Akhirnya saya tiba di Malta. Rasanya seperti memasuki babak terakhir perjalanan dengan perasaan jauh lebih tenang.
Kali ini saya memilih menginap di kawasan St. Julian’s, salah satu area paling populer di Malta. Hostel pilihan saya adalah Follow The Sun Hostel.
Kebetulan saya datang saat musim panas. Wisatawan sedang membludak sehingga harga akomodasi ikut melonjak. Untuk satu tempat tidur di kamar dormitory berisi delapan orang saja saya membayar sekitar Rp850 ribu per malam, sudah termasuk sarapan. Agak mahal memang untuk ukuran hostel. Tapi begitu sampai, saya langsung paham kenapa ratingnya tinggi. Bangunannya luas, bersih, estetik, punya kolam renang, area komunal yang nyaman, dapur bersama yang lengkap, di dalam kamar, masing-masing tempat tidur ada tirai penutup dan kamar mandi dalam. Bahkan hampir setiap hari ada aktivitas yang diadakan untuk para tamu maupun pengunjung dari luar hostel.
Sejak pandemi sebenarnya saya lebih sering memilih kamar private. Rasanya lebih nyaman dan bisa benar-benar beristirahat setelah seharian jalan. Tapi karena kali ini sedang solo traveling dan harga hotel di Malta cukup tinggi, saya memutuskan kembali ke “habitat lama”: hostel.Sekalian nostalgia. Dulu, hampir setiap traveling ke luar negeri saya selalu menginap di hostel. Selain hemat, suasananya juga jauh lebih seru karena hampir setiap hari bertemu orang baru dari berbagai negara.
Setelah check-in saya diberi gelang berwarna biru. Awalnya saya kira sekadar penanda tamu hostel. Ternyata gelang itu sekaligus berfungsi sebagai kunci kamar. Unik juga.
Begitu selesai menaruh ransel, saya langsung menuju dapur bersama. Saya mengeluarkan persediaan yang sudah saya beli sejak di supermarket yang saya lewati di St Julians: roti, telur, dan tuna kaleng. Menu sederhana. Yang penting kenyang dan murah meriah serta halal.
Sambil memasak, saya mulai mengobrol dengan penghuni hostel lainnya. Ada pria asal Yunani yang ternyata menikah dengan perempuan asal Sumatra dan pernah tinggal cukup lama di Bali. Bahasa Indonesianya lumayan juga.
Pada saat makan, didepan saya ada seorang pria Indian Moslem yang sedang makan nasi briyani di sebelah saya. Dia memberikan sekaleng Coca-Cola. Katanya dia sebenarnya bekerja di Malta, tetapi sementara tinggal di hostel karena sedang pindah apartemen. Entah benar atau tidak. Yang penting kami sama-sama menikmati makan malam sambil bertukar cerita.
Dua malam di Malta saya manfaatkan untuk menikmati tempat-tempat yang lokasinya saling berdekatan.
Sesampainya dari Bandara Luqa, saya langsung naik bus menuju St. Julian’s dan turun di Spinola Bay. Seharusnya saya turun nanti di dua bus stop setelah Spinola Bay. Tapi tetiba memutuskan turun disini karena suka dengan suasananya dan hari sudah menjelang malam. Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan yang memantul di permukaan laut, sementara deretan restoran di tepi teluk mulai dipenuhi pengunjung. Perahu-perahu nelayan tradisional Malta (luzzu) yang berwarna-warni tampak berayun pelan mengikuti ombak. Suasananya hidup, hangat, dan langsung membuat saya jatuh hati pada Malta.
Keesokan paginya saya kembali keluar lebih awal. Kali ini saya berjalan kaki dari Balluta Bay menuju kawasan Sliema. Udara pagi masih sejuk, matahari baru mulai muncul dari ufuk timur, dan jalanan belum terlalu ramai. Balluta Bay memiliki suasana yang jauh lebih tenang dibanding Spinola Bay. Deretan bangunan bergaya klasik menghadap langsung ke laut, sementara promenade di sepanjang pantai mulai dipenuhi warga lokal yang jogging, bersepeda, atau sekadar berjalan santai menikmati pagi.
