Siang itu, akhir Juni lalu, air laut di Pantai Ciberi mulai bergelombang pasang surut, dedaunan tertiup angin, sebagian sampah plastik terbang masuk ke laut Teluk Youtefa. Hanya sekitar 100 meter dari situ, ada para perempuan adat Suku Enggros-Tobati menjaga dan melestarikan hutan mangrove di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua setiap hari. Tiap hari, saat air surut, Persila Sanyi bersama perempuan adat Suku Enggros-Tobati yang lain pergi ke hutan mangrove yang mereka sebut hutan perempuan. Hanya perempuan yang boleh mengunjungi kawasan itu dan pergi tanpa busana. Tradisi ini mereka sebut tonot wiyat atau hutan perempuan. Tonot artinya hutan bakau dan wiyat berarti ajakan. Tradisi ini mengajak para perempuan Enggros Tobati untuk mengunjungi hutan mangrove. “Di dalam hutan itu ada budaya yang kami jaga, yang kami pelihara. Yang kami lestarikan itu bagaimana perempuan, ketika ada di dalam hutan, perempuan beraktivitas tidak menggunakan busana. Jadi di situlah kebebasan perempuan didapat,” ujar Mama Persila, di Kampung Enggros, Kamis (14/5/26). Perempuan adat Enggros membudidaya mangrove yang sudah ditanam di hutan perempuan, di Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua. Foto: Larius Kogoya/Mongabay. Indonesia Tiap hari, mereka ke hutan perempuan ketika air surut. Mereka mencari bia (kerang), kepiting, udang, burung, kayu bakar dan ikan. Biasanya di hutan perempuan mereka sambil bercerita, tertawa dan bertukar pikiran. “Perempuan merasakan kebebasan sepenuhnya di hutan perempuan. Hutan itu juga menjadi ruang belajar dan pendidikan di hutan bakau,” katanya. Kadang-kadang, mereka juga membuat bibit mangrove, lalu menanamnya. Enggros menjadi satu dari beberapa kampung di Kota Jayapura, seperti Kampung Tobati, Kayo Pulo,…This article was originally published on Mongabay
Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman
Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman




Comments are closed.