Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ancaman Badai Matahari Bisa Dua Kali Lebih Parah dari Perkiraan, Ancam Jaringan Listrik dan Satelit Global: NASA

Ancaman Badai Matahari Bisa Dua Kali Lebih Parah dari Perkiraan, Ancam Jaringan Listrik dan Satelit Global: NASA

ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan,-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global:-nasa
Ancaman Badai Matahari Bisa Dua Kali Lebih Parah dari Perkiraan, Ancam Jaringan Listrik dan Satelit Global: NASA
service

Selama puluhan tahun, ilmuwan dan operator satelit meyakini bahwa medan magnet Bumi memiliki batas alami dalam merespons badai Matahari, sehingga kerusakan pada jaringan listrik dan satelit tidak akan melampaui ambang tertentu. Sebuah studi yang dipimpin oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menantang asumsi itu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa batas jenuh geomagnetik yang selama ini diyakini kemungkinan besar hanyalah ilusi statistik, dan jika temuan ini benar, dampak badai Matahari ekstrem terhadap jaringan listrik dan satelit global bisa dua kali lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Studi ini dipublikasikan di jurnal Nature pada 15 Juli 2026, dipimpin oleh Dr. Nithin Sivadas dari Goddard Space Flight Center milik NASA,  mengkaji ulang data historis yang selama ini menjadi dasar model cuaca antariksa. Anggapan mengenai batas jenuh ini sebelumnya diterima secara luas di kalangan ilmuwan cuaca antariksa. Setidaknya sepuluh teori berbeda pernah diajukan untuk menjelaskan mengapa magnetosfer Bumi tampak tidak bisa merespons lebih jauh meski angin surya semakin kuat, mulai dari dugaan batas fisik pada rekoneksi medan magnet hingga tekanan plasma. Studi terbaru ini menunjukkan bahwa penjelasan tersebut tidak diperlukan karena batas itu kemungkinan tidak pernah benar-benar ada. Ilusi yang Muncul dari Kesalahan Pengukuran Selama ini, data cuaca antariksa banyak bergantung pada satelit yang berada di titik Lagrange 1 (L1), sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi ke arah Matahari, atau sekitar empat kali jarak Bumi ke Bulan. Titik ini dipilih karena satelit di sana bisa mendeteksi angin surya lebih dulu, sebelum partikel tersebut tiba di Bumi. Namun, jarak yang jauh ini juga menjadi masalah: kekuatan angin…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.