Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Abu Zar dan Ringkikan Khimar

Abu Zar dan Ringkikan Khimar

abu-zar-dan-ringkikan-khimar
Abu Zar dan Ringkikan Khimar
service

Di dunia yang kian bising dengan suara kritis tetapi miskin nurani, kita diingatkan sosok Abu Zar. Namanya Jundub bin Junadah, tetapi sejarah lebih mengenalnya sebagai Abu Zar al-Ghifari. Ia bukan tokoh yang lahir dari istana, melainkan putra dari suku Ghifar, sebuah kelompok perampok padang pasir yang kelak bersujud menerima cahaya Islam. 

Abu Zar hidup di antara fajar Islam hingga pertengahan abad ke-7 M (sekitar 594–652 M), termasuk di antara sahabat yang paling awal memeluk Islam dan menyaksikan langsung masa kepemimpinan tiga Khalifah Rasyid pertama: Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Ia bukan sekadar saksi bisu, tetapi seorang muslim yang berhati kokoh, tak bisa diam melihat ketimpangan, sekaligus seorang asketis yang memandang kemewahan dunia dengan ketajaman nurani. 

Ketika panji Islam berkibar di Syam dan kemakmuran mengalir deras, Abu Zar justru merasakan keganjilan di bawah langit Damaskus. Ia menyaksikan Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan dan sebagian jajarannya mulai terbuai oleh gaya hidup mewah. Di mata Abu Zar, para elit yang gemar menumpuk kemewahan sambil abai pada nasib rakyat kecil adalah pengkhianat terhadap spirit kesederhanaan Rasulullah. Ia pun melontarkan kritik dengan lantang, bagaikan deru debu padang pasir yang menyapu permadani istana, melahirkan ketegangan, kerisauan, dan guncangan stabilitas politik kalangan elit. Itu representasi teriakan profetik yang menolak tunduk pada kemewahan semu. 

Keberanian itu membuat Muawiyah melaporkan Abu Zar kepada Khalifah Utsman bin Affan. Dipanggil ke Madinah, ia tetap tak bergeming, terus menyuarakan keadilan dan kemanusiaan di hadapan para elit yang lupa diri dan melupakan tugas utama: melayani masyarakat. Ia bisa saja diam. Ia bisa saja aman. Tapi ia memilih tidak. Abu Zar menjelma sosok yang tak bisa dijinakkan; suaranya tak pernah tunduk pada pesona kekuasaan maupun ancaman pengucilan. 

Kisah keteguhan itu akhirnya berujung pada jalan sunyi: pengasingan ke Rabadzah, sebuah padang pasir gersang sekitar 170 km dari Madinah. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan, ia menjalani hari-hari terakhirnya dalam kesederhanaan dan kesendirian. Pada bulan Dzulhijjah tahun 31 atau 32 Hijriyah (sekitar 652 M), di tengah kesunyian Rabadzah, ia mengembuskan napas terakhir, wafat dalam keterasingan, jauh dari keramaian yang dulu ia kritik dengan lantang. Sendirian. Tetapi tidak sia-sia. Jenazahnya yang sebatang kara kemudian ditemukan dan diurus oleh rombongan kafilah dari Kufah yang dipimpin sahabat Abdullah bin Mas’ud. 

Kisah itu menggenapi nubuwat Nabi Muhammad sebagaimana dikisahkan Ibn Katsir dalam Al-Bidāyah wan Nihāyah: “Semoga Allah merahmati Abu Zar; ia berjalan sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian.” Nubuwat itu menjadi peneguh bahwa kebenaran tetaplah emas, meski disuarakan di tengah padang pasir yang tak berpenghuni, meski pemilik suaranya harus meninggal dalam sepi. Sunyi bukan selalu tanda kekalahan. Kadang ia justru puncak kemuliaan. 

Kehadiran Abu Zar al-Ghifari adalah getaran penegakan keadilan dan kebenaran. Ia adalah prototipe manusia yang telah tuntas dengan dirinya sendiri. Suaranya yang parau tidak lahir dari desakan perutnya yang lapar atau kekuasaan yang hilang dari genggaman, bukan pula karena akses ekonomi pribadinya tertutup atau hasrat kuasa dan ego yang tak kunjung terlampiaskan. Bukan suara yang menuntut jatah. Bukan suara yang meratap kehilangan kursi. Suaranya muncul dari tungku kejernihan batin dan ketulusan jiwa; wujud dari spirit profetik dan cinta pada kebenaran serta kemanusiaan. 

