Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti masalah yang terjadi pada anak, yang dipicu oleh tekanan untuk berprestasi di sekolah karena orang tua. Tekanan tersebut dapat mendorong anak mencoba perilaku berisiko, seperti merokok, menggunakan narkoba, dan mengkonsumsi minuman keras. Perilaku itu dapat memperparah gangguan kesehatan mental yang dialami anak.
IDAI juga menilai penanganan gangguan kesehatan mental pada anak di Indonesia masih belum optimal. Selain tekanan orang tua, gangguan mental dipicu juga oleh penggunaan gawai, kecemasan, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), perundungan, tekanan akademik, hingga berujung depresi. Berbagai faktor tersebut berdampak pada tumbuh kembang, prestasi akademik dan hubungan sosial anak.
Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso menyatakan gangguan mental jadi masalah serius yang dihadapi anak-anak di Indonesia. Menurutnya, gangguan mental sering kali bermula dari perilaku pengasuhan orang tua. Orang tua memberikan penekanan untuk anak selalu berprestasi di sekolah, namun malah membuat anak tertekan dan mengalami gangguan mentalnya.
Piprim menyinggung, baru-baru ini di media sosial seorang ibu komplain pada anak, ia pesimis di hari pertama sekolah anaknya tidak akan juara sekolah. “Inilah pentingnya parenting, bagaimana kita bisa mendidik, menumbuh kembangan anak di dalam suasana yang seharusnya penuh kasih sayang,” katanya di Jakarta pada 21 Juli 2026.
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sepanjang 2023-2025 terjadi 115 kasus anak mengakhiri hidupnya. Anak-anak tersebut usianya beragam, dari rentang sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di berbagai daerah. Dengan permasalahan mental, ekonomi, minim kasih sayang, dan lain-lain.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Angga Wirahmadi, mengatakan anak gampang terpengaruh melakukan perilaku negatif, seperti merokok, menonton konten pornografi melalui telepon seluler. Kondisi tersebut mengingat status kesehatan anak yang merasa tidak dimengerti orang tua, perasaan rendah diri dan cemas.
“Pada akhirnya mereka memilih merokok karena menganggap kebiasaan itu dapat mereka lebih tenang. Padahal kesehatan mereka justru akan terancam,” ujarnya.
Angga menjelaskan, alasan anak memilih aktivitas merokok karena merokok dianggap sesuatu yang lazim dalam budaya masyarakat Indonesia. Apalagi, lingkungan masyarakat di sekitar tidak akan memberikan penilaian negatif terhadap mereka, sehingga mereka merasa aman untuk melakukannya. Padahal, kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti hipertensi, jantung, hingga darah tinggi.
Merokok jadi jalan mudah untuk dicoba ketika anak mengalami gangguan mental. Mencoba-coba hal buruk. Sementara itu, anak yang berasal dari keluarga broken home memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan emosi dan kesehatan mental. Berdasarkan catatan IDAI, hanya 10 persen anak yang menceritakan masalah kesehatan mentalnya kepada orang lain.
Angga mengakui prihatin dengan kondisi ini. Ia mengimbau untuk anak-anak yang menghadapi masalah agar tidak memendamnya sendiri, melainkan menceritakan kepada sahabat, orang tua, teman, guru, atau ustad, atau AI. Menurutnya, sejauh ini AI dapat merespon cukup baik terhadap persoalan kesehatan mental anak.
Namun, kata Angga, orang dewasa perlu menerapkan pendekatan HEEADSSS untuk mendeteksi masalah kesehatan mental pada anak. Pendekatan itu mencakup kondisi di rumah (Home), pola makan (Eating), aktivitas sehari-hari (Activities), penggunaan rokok (Drugs), aktivitas seksual (Sexuality), dorongan bunuh diri (Suicide/Depression), dan keselamatan (Safety).
Rangkaian pendekatan HEADSSS penting untuk mendeteksi masalah kesehatan mental yang sering tidak diungkapkan oleh anak. Jika masalah tersebut tidak digali dengan baik, dampaknya buruk. Anak tidak akan menjawab jika tidak ditanya secara terbuka. Sedangkan dalam hal ini dokter mengambil peran untuk melakukan pencegahan dan penanganan.
“Kita tingkatkan kapasitas remaja, bahwa apa yang dilakukan seperti coba-coba merokok itu buruk. Kita mau beri motivasi, edukasi, agar resiliensinya semakin kuat,” ujar Angga.
Ia berharap kesehatan mental anak dan gangguan mental bisa teratasi dengan baik. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut penyebab utama kesehatan mental akibat satu dari tujuh anak usia 10-19 di dunia mengalami depresi, dan kecemasan.
Menurut angga, edukasi kepada orang tua juga sangat diperlukan, agar mereka mampu mengenali perubahan perilaku anak sejak dini. Misalnya, ketika anak yang sebelumnya senang bersekolah menjadi enggan bersekolah, orang tua bisa ambil langka yang tepat.
“Sekolah juga bisa langsung gerak cepat untuk mendeteksi ini semua, karena perubahan perilaku negatif anak biasanya akan terlihat di sekitar lingkungan sekolah.”





Comments are closed.