Mon,3 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Odyssey, Tentang Karma dan Laku Spiritual Sufi Seorang Odysseus

Odyssey, Tentang Karma dan Laku Spiritual Sufi Seorang Odysseus

odyssey,-tentang-karma-dan-laku-spiritual-sufi-seorang-odysseus
Odyssey, Tentang Karma dan Laku Spiritual Sufi Seorang Odysseus
service

BAGI saya cerita Film Odyssey cukup berat, meleset dari ekspektasi dan imajinasi awal–bahwa ceritanya akan ringan mirip film-film lain tentang sejarah perang Troya yang rilis jauh sebelumnya. Ternyata tidak demikian. Film ini serius, penuh makna tentang laku sepiritual manusia, tentang karma dan penyucian jiwa seorang hamba, yakni si Odysseus (Matt Demon), Raja Ithaca, tokoh utama film yang dalam karya epos kuno Homeros sosoknya digambarkan sebagai polytropos; pria dengan banyak cara, banyak akal, ceria, cerdik, tapi sekaligus licik.

Cerita film berfokus pada Odysseus dan keluarganya: istrinya, Penelope (Anne Hathaway), serta putranya, Telemachus (Tom Holland). Namun, keangkuhan Odysseus memicu murka para dewa—terutama Poseidon—yang mengutuk pelayarannya menjadi bencana selama 10 tahun berikutnya di lautan lepas. Kesan setelah dua jam lebih menonton film ini, hati seperti larut dalam suasana gelap zaman perungggu. Bagi saya, sosok Odysseus dalam film ini teramat serius sebagai pemikir, walaupun dalam naskah Homeros sebenarnya digambarkan lebih ceria. 

Berikutnya struktur cerita juga tidak linier konvensional. Christopher Nolan sebagai produser menerapkan struktur narasi non-linear (maju-mundur) yang menjadi ciri khasnya. Cerita melompat di antara keputusasaan Odysseus di tengah monster laut, kilas balik penyesalan pasca-perang, serta situasi kacau di Ithaca di mana rumahnya dikepung oleh ratusan pelamar yang memaksa Penelope menikah lagi gara-gara suaminya menjadi “Bang Thoyib” yang tidak pulang-pulang selama 20 tahun; 10 tahun perang dan 10 tahun terombang-ambing menerima kutukan.

Pendekatan realis-surealis Nolan tidak menampilkan wujud dewa-dewi sebagai monster CGI (Computer-Generated Imagery) yang bombastis. Misalnya Zendaya yang memerankan Athena dihadirkan menyerupai personifikasi batin atau manifestasi dari rasa bersalah Odysseus sendiri. Rintangan mitologis seperti Cyclops, penyihir Circe, hingga perjalanan ke tanah Hades dibalut dengan nuansa psychological horror dan ketegangan batin yang sangat pekat. Ditambah sisi sinematografi yang kuat, membuat visualisasi film ini menuai pujian luas dari para kritikus. 

Konon, ini merupakan film pertama Nolan yang seluruh gambarnya direkam menggunakan kamera IMAX. Hasilnya adalah visual lautan lepas yang seolah tanpa batas, badai mengerikan yang masif, serta lanskap kuno yang menangkap skala kegelapan dunia purba secara luar biasa. Nolan juga konsisten dengan gaya penyutradaraannya, meminimalisasi penggunaan green screen. Amarah Poseidon dan Zeus dieksekusi lewat simulasi badai serta efek praktikal air yang membuat bahaya di laut terasa real. Atmosfer dan pencahayaan film juga dibuat sangat kontras, gelap, dominan hitam-putih namun puitis. 

Sehingga, secara keseluruhan visual film ini memberikan kesan estetika Zaman Perunggu yang runtuh, mempertegas atmosfer keputusasaan, kelelahan fisik, dan spiritual para kru kapal Odysseus yang mati satu demi satu.

Jalan cerita dalam film

Odysseus merupakan sosok kunci kemenangan koalisi pasukan Yunani (kaum Akhaia) melalui tipu muslihat Trojan Horse (Kuda Troya) yang masyhur itu. Kuda troya dibuat dari pecahan kapal, dibangun menyerupai patung kuda berukuran raksasa yang di dalamnya disisakan ruang bersembunyi bagi beberapa prajurit Akhaia. Patung kuda ini sebagai persembahan bagi Dewi Perang Athena–sesembahan orang Troya–sekaligus pengakuan kekalahan pasukan Akhaia yang gagal menjebol benteng selama perang 10 tahun. 

Akan tetapi persembahan Trojan Horse sebenarnya hanya akal bulus semata. Melalui strategi itu Odysseus berhasil menipu manusia satu negara, ketika patung yang dianggap seserahan hadiah diseret masuk ke dalam benteng kerajaan. Rakyat Troya pun berpesta merayakan kemenangan. Namun malam hari setelah pesta “kemenangan tipu-tipu” itu, dari dalam patung kuda satu demi satu pasukan Akhahia mengendap-endap keluar ketika suasana sepi. Mereka membuka pintu gerbang benteng dari dalam, sehingga pasukan Akhaia yang sudah siap di luar menyerbu masuk. 

