Jakarta, Arina.id—Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menilai, ada dua nilai yang harus dimiliki oleh calon Ketua Umum PBNU, yakni al-ishlah wal-ishlah. Ia menuturkan, pemimpin nahdliyin di masa depan harus bisa mendamaikan semua kelompok yang bertikai.
“Ya tadi, harus punya kemampuan melakukan dua hal al-ishlah wal-ishlah. Ishlah pertama itu mendamaikan semua kelompok yang bersengketa, karena tanpa persatuan tidak mungkin,” kata Ma’ruf kepada wartawan usai gelaran Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Komplek Gedung MPR RI, Sabtu (8/8).
Menurut dia, karakter ishlah menjadi penting karena NU merupakan organisasi besar yang menaungi berbagai kelompok dan elemen masyarakat. Karena itu, pemimpin NU harus mampu menjadi perekat ketika terjadi perbedaan dan mengutamakan kepentingan bersama.
“Kepemimpinan selanjutnya harus mampu menggerakkan organisasi dengan semangat perjuangan dan pengabdian,” ucapnya.
Kiai Ma’ruf menegaskan, NU tidak boleh hanya dipahami sebagai wadah berkumpul. Sejak awal, NU memiliki orientasi besar dalam memperjuangkan keadilan, keamanan, perbaikan kehidupan masyarakat, serta menghadirkan kemaslahatan.
“NU bukan hanya sekadar kumpul-kumpul, tetapi membawa pergerakan besar, baik dalam persoalan agama dan kemasyarakatan, ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, kemanusiaan, maupun kebangsaan,” tuturnya.
Ma’ruf menilai calon Ketum PBNU juga harus memiliki kualitas dan kapabilitas. Ia berharap, figur yang maju dalam Muktamar ke-35 PBNU bukanlah atas dorongan sejumlah pihak.
“Supaya ber-NU itu lebih pada kualitas. Ya, artinya pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan, bukan karena dorongan,” katanya.
Ma’ruf menilai, calon Ketum PBNU bisa memperbaiki dan memperbesar langkah bagi organisasi. “Kemampuan dua hal itulah, al-ishlah wal-ishlah. Kalau tidak, tidak akan mampu mengembalikan NU kepada khittahnya sesuai dengan qanun asasi. Saya kira itu,” pungkasnya.





Comments are closed.