Tue,14 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun

Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun

tikus-ini-hidup-di-ketinggian-ekstrem-nyaris-7.000-meter,-hidup-di-tanah-vulkanik-yang-penuh-racun
Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun
service

Bertahan hidup di ketinggian ekstrem saja sudah cukup berat bagi kebanyakan mamalia, apalagi jika lingkungan tersebut juga menyimpan ancaman lain yang tidak kalah mematikan. Tikus daun Andes (Phyllotis vaccarum) tidak hanya mampu hidup di puncak gunung berapi setinggi hampir 7.000 meter, tempat suhu nyaris selalu berada di bawah titik beku dan oksigen sangat tipis, tikus ini juga harus bertahan dari racun yang terkandung dalam tanah vulkanik dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 9 Juli 2026 mengungkap bagaimana mamalia kecil ini menjadi salah satu makhluk paling tangguh di dunia, dengan sebaran hidup terluas dari permukaan laut hingga puncak Andes. Puncak Gunung Berapi Salín (6.029 meter), salah satu lokasi penemuan tikus daun Andes di ketinggian ekstrem. Foto: Jay Storz Populasi tikus daun Andes yang hidup di puncak gunung berapi Llullaillaco, di perbatasan Argentina dan Chili, bertahan pada ketinggian 6.739 meter, tempat tekanan udara hanya 45 kilopascal, setara dengan kadar oksigen sekitar 44 persen dari yang tersedia di permukaan laut. Penelitian yang dipimpin oleh Schuyler Liphardt bersama tim dari University of Nebraska-Lincoln dan sejumlah institusi lain ini menggabungkan eksperimen fisiologis dengan analisis genom untuk memahami mekanisme adaptasi tikus daun Andes. Sebelum temuan ini, ketinggian seperti itu diyakini berada di luar batas kemampuan bertahan hidup mamalia mana pun, bahkan pendaki manusia yang terlatih dan teraklimatisasi hanya sanggup menahan kadar oksigen serendah itu selama pendakian satu hari, bukan untuk hidup menetap. Produksi Panas Tubuh yang Lebih Efisien Tim peneliti menguji kemampuan bernapas dan menghasilkan panas tubuh tikus dari populasi…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.