Pada momentum itulah tejadi apa yang dikenal dunia sebagai tragedi pembantaian orang-orang Troya, karena bukan hanya menargetkan pasukan, tetapi pembantaian menyasar para perempuan, orang tua, anak-anak, bahkan bayi. Semuanya dibantai. Pasukan Akhahia benar-benar kalap sampai membumihanguskan kerajaan, membakar rumah penduduk, kuil dewa, serta melakukan hal tabu lainnya; memenggal kepala patung Athena. Di tengah pembantaian itulah Odysseus justru terdiam dan merasa hening sendirian. Ia tidak mengira tipu muslihat perangnya akan menimbulkan kengerian semacam itu.

Logika pikiran dan perasaan Odysseus berkecamuk. Satu sisi muncul kecongkakkan atas kemampuan akalnya, bangga dengan kemenangan yang diraih kaumnya. Tapi jauh di dalam hatinya ada kegundahan, penyesalan terhadap dampak pembantaian perang. Namun kesombongan Odysseus yang terlampau memuja akal dan mengerdilkan Tuhan itu menyangkal semua penyesalan, bahwa apa yang dia lakukan sudah benar dan Tuhan tidak ikut campur pada apa yang terjadi dalam tragedi. Namun ujian datang setelah perang, Athena seperti membayang-bayangi perjalanan pulangnya, memperingatkan karma perbuatan dan kesombongannya yang dimanifestasikan dalam percakapan batin.

Tapi karena si Odysseus terlalu menuhankan akal, dalam perjalanan berlayar pulang ke Ithaca, raja yang sangat memercayai navigasi akal dan pengetahuan itu memutuskan berlayar sendiri bersama prajuritnya. Ia kemudian singgah di pulau raksasa bermata satu, Cyclops. Tanpa bicara apapun, Odysseus memanah mata si raksasa sampai buta. Yang tidak diketahui Odysseus, Cyclops ternyata putra Dewa Poseidon, penguasa laut dan badai. Ketika diingatkan oleh prajuritnya bahwa perbuatan Odysseus akan membuat Poseidon marah, raja Ithaca itu justru menyangkalnya.

Singkat cerita, dalam perjalanan kabur dari pulau Cyclops, hujan badai datang membuat beberapa kapalnya pecah dan karam. Beberapa prajuritnya mati di tengah samudera. Odysseus telah dikutuk Poseidon, bahwa hidupnya akan terombang-ambing tidak bisa pulang, sementara pasukannya akan mati perlahan-lahan. Benar, selama 10 tahun sang raja Ithaca yang menuhankan akal itu pada akhirnya terkatung-katung hidup sendirian, sementara pasukannya satu demi satu tewas dalam berbagai kutukan dan karma.

Ada beberapa penggalan cerita ujian yang harus dihadapi Odysseus bersama pasukannya. Saat bertemu dengan penyihir (circe) yang mengutuk seluruh prajuritnya menjadi babi, kemudian bertemu Ciren dengan nyanyian mematikannya. Lalu saat singgah di pulau kematian (Hades), dipertemukan dengan roh seluruh prajurit Akhaia yang menyalahkan segala tipu muslihat Odysseus, termasuk roh Raja Aghamemnon, penguasa Akhaia yang mati terkena karma dibantai secara kejih oleh istrinya sendiri.

Peristiwa-peristiwa yang dialami Odysseus tersebut mulai menyadarkannya. Bahwa ada banyak hal rahasia Tuhan yang tidak terjangkau akal dan pikiran. Dalam perjalanan di Laut Aegean misalnya, Ia diperingatkan akan menemui banyak rintangan. Akan ada pemberontakan para prajurit ketika berada di pulau Dewa Matahari (Hellios). Di pulau itu Odysseus diingatkan agar tidak menumpahkan darah atau menyembelih apapun. Akan tetapi prajuritnya yang lapar membantahnya lalu memburu binatang untuk dimakan. Hal ini lagi-lagi membuat Dewa murka yang dampaknya dipecahkanlah semua kapal oleh badai yang menyebabkan seluruh prajurit mati hingga menyisakan Odysseus seorang lalu terdampar di Pulau Calypso.

Selama tujuh tahun Odysseus terdampar di pulau tersebut ditemani Calypso, dewi kecantikan putri dari Atlas. Sampai akhirnya Ia teringat semua jalan peristiwa yang dialaminya. Sebab musababnya, tentang karma dan kesombongannya. Odysseus diingatkan baru akan bisa pulang ke Ithaca kalau bisa berserah diri dan memohon ampunan Dewa. Di titik itulah ia mendapatkan pencerahan, bahwa kepasrahan pada Tuhan akan memurnikan jiwanya. Berbekal kayu rakit Odysseus lalu menceburkan diri ke lautan sambil memasrahkan hidup pada kehendak Dewa. Setelah itu keajaiban terjadi, Ia benar-benar terbangun, tersadar telah pulang sampai Ithaca.

Sesampainya di Ithaca, ia menyaru menjadi pengemis dan membuang semua status pangkat serta jabatan yang melekat pada dirinya sebagai raja. Odysseus lalu memilih jalur sufi, menepi dari kehidupan duniawi, melepas semua belenggu akal dan budinya, sambil mengajak istri yang dicintainya pergi mengarungi samudera luas menyusuri jalan ketuhanan secara paripurna sebagai pengejawantahan manusia yang patuh dan tunduk pada kehendak Tuhannya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.