Tue,4 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Bagaimana Nelayan Bajo Bertahan Berminggu-minggu di Laut?

Bagaimana Nelayan Bajo Bertahan Berminggu-minggu di Laut?

bagaimana-nelayan-bajo-bertahan-berminggu-minggu-di-laut?
Bagaimana Nelayan Bajo Bertahan Berminggu-minggu di Laut?
service

Bagi nelayan Bajo di Desa Monsongan, Banggai Laut, melaut bukan sekadar perjalanan mencari ikan. Ada tradisi bernama babangi, yakni mengarungi laut dan bermalam jauh dari desa selama berminggu-minggu, bahkan dahulu bisa berbulan-bulan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang alam, hubungan sosial, dan kebutuhan ekonomi bertemu dalam satu perjalanan. Komunitas Bajo telah menetap di Monsongan sejak awal 1940-an. Sebagai masyarakat yang kehidupannya sangat dekat dengan laut, mereka mewarisi pengetahuan tentang angin, arus, musim, lokasi terumbu karang, dan perilaku ikan. Pengetahuan tersebut tidak diperoleh dari buku, melainkan dikumpulkan melalui pengalaman dan diteruskan antargenerasi. Dahulu, nelayan menjalani babangi menggunakan perahu layar beratap. Mereka menangkap ikan dasar dengan pancing, kemudian menukarkan hasilnya dengan beras, sagu, atau umbi-umbian. Dalam perjalanan panjang, keluarga pun dapat ikut serta. Mereka tinggal di babaroh, rumah singgah semi permanen yang dibangun di atas atol atau pulau kecil. Kini, bentuk babangi berubah. Mesin telah menggantikan layar, sementara perjalanan umumnya dilakukan kelompok kecil yang terdiri dari lima hingga enam perahu. Istri dan anak tidak lagi ikut, sedangkan waktu melaut menyusut menjadi sekitar dua minggu. Meski demikian, perempuan tetap terhubung secara simbolis melalui sejumlah pantangan selama suami berada di laut. Kerja kelompok menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Para nelayan membawa bahan bakar, air tawar, beras, dan perlengkapan dari desa. Jika ada anggota yang kekurangan bekal, jatuh sakit, atau mengalami kerusakan perahu, anggota lain akan membantu. Di tengah laut, solidaritas bukan sekadar nilai budaya, tetapi juga strategi untuk bertahan hidup. Kelangsungan babangi sangat bergantung pada kesehatan terumbu karang. Nelayan menyebut lokasi tangkap di…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.