Bincangperempuan.com- Layangan Putus, Ipar adalah Maut sampai yang terbaru yaitu Sihir Pelakor. Belakangan banyak film mengangkat topik konflik dalam rumah tangga yang disebabkan oleh perselingkuhan. Tetapi pernahkah kamu bertanya apa kesamaan film-film tersebut? Yaitu sama-sama menonjolkan peran perempuan sebagai orang ketiga alias si perusak rumah tangga. Netizen pun juga sering geram terhadap pemeran yang menjadi orang ketiga dan mengutuknya sebagai sang pelakor.
Padahal dalam perselingkuhan ada dua pihak yang aktif bukan hanya perempuan. Lantas, mengapa banyak film lebih memilih membingkai “perempuan lain” sebagai biang keladi?
Baca juga: Istilah Pelakor dan Standar Ganda dalam Narasi Perselingkuhan
Film sebagai Refleksi dan Reproduksi Ideologi Patriarki
Film bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki peran dalam membentuk cara kita melihat realitas. Dalam budaya patriarki, sudah lazim kalau perempuan sering ditampilkan sebagai penggoda, sedangkan laki-laki diposisikan sebagai yang “tergoda” kurang lebih agar kesalahan laki-laki bisa terlihat pasif.
Dalam film seperti Ipar Adalah Maut, misalnya, perempuan luar (pelakor) ditampilkan dengan segala atribut yang mengundang—baik secara visual maupun perilaku. Adegan, dialog, dan framing kamera biasanya memperkuat citra bahwa pelakor adalah orang yang haus perhatian, ambisius, atau bahkan manipulatif. Sementara istri sah digambarkan sabar, religius, setia jarang mendapat ruang untuk punya kesalahan atau ambiguitas.
Seperti yang diungkap penelitian di Jurnal Pendidikan Bahasa tentang Ipar Adalah Maut menggunakan semiotika Roland Barthes menemukan bahwa simbol dan tanda dalam film itu secara halus mereproduksi ideologi patriarki. Melalui ruang domestik, gestur tubuh, hingga dialog sehari-hari, film memperlihatkan bagaimana perempuan ditempatkan dalam posisi subordinat—bergantung, tunduk, dan berusaha terus mendapatkan persetujuan laki-laki. Ideologi ini bekerja bukan hanya lewat cerita besar (naratif), tetapi juga detail kecil yang sering kali luput dari kesadaran penonton.
Pada titik ini, representasi perempuan yang bias menjadi pola berulang yang membuat penonton menerima ketimpangan gender sebagai sesuatu yang “normal” dan bahkan “menghibur.” Maka, ketika film-film semacam ini mendominasi ruang populer, publik pun tanpa sadar belajar untuk menyalahkan perempuan lebih dulu setiap kali bicara soal perselingkuhan.
Istilah “Pelakor” dan Bias Gender dalam Bahasa
Bahasa adalah alat paling halus untuk menanamkan cara pandang masyarakat. Istilah “pelakor” misalnya, tidak lahir begitu saja, tetapi memuat penilaian moral dan rasa hina terhadap perempuan. Padahal, ada istilah padanan untuk laki-laki, pebinor (perebut bini orang), tapi nyaris tak pernah dipakai. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa bahkan di level bahasa pun, perempuan lebih mudah disalahkan dan diberi stigma.
Penelitian dalam Jurnal Gramatika menyebut bahwa kata pelakor adalah bentuk disfemia—ungkapan yang sengaja dibuat kasar dan merendahkan. Istilah ini digunakan untuk mengekspresikan kemarahan dan penghinaan, sering kali dengan perbandingan ke hewan.
Studi itu juga mencatat bahwa penggunaan kata ini merefleksikan dominasi laki-laki dalam budaya patriarki, di mana posisi perempuan selalu lebih rendah secara simbolik dan sosial. Penelitian tersebut juga menyoroti bagaimana perempuan ikut mereproduksi bias ini.
