapun akan bersedih. Termasuk juga Anggi yang mengaku merasakan masa-masa depresi selama dua tahun pascakecelakaan yang menimpanya.
Kondisi psikologisnya semakin berat tatkala Anggi harus memupuskan cita-citanya. Beban bertambah pula karena ia harus beradaptasi dan menenangkan kerabatnya dengan kondisinya yang tidak seperti dulu lagi.
“Orang-orang paling banyak depresi adalah orang yang disabilitasnya karena kecelakaan bukan dari lahir. Kalau dia dari lahir sudah dikuatkan keluarganya. Nah, kalau dia kecelakaan dan sebagainya, dia yang harus nguatin keluarganya dan sebagainya. Makanya berat banget,” ujar Anggi kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Akan tetapi, Anggi berupaya untuk bangkit. Keceriaan terus dibagikannya melalui akun media sosialnya tempat ia berbagi, bertumbuh sekaligus belajar. Kegiatan berlari hingga mendaki gunung memberi pembuktian bahwa ia tetap kuat meskipun berstatus difabel.
“Semakin kita depresi kan enggak buat kita jadi lebih baik, tapi buat kita jadi lebih buruk. Makanya kalau ada masalah udah ketawa aja. Dibilang orang gila enggak apa-apa, kan kita enggak di jalan,” kata Anggi yang kini sudah memiliki ratusan ribu pengikuti di sejumlah platform.
Gunung Binaiya
Anggi sebagai penyandang disabilitas menyadari masih ada diskriminasi kepada dirinya dan orang-orang yang bernasib sama sepertinya. Namun, secara pribadi ia merasa punya tempat yang bebas dari segala diskriminasi yakni di gunung dan ranah stand up comedy.
Di gunung sendiri ia memiliki banyak pengalaman bertemu dan mengenal lebih jauh dengan masyarakat adat. Contohnya saat mendaki Gunung Binaiya di Maluku, di mana Anggi mesti menjalani ritual oleh masyarakat setempat agar proses pendakiannya berjalan lancar.
“Sebelum kita naik gunung itu kita harus diadatin dulu, permisi sama kepala adatnya dan sebagainya untuk keselamatan,” ucap Anggi.
Pendakian ke puncak Gunung Binaiya bagi Anggi memiliki kesan tersendiri. Medan yang terjal dan menantang di gunung tersebut menghadirkan tantangan sendiri bagi pendaki, termasuk pendaki dari orang-orang yang tinggal di sekitar gunung tersebut.
“Orang-orang di sekitar Binaiya aja belum semuanya pernah naik karena mereka takut dengan risikonya, jalurnya, dan hal-hal yang mereka percaya ada di situ. Nah, karena mereka khawatir dan sayang samaku dan mereka percaya, akhirnya mereka bukan melarang aku naik, tapi mendoakan aku di gereja,” ungkapnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.
Tim Editor





Comments are closed.