Jakarta, NU Online
Sedikitnya 40 peti jenazah anak berjajar di antara 112 peti yang dimakamkan secara bersamaan di Kota Gaza pada Selasa (4/8/2026). Jasad mereka berhasil dievakuasi dari reruntuhan blok permukiman yang hancur akibat serangan udara Israel pada November 2023.
Pemakaman massal tersebut menjadi salah satu yang terbesar di Jalur Gaza sejak perang pecah pada Oktober 2023. Selama lebih dari dua setengah tahun, jasad para korban, termasuk puluhan anak, tertimbun di bawah puing-puing bangunan sebelum akhirnya ditemukan oleh tim pertahanan sipil Gaza.
Laporan media setempat menyebutkan masih ada sekitar 157 jenazah lain yang diperkirakan belum berhasil dievakuasi dari lokasi yang sama.
Direktur Regional Save the Children untuk Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa Timur, Ahmad Alhendawi, menyebut peristiwa tersebut sebagai pemandangan yang sangat memilukan.
“Kami menyaksikan pemandangan yang menyayat hati di Gaza hari ini, ketika keluarga dan sahabat puluhan anak serta orang dewasa akhirnya dapat memakamkan orang-orang yang mereka cintai,” ujarnya dikutip dari Arab News.
Menurut Alhendawi, tidak ada keluarga yang seharusnya mengalami penderitaan kehilangan anak, terlebih harus menunggu bertahun-tahun sebelum dapat menguburkan jenazah mereka secara layak.
Ia menilai lambatnya proses evakuasi jenazah dipengaruhi pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap tim pencarian dan penyelamatan.
“Otoritas Israel terus membatasi akses bagi tim pencarian dan evakuasi serta menghalangi masuknya alat berat, peralatan khusus, dan sumber daya forensik yang diperlukan untuk mengangkat jenazah yang masih tertimbun reruntuhan,” katanya.
Alhendawi mendesak agar pembatasan tersebut segera dicabut. Ia menegaskan setiap keluarga berhak menemukan, mengidentifikasi, dan memakamkan anggota keluarganya secara layak. Ia juga menyerukan penghentian serangan udara yang terus menambah jumlah korban sipil.
Anak-anak Menanggung Beban Terberat
Dampak perang terhadap anak-anak di Gaza dinilai sangat besar. Otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 21.000 anak tewas sejak Oktober 2023, sementara lebih dari 44.000 lainnya mengalami luka-luka. Banyak di antaranya kehilangan anggota tubuh atau mengalami disabilitas permanen.
Laporan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki dan Israel yang diterbitkan pada 23 Juni 2026 menyimpulkan bahwa penderitaan tersebut terjadi secara disengaja.
“Bukti menunjukkan bahwa anak-anak Palestina secara sengaja menjadi sasaran dan dibunuh oleh pasukan keamanan Israel,” kata Ketua Komisi, Srinivasan Muralidhar.
Ia menambahkan, bahkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, anak-anak Palestina masih terus menjadi korban tewas maupun luka berat. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan pengabaian terhadap perlindungan anak yang dijamin hukum internasional.
Komisi PBB juga menyebut luka fisik dan psikologis, trauma massal, kehilangan orang tua, perpisahan keluarga, disabilitas, pengungsian berulang, kelaparan, serta runtuhnya sistem pendidikan dan layanan kesehatan telah “menghapus masa kanak-kanak” generasi Gaza dan diperkirakan akan berdampak sepanjang hidup mereka.
Kehilangan Menjadi Bagian Kehidupan
Bagi warga Gaza, dampak perang tidak hanya tercermin dari jumlah korban, tetapi juga dari kehilangan yang terus membayangi kehidupan sehari-hari.
Maysa Yousef, seorang seniman sekaligus ibu dari empat anak yang tinggal di Gaza tengah, mengatakan anak-anaknya tumbuh dalam bayang-bayang kehilangan.
“Dalam keluarga kami sendiri, banyak anggota keluarga meninggal tanpa alasan. Bagi militer Israel, warga Gaza hanyalah angka,” ujarnya kepada Arab News.
Ia menuturkan putri keduanya kehilangan seluruh teman bermain dan guru-gurunya yang tewas dalam perang. Putranya pun mengalami pengalaman serupa.
“Dengan begitu banyak orang terbunuh, kehilangan menjadi bagian yang sangat besar dalam kehidupan anak-anak ini. Bagaimana kita bisa mengatakan kepada seorang anak bahwa semuanya akan baik-baik saja?” katanya.
Selain menghadapi trauma, banyak anak di Gaza kini memikul tanggung jawab orang dewasa, seperti mengangkut air dari tempat yang jauh atau mengantre berjam-jam demi mendapatkan sedikit makanan bagi keluarganya.
Psikolog konseling dari City St George’s, University of London, Dr. Jeeda Alhakim, menjelaskan kondisi tersebut dikenal dalam psikologi sebagai parentification, yaitu ketika anak mengambil peran dan tanggung jawab orang dewasa.
Namun, menurutnya, konsep tersebut belum sepenuhnya mampu menggambarkan situasi di Gaza.
“Yang terjadi di Gaza bukan sekadar masalah keluarga, tetapi karena seluruh infrastruktur kehidupan sehari-hari telah hancur,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak anak tetap bertahan karena berpegang pada nilai sabr (kesabaran) dan sumud (keteguhan) yang berakar dalam tradisi Islam dan budaya Palestina.
“Anak yang mengangkut air bukan hanya sedang menderita. Ia juga memahami bahwa dirinya berkontribusi bagi kelangsungan hidup keluarganya. Secara psikologis, hal itu memiliki makna penting,” katanya.
Hingga kini, ratusan lokasi yang hancur akibat perang di Gaza masih belum dibersihkan. Banyak korban diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.
“Bagi kami, jumlah korban terus bertambah. Kami tidak ingin mempercayainya, tetapi sekarang kami yakin: kami hanya dianggap sebagai angka. Israel melakukan apa yang diinginkannya dan tidak ada yang meminta pertanggungjawaban,” ujar Maysa.





Comments are closed.