Banyak sesama perempuan yang tanpa sadar ikut menggunakan istilah pelakor untuk menyerang sesama perempuan, alih-alih mempertanyakan tindakan laki-laki yang berselingkuh. Inilah yang disebut internalized misogyny—kebencian terhadap sesama perempuan yang lahir dari sistem nilai patriarkal itu sendiri.
Akibatnya, bahasa tak lagi sekadar alat komunikasi, tapi juga alat kontrol sosial. Ketika istilah seperti pelakor terus dipakai dalam percakapan dan judul film, publik diarahkan untuk marah kepada perempuan, bukan pada sistem atau pasangan laki-laki yang sama-sama bersalah. Bahasa, dalam hal ini, menjadi jembatan yang menjaga agar ketimpangan itu terus terasa “normal.”
Baca juga: Yang Menyebalkan dari Film “SEHIDUP SEMATI”
Kenapa Representasi Ini Berbahaya?
Narasi tentang “pelakor” bukan sebatas hiburan layar kaca, tapi juga bisa menjadi mekanisme sosial yang melanggengkan bias gender. Ketika film terus menggambarkan perempuan sebagai sumber masalah rumah tangga, publik belajar untuk melihat konflik relasi jadi sebatas laki-laki tergoda, dan perempuan penggoda.
Akibatnya, tanggung jawab moral dan sosial dalam perselingkuhan jadi timpang. Laki-laki dianggap hanya “khilaf”, sementara perempuan dilabeli perusak rumah tangga, perebut, bahkan ancaman bagi perempuan lain.
Stigma ini berbahaya karena ia membentuk cara masyarakat memaknai kesalahan dan moralitas. Perempuan yang diselingkuhi menanggung dua luka sekaligus pengkhianatan pasangan dan penilaian sosial yang sering menyalahkannya karena “tak bisa menjaga”.
Sementara itu, laki-laki yang berbuat sama justru malah lolos dari sorotan. Media, dalam hal ini film, ikut memoles ketimpangan itu menjadi narasi yang bisa diterima, bahkan ditonton berjuta kali tanpa disadari dampaknya.
Beberapa film kontemporer sebenarnya mulai bergerak ke arah baru. Film seperti Yuni, Like & Share, dan Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak menunjukkan perempuan sebagai individu kompleks yang punya agensi, bukan sekadar korban atau penggoda.
Tapi usaha semacam ini belum banyak jika dibandingkan gelombang besar sinema domestik yang menjual drama rumah tangga berbumbu stereotip gender. Selama karakter “pelakor” masih dijadikan bumbu utama untuk memancing emosi penonton, maka industri ini masih beroperasi di bawah logika patriarki yang menjadikan perempuan sebagai sumber masalah.
Masalahnya bukan sekadar “siapa selingkuh dengan siapa”, tapi bagaimana media menanamkan ide tentang siapa yang pantas disalahkan. Kita butuh lebih banyak film yang berani membongkar akar relasi kuasa, bukan sekadar mendaur ulang konflik yang menyudutkan satu gender saja. Agar penontonnya bisa lebih sadar kalau perselingkuhan adalah soal tanggung jawab dua orang, bukan satu label yang dibebankan ke perempuan saja.
Referensi:
- Siagian, B. A., Pujiono, M., & Harianja, N. (2023). Gender trend in “pelakor” dysphemia: A sociolinguistic study (Bias gender dalam disfemia “pelakor”: tinjauan sosiolinguistik). Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(1), 1–14. https://ejournal.upgrisba.ac.id/index.php/jurnal-gramatika/article/download/5870/pdf
- Zulfia, I., Wulandari, B., & Mardiningsih, M. (2025). Relasi kekuasaan dan representasi perempuan dalam film Ipar adalah Maut menggunakan kajian semiotika Roland Barthes. Jurnal Pendidikan Bahasa, 15(3). https://ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpb/article/view/3343
- Mustofa, N. S. (2025). Analisis patriarki pada tiga film kontemporer Indonesia. [Skripsi, Institut Seni Indonesia]. https://digilib.isi.ac.id/19301/





Comments are closed.