Bawang merah menjadi salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peran penting dalam khazanah pangan Indonesia. Kebutuhan masyarakat terhadap komoditas ini terus meningkat, tetapi produktivitas di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan.
Salah satunya adalah keterbatasan varietas yang mampu beradaptasi dengan baik di wilayah dataran rendah, padahal kawasan ini memiliki potensi lahan yang luas untuk pengembangan budidaya.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Gamaba, calon varietas unggul bawang merah yang dirancang khusus agar mampu tumbuh optimal di agroekosistem dataran rendah. Saat ini, perbanyakan Gamaba dilakukan di lahan petani kooperator Didik Hartanto di Candi Dukuh, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dirancang Khusus untuk Dataran Rendah
Lokasi pengembangan Gamaba dipilih pada ketinggian sekitar 100–300 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut mewakili karakteristik dataran rendah yang menjadi target utama pengembangan varietas baru ini.
Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menilai pertumbuhan tanaman dan karakter umbi Gamaba menunjukkan hasil yang menjanjikan. Menurutnya, keberhasilan sebuah varietas tidak hanya ditentukan oleh hasil penelitian, tetapi juga kesiapan sistem perbenihan sehingga inovasi tersebut dapat dimanfaatkan petani.
“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan penelitian saja. Kami ingin memastikan calon varietas yang dihasilkan memiliki keunggulan yang teruji, benihnya dapat diproduksi secara berkelanjutan, dan pada akhirnya dapat memberikan manfaat nyata bagi petani,” ujarnya.
Gamaba merupakan hasil kolaborasi tim Fakultas Pertanian UGM yang terdiri atas Endang Sulistyaningsih dan Valentina Dwi Suci Handayani bersama peneliti BRIN, Retno Pangestuti dan Rini Rosliani. Varietas ini telah memperoleh Sertifikat Pendaftaran Varietas Nomor 939/PVHP/2022 dan kini sedang dipersiapkan untuk menjalani tahapan pengujian sebagai syarat pelepasan varietas secara resmi.
Potensi Hasil Tinggi dan Umur Panen Lebih Singkat
Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN, Retno Pangestuti, menjelaskan bahwa penelitian sepanjang 2026 difokuskan pada peningkatan stok umbi benih yang berasal dari true seed of shallot (TSS). Selain memperbanyak bahan tanam, tim juga melakukan karakterisasi genetik dan analisis profil metabolit untuk memperkuat identitas ilmiah sekaligus membedakan Gamaba dari varietas lain.
“Kami sedang menyiapkan bahan tanam dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pengujian calon varietas. Selain karakter agronomis, penelitian juga akan mencakup karakterisasi genetik dan profil metabolit untuk memperkuat identitas serta informasi keunggulan Gamaba,” jelas Retno.
Hasil pengamatan awal menunjukkan Gamaba memiliki sejumlah karakter unggulan. Varietas ini berpotensi menghasilkan lebih dari 15 ton umbi per hektare dengan produktivitas yang relatif stabil, baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Umbinya berukuran relatif besar, memiliki umur panen genjah sekitar 50–55 hari setelah tanam, serta diperkirakan mampu disimpan hingga lima bulan.
Meski demikian, seluruh karakter tersebut masih harus melalui serangkaian pengujian resmi sebelum varietas ini dapat dilepas dan dibudidayakan secara luas.
Mendukung Pasokan Bawang Merah Nasional
Menurut Retno, pengembangan varietas adaptif dataran rendah memiliki nilai strategis bagi pertanian Indonesia. Lahan sawah setelah panen padi maupun lahan kering beririgasi berpotensi dimanfaatkan untuk memperluas budidaya bawang merah apabila tersedia varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
“Pengembangan bawang merah adaptif dataran rendah penting dilakukan karena membuka peluang optimalisasi lahan sawah setelah panen padi dan lahan kering beririgasi,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa suhu yang lebih tinggi di dataran rendah menjadi tantangan tersendiri bagi pertumbuhan tanaman. Karena itu, varietas yang mampu mempertahankan pembentukan umbi dan hasil panen secara stabil sangat dibutuhkan untuk memperluas musim tanam sekaligus menjaga kontinuitas pasokan bawang merah di tingkat nasional.
Retno menambahkan, tim peneliti saat ini juga tengah menyiapkan strategi pemeliharaan sumber benih melalui penyediaan stok umbi dan biji TSS.
“Saat ini, tim sedang menyiapkan strategi pemeliharaan bahan tanaman sumber melalui penyediaan stok umbi benih dan biji (TSS). Strategi tersebut diperlukan untuk menjaga ketersediaan bahan tanaman, identitas genetik, kemurnian, dan mutu benih selama proses pengembangan,” ungkapnya.
Apabila seluruh tahapan pengujian berjalan sesuai rencana, uji keunggulan akan dilaksanakan pada 2027 sebagai bagian dari proses pelepasan varietas. Setelah memperoleh izin pelepasan, pada 2028 pengembangan Gamaba akan memasuki tahap hilirisasi dan perbanyakan benih bersama mitra produsen benih.
Mengenal Bawang Merah
Berdasarkan berbagai sumber yang dihimpun GNFI, Bawang merah (Allium cepa L.) merupakan tanaman hortikultura semusim dari famili Liliaceae yang tumbuh membentuk rumpun dengan tinggi sekitar 15–40 sentimeter. Tanaman ini memiliki akar serabut dan daun berbentuk silinder berongga berwarna hijau. Umbinya terbentuk dari pelepah daun yang membesar dan tersusun berlapis, sehingga dikenal sebagai umbi lapis.
Tanaman bawang merah tumbuh optimal pada tanah yang gembur, subur, memiliki drainase baik, dan tingkat keasaman sekitar pH 5,8–7,0. Tanaman ini juga membutuhkan penyinaran matahari yang tinggi dengan suhu ideal berkisar 25–30 derajat Celsius.
Umumnya, bawang merah dapat dibudidayakan pada wilayah berketinggian 0–500 meter di atas permukaan laut. Namun pengembangan varietas yang benar-benar adaptif terhadap dataran rendah seperti Gamaba diharapkan mampu memperluas sentra produksi dan memperkuat ketahanan pasokan bawang merah di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News




Comments are closed.