Di depan para penguasa, ia meneriakkan ayat-ayat ancaman bagi para penimbun harta, menegakkan hukum tanpa manuver politik dan tanpa perdagangan kepentingan. Suaranya adalah kesetiaan menjaga api wahyu agar tidak padam oleh tiupan keserakahan, kepongahan, dan ego yang menimbun kesadaran. Sikapnya adalah komitmen moral melawan ketimpangan sosial di tengah tata kuasa yang sungsang dan kemanusiaan yang terpinggirkan. Bukan ringkikan khimar yang mencari panggung. Melainkan suara profetik yang rela kehilangan segalanya demi keadilan. 

Di dunia yang kian bising, ketika kesadaran moral dan spiritual terus terkikis, suara Abu Zar adalah ombak yang harus dirawat. Ia adalah spirit profetis yang tidak boleh padam oleh pengkhianatan atas nilai keadilan dan kemanusiaan; pengejawantahan pesan agung dalam Surah al-Nisa ayat 135: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu…” 

Ibn Katsir menjelaskan bahwa orang beriman diperintahkan untuk teguh pada kebenaran meski konsekuensinya merugikan diri sendiri atau orang yang dicintai; keadilan tidak boleh dikompromikan oleh rasa sayang maupun kebencian. Pada Surah al-Ma’idah ayat 8, kita diingatkan agar kebencian terhadap suatu kaum tidak membuat kita berlaku tidak adil. Keadilan, kata Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, adalah “timbangan” Tuhan di bumi; ketika ia miring, runtuhlah tatanan sosial. Jika timbangan itu dibiarkan miring, maka seluruh bangunan masyarakat pelan-pelan retak. 

Kisah Abu Zar adalah pengingat abadi bahwa suara kebenaran sering berujung pada jalan sunyi. Ia mengajarkan bahwa kekayaan sejati sebuah bangsa bukan sekadar akumulasi materi, melainkan keadilan yang dibagikan seluas-luasnya, kesejahteraan yang dirasakan oleh mereka yang paling papa, dan ketulusan menyuarakan kebenaran yang tumbuh dari nurani. Itu semua adalah pilihan berat yang tak banyak orang siap menjalaninya. Dan karena itu, suara semacam ini semakin langka. 

Kontras dengan keteguhan Abu Zar, sejarah juga mencatat panggung dramaturgi politik. Di berbagai mimbar kekuasaan, forum agama, hingga ruang digital, kita menyaksikan suara-suara lantang yang lahir bukan dari nurani, melainkan dari kepongahan, basa-basi dramaturgi, dan dahaga politik dan kekuasaan yang egoistik. Melalui wasiat Luqman, Al-Qur’an menitipkan tamsil getir mengenai teriakan tanpa kompas moral semacam itu: “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (QS. Luqman: 19). Inilah ringkikan khimar: keras, bising, tetapi hampa makna. 

Teriakan keadilan dan kemanusiaan yang tumbuh dari dramaturgi seperti itu ditamsilkan Al-Qur’an dengan suara khimar. Ayat ini menjadi metafora untuk menumbuhkan rasa jijik terhadap kesombongan; secara psikososial, ia merepresentasikan kondisi ego-threat: ketika pengaruh, kekuasaan, dan posisi politik seseorang terancam, ia melakukan kompensasi melalui kebisingan destruktif. Ringkikan khimar, dalam kisah Luqman, bukan sekadar persoalan estetika auditori, melainkan kritik kebudayaan terhadap lisan yang kehilangan kendali nurani. 

Ringkikan itu adalah metafora bagi suara yang melengking karena digerakkan syahwat kekuasaan, kepongahan ego, dan kehilangan kapital sosial. Suara yang kasar di pangkal, parau di ujung, karena kosong dari makna dan sepi nurani. Dalam tamsil ini, Al-Qur’an sedang menyentak batin manusia agar enggan menyamakan diri dengan makhluk yang suaranya paling dibenci, yang hanya tahu mengerang tanpa pernah belajar berzikir. Ringkikan tersebut menjadi simbol polusi jiwa yang mengganggu harmoni sosial, pengingat bahwa kekuatan kata-kata tidak terletak pada desibel teriakan, tetapi pada kejernihan niat dan substansi yang menembus kedalaman hati. 

