Mon,3 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Sebelum masuk SD, haruskah anak sudah bisa membaca?

Sebelum masuk SD, haruskah anak sudah bisa membaca?

sebelum-masuk-sd,-haruskah-anak-sudah-bisa-membaca?
Sebelum masuk SD, haruskah anak sudah bisa membaca?
service

● Kemampuan membaca anak tidak instan, proses belajarnya lebih ditentukan oleh kualitas interaksi bersama orang tua dan guru.

● Buku cetak maupun digital sama efektifnya untuk meningkatkan literasi anak selama digunakan secara interaktif.

● Pendampingan membaca bisa dilakukan lewat tanya-jawab, fokus pada satu topik, atau membuat gambar cerita.


Tahun ajaran baru sudah dimulai. Pertanyaan yang sama kembali bermunculan di media sosial maupun grup percakapan orang tua: “Anak saya belum bisa membaca. Apakah nanti akan kesulitan mengikuti pelajaran di SD?”

Tidak sedikit orang tua yang akhirnya mengikutkan anak ke berbagai les membaca sebelum masuk sekolah dasar karena khawatir akan tertinggal dari teman-temannya.

Di sisi lain, guru di kelas menghadapi tantangan yang tidak mudah. Sebab dinamika tersebut memicu kemampuan membaca yang tak merata di antara murid. Ada yang sudah mampu membaca buku cerita sederhana, sementara yang lain masih belajar mengenali huruf atau mengeja suku kata.

Lalu, apakah anak memang harus sudah lancar membaca sebelum masuk SD? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.

Berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa yang paling menentukan bukanlah seberapa cepat anak mampu membaca sendiri, melainkan bagaimana orang dewasa mendampingi proses mereka belajar membaca.

Orang tua berperan vital

Aktivitas membaca, menurut kerangka Programme for International Student Assessment (PISA), merupakan kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dari berbagai jenis teks untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Membaca bersama bisa jadi solusi membangun interaksi antara anak dan orang dewasa sekaligus menanam kebiasaan membaca untuk anak yang memasuki usia sekolah. Setidaknya, mereka tetap memperoleh banyak manfaat melalui percakapan selama kegiatan membaca.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa membacakan buku cerita bukan sekadar kegiatan pengantar tidur atau hiburan. Membaca bersama dapat membantu memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan menyimak, memperkuat pemahaman cerita, mengembangkan kemampuan berbahasa, serta membangun keterampilan fonologis yang menjadi fondasi belajar membaca.

Menariknya, manfaat tersebut tidak hanya berasal dari isi cerita, tetapi juga dari percakapan yang terjadi selama proses membaca.

Ketika orang tua atau guru bertanya, “Mengapa tokoh ini sedih?” atau “Kalau kamu menjadi tokoh itu, apa yang akan kamu lakukan?”, anak belajar menghubungkan cerita dengan pengalaman mereka, memperluas cara berpikir, sekaligus memahami isi bacaan secara lebih mendalam.

Pendampingan orang dewasa juga tak kalah penting

Seiring berkembangnya teknologi, pilihan bacaan anak kini semakin beragam, mulai dari buku cetak hingga buku cerita digital. Ini sering memunculkan pertanyaan: apakah buku digital lebih baik daripada buku cetak, atau sebaliknya?


Read more: Apakah kita lebih mudah menyerap informasi dari kertas ketimbang layar? Tergantung jenis layarnya


Sentuhan animasi, audiovisual, atau permainan dalam buku digital memang dapat membuat cerita lebih menarik. Namun, jika digunakan secara berlebihan, fitur-fitur tersebut justru dapat mengalihkan perhatian anak dari isi cerita sehingga mengurangi pemahaman mereka.

Kualitas interaksi antara anak dan orang dewasa jauh lebih menentukan dibandingkan media yang digunakan. Buku, baik cetak maupun digital, sama-sama dapat mendukung perkembangan literasi apabila digunakan melalui kegiatan membaca yang interaktif yang dilengkapi gambar, mendengarkan cerita, mengenali kosakata baru, memahami alur cerita, serta mulai menghubungkan bunyi dengan tulisan.

Karena itu, perbedaan kemampuan membaca di sekolah bukan berarti guru harus menggunakan buku yang berbeda untuk setiap anak.

Guru bisa berperan sebagai fasilitator yang membangun diskusi selama membaca. Anak yang belum bisa membaca tetap dapat berpartisipasi melalui gambar dan percakapan. Sementara anak yang mulai membaca dapat membaca secara bergantian.

Sedangkan anak yang sudah lancar dapat diajak membuat prediksi, menarik kesimpulan, atau mendiskusikan pesan cerita.

Artinya, satu buku yang sama tetap dapat digunakan untuk seluruh kelas. Yang membedakan adalah cara guru memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

Tiga cara sederhana mendampingi anak membaca

Lalu, bagaimana orang tua dan guru dapat menerapkan kegiatan membaca interaktif?

Ada tiga pendekatan yang efektif untuk mendukung perkembangan bahasa dan pemahaman bacaan anak sebagai langkah awal.

Pertama, bertanya sebelum, selama, dan setelah membaca (traditional interactive reading). Sebelum membaca, ajak anak mengamati sampul buku dan menebak isi cerita. Selama membaca, berhentilah sesekali untuk mengajukan pertanyaan, misalnya, “Menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?” Setelah selesai, diskusikan tokoh, masalah, dan pesan cerita untuk memantik pola pikir kritis sekaligus memahami isi bacaan sang anak.

Kedua, fokus pada satu tujuan membaca (interactive reading with focused attention). Orang tua atau guru memilih satu fokus dalam setiap kegiatan membaca, misalnya mengenalkan kosakata baru, memahami emosi tokoh, atau mencari hubungan sebab-akibat dalam cerita. Dengan memiliki satu fokus yang jelas, anak lebih mudah memperhatikan informasi penting dan memahami cerita secara lebih mendalam.

Ketiga, mengajak anak menceritakan kembali isi cerita melalui mind map. Setelah membaca, anak diajak menggambarkan tokoh, tempat, masalah, jalan cerita, dan penyelesaiannya dalam bentuk gambar atau peta sederhana. Aktivitas ini membantu anak mengingat isi cerita sekaligus melatih kemampuan mereka mengorganisasi dan menyusun informasi secara runtut.


Read more: 5 tips membuat anak senang membaca, beserta rekomendasinya


Indonesia telah berupaya memperluas akses terhadap buku bacaan melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), distribusi jutaan buku bacaan bermutu, serta penyediaan berbagai buku cerita digital yang dapat diakses secara gratis.

Karena itu penting bagi anak untuk bisa menikmati dibacakan cerita oleh orang dewasa, terlepas dari apakah mereka sudah mampu membaca sendiri atau belum terlebih dahulu.

Setiap anak punya daya serapnya masing-masing. Yang jauh lebih penting adalah orang tua dan anak banyak menyediakan waktu untuk duduk bersama, membuka sebuah buku, lalu membaca, bertanya, dan berdiskusi bersama untuk tumbuh kembang si buah hati.


Read more: Refleksi Kurikulum Merdeka: Buku cerita anak perkuat literasi siswa



0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.