
Erwin Ojol sekolahkan 150 anak
Saya baca soal Erwin sekilas saja. Satu paragraf sambil lalu. Driver ojek online, penghasilan tidak menentu, menyisihkan uangnya untuk membiayai sekolah 150 anak.
Tapi satu paragraf itu cukup membuat saya kemudian berhenti dan berpikir lebih lama dari biasanya.
Bukan karena sangat luar biasa, justru karena ceritanya sederhana. Penghasilan seorang ojol jelas tidak besar, tapi hatinya ternyata sanggup menanggung lebih dari sekadar kebutuhannya sendiri. Kesenjangan antara penghasilan dan niatnya ini yang menggelantungi pikiran saya.
Kira-kira begini logikanya. Erwin, menurut informasi yang beredar, berpenghasilan sekitar Rp50 ribu sampai Rp75 ribu sehari, katakanlah rata-rata Rp60 ribu. Sebulan, kalau dia kerja tanpa libur, penghasilannya sekitar Rp1,8 juta. Dari angka sekecil itu, dia beserta rekan-rekannya masih berusaha mengumpulkan Rp15 juta setiap bulan untuk operasional sekolah 150 anak.
Saya tidak tahu persis berapa yang benar-benar berasal dari kantong Erwin sendiri, karena itu tidak terlalu penting. Yang penting bagi saya adalah keputusannya: dia memilih menyisihkan, bukan menyimpan. Padahal, dari sisi kebutuhan pribadi, dia sendiri jelas belum berada di posisi mapan secara ekonomi.
Kenapa Banyak Orang Kecil Sering Bergerak Lebih Dulu
Ini yang menurut saya pantas dipikirkan bersama, bukan sekadar dikagumi lalu kemudian dilupakan.
Saya sering memperhatikan pola ini di banyak tempat. Orang yang paling banyak bicara soal keadilan sosial biasanya bukan orang yang paling dulu bertindak. Sebaliknya, orang yang paling dulu bertindak sering justru orang yang posisinya sendiri belum aman.
Erwin contohnya. Dia pernah putus sekolah karena keluarganya tidak mampu. Pengalaman itu yang membuat dia bergerak, bukan menunggu penghasilannya stabil dulu, bukan menunggu punya tabungan cukup dulu. Dia jalan dengan apa yang ada, hari itu juga.
Saya kira ini yang membedakan niat dari tindakan. Niat baik itu murah. Banyak orang punya niat baik. Yang mahal adalah keputusan untuk mulai duluan, sebelum keadaan ideal, sebelum ada jaminan hasilnya akan cukup.
Ketika cerita Erwin viral, saya perhatikan komentar warganet cukup beragam. Ada yang memuji dengan sederhana. Ada yang nge-tag pemerintah, membandingkan niat seorang ojol dengan program pemerintah yang menurut mereka kalah nyata. Saya tidak mau ikut menghakimi program pemerintah lewat perbandingan seperti itu, karena skalanya memang berbeda. Tapi sindiran itu tetap mengandung poin yang layak dipikirkan. Program besar tak jarang berhenti di tahap rencana, evaluasi, rapat lanjutan. Sementara inisiatif seperti yang didirikan Erwin sudah berjalan dan langsung terasa dampaknya pada anak-anak yang duduk di dalamnya.
Perbedaannya bukan soal siapa lebih baik, melainkan siapa lebih dulu bergerak dengan sumber daya yang ada, dibanding menunggu sumber daya itu sempurna dulu.
Saat ini penggalangan dana untuk kelompok belajar yang didirikan Erwin dan rekan-rekannya mungkin sudah mendapatkan ribuan donatur. Saya kira ini bukan semata soal keberuntungan viral. Orang cenderung lebih mudah percaya dan ikut bergerak, ketika mereka melihat ada yang sudah bergerak lebih dulu, dengan cara yang bisa mereka lihat sendiri hasilnya.
Erwin sendiri, dalam salah satu ucapannya, hanya berharap anak-anak yang dibantunya punya kehidupan lebih baik dibanding dirinya. Harapan itu kecil, tidak muluk-muluk, dan mulia.
Tapi saya kira harapan sekecil itu, yang benar-benar diusahakan setiap hari lewat cara yang konkret, biasanya jauh lebih berdampak dibanding harapan besar yang hanya diucapkan sesekali. Hati yang mampu berbagi ternyata tidak menunggu kantong penuh dulu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.
Tim Editor





Comments are closed.