Mon,3 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Mengapa Populasi Orangutan di Sumatera Terus Turun?

Mengapa Populasi Orangutan di Sumatera Terus Turun?

mengapa-populasi-orangutan-di-sumatera-terus-turun?
Mengapa Populasi Orangutan di Sumatera Terus Turun?
service
  • Populasi orangutan di Sumatera terus menurun. Organisasi pegiat satwa menilai, kondisi ini tidak lepas dari masifnya perburuan, perdagangan ilegal serta alih fungsi habitat primata ini. Orangutan menjadi komoditas berharga dalam jaringan perdagangan satwa liar, baik di pasar gelap domestik maupun internasional.
  • Kementerian Kehutanan merilis data terbaru, 18 Juli, yang menyebut populasi orangutan Sumatera kini tersisa 11.694 individu atau turun 19,5% dari tahun 2011, sedangkan orangutan Tapanuli hanya tinggal 716 individu. 
  • Hamzah Bireuen, Identification Specialist Tim for Madina, mengurai pola jaringan yang mereka temukan. Proses pengiriman ke Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Uni Emirat Arab, Kamboja, serta Tiongkok berjalan lancar karena menggunakan berbagai jalur transportasi. Sebagian besar lewat laut dan kawasan perbatasan yang berdekatan, membuat pemantauan sulit.
  • Forum Investigator Zoo Indonesia menyoroti sisi domestik turunnya populasi orangutan. Jalal Ibrahim, Legal Advisor Forum Investigator Zoo Indonesia, menjelaskan, orangutan keluar dari kawasan lindung karena perubahan lingkungan tempat tinggalnya yang berubah secara drastis bentuk dan fungsinya.

Populasi orangutan di Sumatera terus menurun. Kementerian Kehutanan merilis data terbaru, 18 Juli, yang menyebut populasi orangutan Sumatera kini tersisa 11.694 individu atau turun 19,5% dari tahun 2011, sedangkan orangutan Tapanuli hanya tinggal 716 individu. Organisasi pegiat satwa menilai, kondisi ini tidak lepas dari masifnya perburuan, perdagangan ilegal serta alih fungsi habitat primata ini. Orangutan menjadi komoditas berharga dalam jaringan perdagangan satwa liar, baik di pasar gelap domestik maupun internasional.

Hamzah Bireuen, Identification Specialist Tim for Madina, mengurai pola jaringan yang mereka temukan. Dia bilang, proses pengiriman ke Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Uni Emirat Arab, Kamboja, serta Tiongkok berjalan lancar karena menggunakan berbagai jalur transportasi. Sebagian besar lewat laut dan kawasan perbatasan yang berdekatan, membuat pemantauan sulit.

Asia Tenggara, katanya, menjadi jalur utama karena akses penghubung ke berbagai belahan dunia. Thailand paling sering jadi tempat persinggahan sekaligus tujuan akhir.

Letaknya strategis sebagai pusat jalur perdagangan internasional, dan pengawasan di masa lalu belum ketat. Selanjutnya, berdasarkan permintaan, orangutan akan berangkat lagi ke Timur Tengah dan Eropa.

Sementera untuk jalur laut, menggunakan perairan Selat Malaka, yang berbatasan langsung dengan Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Orangutan berasal dari wilayah Sumatera.

Meskipun demikian, beberapa upaya penyelundupan berhasil otoritas gagalkan. Para pelaku pun proses hukum di negara tujuan, dan satwa tersebut kembali ke Indonesia melalui mekanisme perjanjian internasional.

Hal ini sejalan dengan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yang mengatur perdagangan satwa dan tumbuhan liar guna mencegah kepunahan. Orangutan termasuk dalam daftar Lampiran I yang melarang sepenuhnya perdagangan untuk tujuan komersil. Berdasarkan ketentuan ini, setiap satwa yang sitaan di negara manapun wajib kembali ke tempat asalnya.

Namun, Hamzah bilang, hanya sebagian kecil kasus yang berhasil terungkap. Masih banyak yang lolos hingga sampai ke tangan pemesan dan jaringan akhir.

Menurut dia kesulitan membongkar jaringan ini karena sistem yang rapi, terorganisir dan berjalan lama. Pelaku memanfaatkan jalur perdagangan umum, yang membuat sulit bedakan dan lacak kegiatan ilegal.

Pelaku juga kerap mengubah rute pengiriman serta berkomunikasi secara tertutup untuk menghindari pengawasan pihak berwenang. Kegiatan ini juga melibatkan banyak pihak, semakin panjang jalur, semakin besar kesempatan menghindari pengawasan yang ada.