Suara khimar ini mengingatkan kita pada sosok Dzul Khuwaishirah, prototipe pertama Khawarij. Dalam riwayat Ṣaḥīḥ Bukhari (no. 3610) dan Ṣaḥīḥ Muslim (no. 1064), ia dengan sombong menyentak Nabi: “Wahai Muhammad, berlakulah adil!” hanya karena pembagian harta tidak memuaskan nafsunya. Para ulama hadis menilai kisah ini sebagai benih awal ekstremisme dalam sejarah Islam: ego yang dibungkus jubah agama demi perut dan pengaruh yang terguncang. Di sini, lagi-lagi kita diajak memilih: menjadi penjaga keadilan atau sekadar penggaung ringkikan yang dibungkus jargon suci. 

Di sini kita mesti membedakan secara tegas antara ringkikan ego khimar dan teriakan profetik Abu Zar. Sejarah mengabadikan Abu Zar sebagai seorang asketis yang suaranya menggelegar di padang pasir bukan karena haus kuasa, melainkan perih menyaksikan ketimpangan, ketidakadilan, dan nilai kemanusiaan diabaikan. Yang kita butuhkan bukan kemasan retorika para penjilat atau kebisuan para pakar, tetapi suara Abu Zar: suara yang mungkin terdengar gersang di tengah padang pasir pengabaian, namun setia menyuarakan kebenaran meski harus berdiri sendirian. Bukan satu, dua, atau tiga Abu Zar. Tetapi sebanyak mungkin Abu Zar kontemporer di setiap ruang kehidupan. 

Kita perlu berani memberi nasihat ketika gerbong kekuasaan melaju berseberangan dengan ruang batin kebenaran dan kemanusiaan. Namun, kita juga harus waspada terhadap perilaku Dzul Khuwaishirah yang mengekspresikan ringkikan khimar: lantang atas nama agama, tetapi digerakkan oleh ego dan kepentingan sempit. Kita tidak boleh terjebak dalam spiral of silence, bungkam karena takut isolasi dan pemantauan, lalu menjelma ruang hampa yang justru memberi oksigen bagi kezaliman untuk tumbuh subur. Jika dominasi pragmatisme dibiarkan, akan lahir “politik saudagar” dan  hukum pasar ditarik paksa ke ruang kekuasaan, ujungnya idealisme lenyap hingga akar-akarnya. 

Lantas, apa yang tersisa untuk memperbaiki dunia kebudayaan? Untuk menegakkan kembali nilai kemanusiaan, kita harus memulai dari kedaulatan nurani, yaitu keberanian menempatkan suara hati di atas godaan keuntungan sesaat. Perbaikan dunia tidak akan lahir dari regulasi yang disusun tangan-tangan yang gemetar oleh kepentingan, tetapi dari keberanian warga memutus rantai oportunisme. Mulailah dari ruang kelas, dari mimbar khutbah, dari rapat kebijakan, dari layar-layar kecil tempat opini dipertarungkan. Kita membutuhkan rekonsiliasi etika: para akademisi kembali ke menara ilmu untuk berbicara dengan data yang jujur, para ulama kembali ke khitah profetik untuk menegur yang zalim tanpa takut kehilangan takhta, dan para penguasa belajar kembali untuk andhap asor

Kebudayaan dan penegakan keadilan serta kemanusiaan mensyaratkan hadirnya suara-suara emas, suara yang lahir dari proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), bukan dari kalkulasi transaksional. Kita perlu merawat oase keberanian di tengah gersangnya moralitas publik, menumbuhkan kembali laku satriya pinandhita: pemimpin yang cakap dalam karya namun suci dalam niat. Perbaikan ini menuntut kita menjadi “Abu Zar kontemporer” di setiap lini; berani bersuara parau demi keadilan, tetap tegak meski badai kepentingan menerjang. Berhentilah menjadi penonton yang hanya menghitung luka dan menghitung untung. Mulailah menjadi saksi yang menjaga keadilan dan kewarasan akal pikiran. 

Pada akhirnya, dalam situasi sosial yang lelah oleh kebisingan tanpa ruh, kita tidak membutuhkan lebih banyak teriakan khimar. Kita butuh keberanian memecah kesunyian yang keliru dan kearifan untuk merendahkan nada yang congkak. Sebab, kebenaran sejati tidak pernah membutuhkan ringkikan untuk didengar oleh hati yang jernih; ia hanya membutuhkan kesetiaan untuk terus disuarakan, hingga gersangnya padang pasir ketidakadilan berganti menjadi sejuknya mata air kemanusiaan.[]

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.