Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai kepulauan rempah. Wilayah ini juga menyimpan kekayaan pangan yang tumbuh dari kebun, pekarangan, hingga lahan pertanian masyarakat. Sagu, jagung, pisang, sukun, singkong, kacang-kacangan, dan beragam jenis ubi menjadi bagian dari sumber daya genetik yang berpotensi menopang kebutuhan pangan daerah.
Hasil identifikasi sumber daya genetik tanaman pada 2020 menunjukkan sedikitnya 49 tanaman pangan dan hortikultura asal Maluku Utara telah terdaftar di Kementerian Pertanian. Jumlah tersebut mencakup 41 aksesi tanaman pangan dan delapan tanaman hortikultura.
Keragamannya meliputi 13 varietas padi, 11 jenis ubi jalar, 9 jenis ubi kayu, 5 jenis kacang tanah, 2 varietas jagung, 1 jenis satu kacang tunggak. Sementara itu, kelompok hortikultura terdiri dari jeruk, bawang merah, dua jenis pisang, serta empat jenis sukun. Data tersebut menggambarkan bahwa sumber karbohidrat masyarakat Maluku Utara sebenarnya jauh lebih beragam daripada beras.
Salah satu pangan yang memiliki potensi besar adalah batatas, sebutan masyarakat setempat untuk ubi jalar. Di Halmahera Barat, tanaman ini tidak hanya dikonsumsi sebagai pangan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan petani. Permintaannya datang dari berbagai wilayah, seperti Halmahera Tengah, Ternate, hingga Maluku Tenggara.
Sedikitnya terdapat empat jenis batatas lokal yang dikembangkan petani, yakni batatas warna tinta atau ungu, batatas oranye berdaun menjari, batatas kuning berdaun menjari, dan batatas putih berdaun lebar. Perbedaan warna dan bentuk tersebut menunjukkan keragaman genetik yang penting untuk dipertahankan.
Setiap varietas dapat memiliki karakter berbeda, mulai dari rasa, tekstur, warna daging, kandungan zat gizi, hingga kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan. Keragaman ini memberi petani lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan tanaman dengan jenis tanah, ketersediaan air, serta kebutuhan pasar.
Batatas juga relatif mudah dibudidayakan. Tanaman ini tidak membutuhkan terlalu banyak air dan dapat ditanam sebagai tanaman sela di antara komoditas lain. Pola tumpang sari tersebut telah lama dipraktikkan oleh masyarakat Tobaru dan Sahu di Halmahera Barat. Dengan cara ini, satu bidang lahan dapat menghasilkan beberapa jenis pangan sekaligus.
Selain ubi jalar, sagu juga berpotensi menjadi sumber energi penting. Dalam setiap 100 gram, sagu mengandung sekitar 84 gram karbohidrat. Sagu dapat diolah menjadi papeda dan berbagai makanan tradisional lain. Singkong, talas, pisang, dan sukun juga dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif.
Kekayaan pangan Maluku Utara tidak berhenti pada jenis tanamannya, tetapi juga terlihat dalam tradisi pengolahannya. Salah satunya adalah kobong, sajian yang berisi papeda, aneka ubi dan pisang rebus, lalapan sayur, serta kuah ikan. Dalam satu hidangan, masyarakat memperoleh karbohidrat dari beragam tanaman, dilengkapi protein ikan dan sayuran.
Potensi ini membuka peluang untuk mengembangkan berbagai produk olahan. Ubi dapat dijadikan tepung, makanan ringan, atau bahan pangan siap saji. Pisang, sukun, jagung, dan sagu juga dapat diolah menjadi produk yang lebih tahan lama dan bernilai ekonomi tinggi.
Keanekaragaman pangan tersebut merupakan kekayaan biologis sekaligus budaya. Setiap varietas menyimpan hasil adaptasi tanaman, pengalaman petani, dan pengetahuan kuliner yang diwariskan antargenerasi. Menjaganya berarti mempertahankan lebih banyak pilihan pangan untuk masa depan Maluku Utara.
Artikel asli ditulis oleh Mahmud Ichi.
Foto utama: Carolina bersama putrinya memanen ubi jalar, sumber pangan lokal di Maluku. Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia.





Comments are closed.