Bulan Safar masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos dan anggapan tentang datangnya kesialan. Padahal, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk takut kepada waktu tertentu. Sebaliknya, bulan Safar seharusnya diisi dengan amal-amal yang bermanfaat, seperti memperbanyak kebaikan, menjaga hubungan dengan tetangga, membantu sesama, dan membiasakan diri bersedekah.
Naskah khutbah kali ini berjudul, “Safar Bukan Bulan Sial”. Untuk mencetak naskah khotbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ لِيُكَلِّفَهُمْ أَنْ يُوَحِّدُوهُ وَيَعْبُدُوهُ وَيُقَدِّسُوهُ وَيُمَجِّدُوهُ وَيَشْكُرُوهُ وَلَا يَكْفُرُوهُ وَيُطِيْعُوهُ وَلَا يَعْصُوهُ وَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُعَزِّرُوهُ وَيُوَقِّرُوهُ وَيُطِيْعُوهُ وَيَنْصُرُوهُ فَأَمَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ بِكُلِّ بِرّؓ وَإِحْسَانؓ وَزَجَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ عَنْ كُلِّ إِثْمؓ وَعُدْوَانؓ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ خَيْرِ الْمُوَحِّدِيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ وَالْحَامِدِيْنَ وَالْعَابِدِيْنَ وَالسَّائِحِيْنَ أَعْرَفِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ عِلْمًا وَعَمَلًا وَكَمَالًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. قال الله تعالى في كتابه الكريم: إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan jalan menuju keselamatan di akhirat.
Kita sedang berada pada bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah. Setiap kali bulan ini datang, masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkannya dengan kesialan, bencana, atau ketidakberuntungan. Karena keyakinan tersebut, ada orang yang merasa takut melangsungkan pernikahan, memulai usaha, melakukan perjalanan, atau menyelenggarakan kegiatan penting pada bulan Safar.
Keyakinan semacam itu perlu diluruskan. Dalam Islam, tidak ada bulan yang dengan sendirinya membawa kesialan. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Baik dan buruk yang menimpa manusia tidak bersumber dari nama bulan, hari, atau tanggal tertentu, tetapi terjadi atas ketetapan Allah SWT serta berkaitan dengan sebab-sebab yang telah ditentukan-Nya.
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya jilid 4 halaman 146, menjelaskan bahwa nama Safar berkaitan dengan keadaan rumah-rumah masyarakat Arab yang menjadi kosong ketika para penghuninya keluar untuk bepergian atau berperang. Penamaan tersebut tidak menunjukkan bahwa Safar merupakan bulan yang buruk atau membawa kesialan.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita harus membedakan antara kehati-hatian yang dibenarkan agama dan ketakutan yang lahir dari mitos. Berhati-hati berarti mempertimbangkan risiko, mempersiapkan diri dengan baik, berdoa, dan bertawakal kepada Allah. Adapun menganggap suatu bulan memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan merupakan keyakinan yang tidak memiliki dasar yang benar.
Sebagian ulama juga mencatat berbagai peristiwa penting yang berlangsung pada bulan Safar. Syekh Abu Bakar al-Adni, dalam kitab Mandzumah Syarhil Atsar fi Ma Warada ‘an Syahri Shafar, menyebut sejumlah peristiwa dalam sejarah Islam yang berkaitan dengan bulan ini. Catatan tersebut menunjukkan bahwa Safar tidak patut diperlakukan sebagai waktu yang harus ditakuti atau dihindari.
Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya membatalkan rencana yang baik hanya karena takut kepada bulan Safar. Pernikahan, perjalanan, pekerjaan, pendidikan, perdagangan, dan berbagai kegiatan yang halal tetap boleh dilakukan. Yang harus diperhatikan bukan nama bulannya, melainkan kesiapan, kemaslahatan, serta kesesuaian kegiatan tersebut dengan ajaran agama.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Meskipun Islam menolak anggapan bahwa Safar merupakan bulan sial, bukan berarti kita diperbolehkan hidup tanpa kewaspadaan. Seorang mukmin tetap diperintahkan untuk menjaga diri, memperbanyak doa, memperbaiki amal, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
Artinya, “Sesungguhnya mereka yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka.” (QS. al-Mu’minun [23]: 57)
Ayat ini mengajarkan bahwa kehati-hatian seorang mukmin bersumber dari rasa takut dan tunduk kepada Allah, bukan dari prasangka terhadap waktu tertentu. Ia berhati-hati agar tidak melakukan dosa, tidak menzalimi orang lain, dan tidak mengabaikan tanggung jawab. Ia juga berikhtiar menjaga diri dari bahaya, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah SWT.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Inilah keseimbangan yang harus kita pelihara. Di satu sisi, kita menolak keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan. Di sisi lain, kita tidak boleh merasa sombong dan menganggap diri terbebas dari segala kemungkinan musibah. Kita tetap membutuhkan pertolongan Allah, sehingga doa, zikir, sedekah, dan amal saleh perlu terus diperbanyak pada setiap waktu, bukan hanya pada bulan Safar.
Syekh Abu Bakar al-Adni menukil sebuah doa bagi orang yang mulai merasakan firasat buruk:
مَنْ عَرَضَ لَهُ مِنْ هَذِهِ الطِّيَرَةِ شَيْءٌ، فَلْيَقُلْ: اَللّٰهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ.
Artinya, “Barang siapa yang mendapat satu dari sekian firasat buruk yang ada (tentang bulan Safar), hendaklah dia berdoa, ‘Ya Allah, tidak ada kesialan selain kesialan yang Engkau tetapkan, tidak ada kebaikan selain kebaikan dari-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau’.”
Doa ini mengajarkan tauhid dan keteguhan hati. Seorang mukmin meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Bulan Safar tidak dapat mencelakakan manusia. Hari, tanggal, benda, maupun tanda-tanda tertentu juga tidak mempunyai kekuatan sendiri. Hanya Allah SWT yang mengatur seluruh kehidupan.
Oleh sebab itu, apabila timbul rasa takut karena mitos yang berkembang di tengah masyarakat, janganlah kita larut di dalamnya. Kembalikan hati kepada Allah. Perbanyak doa, lakukan ikhtiar yang wajar, dan lanjutkan setiap rencana yang baik dengan penuh tanggung jawab.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Pesan yang perlu kita pegang adalah bahwa tidak ada bulan yang harus dicela. Yang patut kita khawatirkan bukan datangnya Safar, melainkan datangnya kelalaian dalam hati kita. Kesialan yang sebenarnya bukanlah berada pada bulan tertentu, melainkan ketika seseorang jauh dari Allah, meninggalkan kewajiban, menzalimi sesama, dan terus-menerus melakukan kemaksiatan.
Marilah kita memasuki dan menjalani bulan Safar dengan keyakinan yang lurus, hati yang tenang, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta lisan yang senantiasa berzikir kepada Allah SWT. Jangan biarkan mitos menguasai pikiran kita. Jangan pula menjadikan penolakan terhadap mitos sebagai alasan untuk meninggalkan doa dan kewaspadaan.
Semoga Allah SWT menjaga akidah kita, meneguhkan tawakal kita, dan melindungi kita dari segala keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَأَدَّبَ وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ الَّذِيْ أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمُتَمِّمِيْنَ اتِّبَاعَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلَيِّ الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرؓ عَظِيمؓ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَّاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِيْ صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِيْ هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِندونيسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ahmad Dirgahayu Hidayat, Alumni Ma’had Aly Situbondo, Pengajar di Ponpes Manbaul Ulum Kabul, Lombok Tengah.





Comments are closed.