“Mereka juga sering mengubah dokumen agar tampak sah dan resmi. Kondisi ini membuat proses pemeriksaan menjadi lebih sulit dan memakan waktu yang cukup lama.”

Induk dan anak orangutan tapanuli yang terpantau langsung di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Negara transit dan tujuan

Catatan for Madina, petugas bisa mengamankan penyelundupan tujuh orangutan  dari Hutan Leuser dan Batang Toru ke negara lain, lalu pulang ke Indonesia. Tahun 2021, Malaysia mengamankan satu orangutan sumatera. Kemudian Singapura menggagalkan upaya penyelundupan satu orangutan Sumatera dan satu orangutan Tapanuli pada  2023. Pada 2025, empat,   tiga orangutan sumatera dan satu  tapanuli  otoritas Thailand selamatkan. Sekaligus ini  jumlah tertinggi dalam satu tahun.

Thailand jadi tujuan akhir sekaligus pusat transit utama. Di sana, pengawasan dan serta penegakan hukum masih memiliki banyak celah, serta ada jaringan perantara yang sudah mapan, dan tingginya minat dari para kolektor atau  swasta.

Singapura sebagai tempat transit strategis karena terletak di jalur perdagangan internasional utama. Malaysia,  berperan ganda, baik tujuan maupun persinggahan sementara, karena letak  berbatasan langsung dengan Indonesia.

Singapura  jarang menjadi pilihan tujuan karena  negara ini memiliki sistem pengawasan  ketat. Jadi,  pemeriksaan yang hampir menyeluruh terhadap setiap barang masuk dan keluar membuat dokumen palsu atau barang yang mencurigakan hampir pasti akan terdeteksi.

Karena itu, pelaku biasa memilih rute lewat Thailand terlebih dulu sekalipun rute memutar. Di sana, mudah mengubah dokumen seolah orangutan berasal dari negara gajah putih ini.

“Hal itu pula yang menyebabkan barang apa pun yang diketahui berasal dari Indonesia sering kali langsung dicurigai oleh petugas Bea Cukai dan otoritas terkait di negara tujuan, karena tingginya rekam jejak kasus perdagangan satwa dari wilayah ini,” kata  Hamzah.

Setelah menampung, merawat dan mengubah dokumen di negara transit, orangutan ini menuju negara pengiriman selanjutnya. Dari Thailand biasa ke Tiongkok, Vietnam, atau negara-negara Eropa seperti Prancis dan Jerman.  Dari Malaysia, seringkali ke Singapura atau Brunei.

“Orangutan Sumatera dan Tapanuli masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal. Karena itu, upaya pencegahan, penindakan, dan pemulihan harus terus diperkuat demi menjaga keberlangsungan hidup kedua jenis satwa yang sangat langka ini.”

Menhut Raja Juli Anthony saat meninjau bayi orangutan yang direpatriasi dari Thailand. Foto: Kemhut.

Alih fungsi kawasan

Forum Investigator Zoo Indonesia menyoroti sisi domestik turunnya populasi orangutan. Jalal Ibrahim, Legal Advisor Forum Investigator Zoo Indonesia, menjelaskan, orangutan keluar dari kawasan lindung karena perubahan lingkungan tempat tinggalnya yang berubah secara drastis bentuk dan fungsinya.

Amenson Girsang, Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Kabanjahe, BBKSDA Sumut, menyatakan, pemerintah terus lakukan beragam upaya pengawasan. Misal, lewat kerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk bertukar informasi terkait keberadaan satwa liar, khususnya orangutan.

“Pemantauan di lapangan dilaksanakan melalui sistem patroli terencana yang disesuaikan dengan kondisi wilayah, baik di dalam maupun di luar kawasan lindung,” ucapnya.

Di Langkat, untuk menangani masalah,  terbentuk kelompok kerja penanganan konflik satwa liar. Juga, perkuat pengawasan jalur peredaran dengan pos pengawasan di Pelabuhan Belawan dan Bandar Udara Internasional Kualanamu. Langkah ini, katanya,  untuk memutus akses yang kerap pelaku perdagangan manfaatkan.

“Pengawasan terhadap jaringan perdagangan juga ditingkatkan melalui kerja sama dengan Balai Gakkumhut Wilayah Sumatera. Dilakukan pemantauan data dari berbagai sumber termasuk media sosial, serta koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mengawasi lokasi dan lintasan yang diduga digunakan dalam transaksi satwa liar.”

Orangutan tapanuli ini ditemukan bukan di Batang Toru, melainkan di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada Jumat, 26 September 2025. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

*****

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Kredit

Topik

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.