Menurut saya, kawasan St. Julian’s hingga Sliema adalah tempat yang paling pas untuk menikmati ritme kehidupan Malta. Tidak terburu-buru, tidak terlalu ramai, tetapi tetap hidup dan menyenangkan.
Saya benar-benar suka suasana kawasan ini.
Hari berikutnya saya menuju Valletta, ibu kota Malta yang juga berstatus UNESCO World Heritage Site. Kota ini tidak terlalu besar sehingga sangat nyaman dijelajahi hanya dengan berjalan kaki. Saya sempat mampir di kantor pos, membeli kartu pos dan mengirim ke Bandung. Sudah mau 2 bulan tapi belum sampai juga.
Tujuan pertama tentu saja Upper Barrakka Gardens. Inilah salah satu viewpoint terbaik untuk melihat Grand Harbour, pelabuhan alami yang menjadi kebanggaan Malta. Setiap hari biasanya ada atraksi Saluting Battery, yaitu penembakan meriam tradisional yang menjadi daya tarik wisata. Sayangnya, saat saya datang terjadi kendala teknis sehingga prosesi penembakan meriam dibatalkan. Padahal sudah banyak wisatawan yang menunggu. Sedikit kecewa sih. Tapi pemandangan Grand Harbour dari atas benteng tetap luar biasa indah.
Dari sana saya berjalan menyusuri Republic Street, jalan utama Valletta yang dipenuhi bangunan bersejarah, toko-toko, restoran, dan kafe. Kemudian saya berbelok ke Merchant Street yang suasananya sedikit lebih santai dengan banyak toko lokal dan pasar kecil.
Kemudian lanjut ke Mdina. Kota bertembok yang dahulu pernah menjadi ibu kota Malta ini dijuluki The Silent City. Begitu melewati Mdina Gate, suasananya langsung berubah. Jalanan sempit berbatu. Gang-gang kecil yang tenang. Semuanya membuat saya serasa sedang berjalan di kota abad pertengahan. Saya mengunjungi St. Paul’s Cathedral, kemudian berjalan tanpa arah menyusuri lorong-lorong kecil yang fotogenik. Sesekali saya berhenti di sudut-sudut kota hanya untuk menikmati suasana. Perjalanan saya tutup di Bastion Square, salah satu titik terbaik untuk melihat panorama pedesaan Malta dari atas tembok kota.
Selama di Malta saya hampir selalu menggunakan bus kota. Sistem transportasinya sangat mudah. Dengan tiket 2,50 Euro, saya bebas berpindah bus selama 90 menit tanpa perlu membeli tiket baru. Praktis sekali untuk wisatawan.
Saya juga sempat mencoba menyeberang menggunakan ferry dari Sliema menuju Valletta. Perjalanan hanya sekitar 10 menit, tetapi pemandangan Grand Harbour dari laut benar-benar cantik. Kalau punya waktu, saya sangat merekomendasikan mencoba ferry dibanding hanya naik bus.
Satu hal yang cukup mengejutkan adalah cuacanya. Sebelum berangkat saya membayangkan Eropa pasti lebih sejuk. Ternyata saat musim panas, Malta benar-benar panas. Rasanya tidak jauh berbeda dengan Indonesia.
Alhamdulillah.
Perjalanan kali ini akhirnya berhasil menambah lima negara baru di Eropa, meskipun satu negara hanya sempat saya “kunjungi” sampai area imigrasi bandara saja. Kalau dihitung, target jumlah negaranya memang tercapai. Tetapi yang paling berkesan justru bukan angka tersebut. Melainkan semua cerita di baliknya.
Mulai dari visa yang ditolak, ditolak masuk sebuah negara, mengubah itinerary dalam waktu singkat, tidur di bandara, mengejar bus dan pesawat, hingga akhirnya bisa menikmati matahari terbenam di Malta.
Dari Malta, perjalanan saya masih berlanjut menuju Athena, Yunani, sebagai kota terakhir sebelum kembali pulang ke Indonesia.





Comments are closed.