Tue,11 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ibnu Harjo Al-Jawi dan Ketekunan Belajar Para Ulama Klasik

Ibnu Harjo Al-Jawi dan Ketekunan Belajar Para Ulama Klasik

ibnu-harjo-al-jawi-dan-ketekunan-belajar-para-ulama-klasik
Ibnu Harjo Al-Jawi dan Ketekunan Belajar Para Ulama Klasik
service

Mubadalah.id – Akhir-akhir ini, media sosial diramaikan dengan sosok yang dengan kerendahan hati dan ketekunannya dalam menjaga warisan khazanah Islam klasik. Ia berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai individu yang berkontribusi dalam mentahkik (menyunting) serta meneliti kitab-kitab klasik karya ulama Nusantara yang memiliki nilai keilmuan tinggi.

Penerima MUI Award 2026 itu, bernama Supriyanto bin Harjo (Mbah Riyan), dengan nama pena Ibnu Harjo al-Jawi. Di kampung halamannya, Kudus, Mbah Riyan terkenal sebagai seorang kuli bangunan. Karena memang kesehariannya ia isi dengan aktivitas yang berkelindan erat dengan material semen, batu, bata, pasir, dan bahan-bahan bangunan lainnya.

Namun demikian, kesederhanaan itulah yang menjadi salah satu sebab Mbah Riyan menjadi bahan obrolan di berbagai platform media sosial. Sebab manakala malam hari tiba, Mbah Riyan tidak lagi mencumbu material bangunan. Akan tetapi, ia mulai menjalin keakraban dengan kitab-kitab klasik, manuskrip, dan juga pena. Dengan bahasa yang sederhana, dua aktivitas yang Mbah Riyan lakukan. Siang membangun rumah secara fisik, malamnya membangun rumah untuk peradaban Islam yang cemerlang.

Dengan lebih dari seratus kitab yang sudah Mbah Riyan tahkik (sunting), kiranya sudah cukup untuk menjadikan masyarakat Indonesia—khususnya kaum pesantren—bertanya-tanya ihwal latar belakang pendidikan Mbah Riyan.

Namun menariknya, Mbah Riyan sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren. Alias tidak pernah mondok. Dalam satu ungkapan pengenalannya di Jombang, Mbah Riyan mengungkapkan latar belakang pendidikannya. Sedari MTs (Madrasah Tsanawiyah), MA (Madrasah Aliyah), hingga menempuh pendidikan tinggi di LIPIA. Kurang lebih, beliau mengatakan: “saya tidak pernah mondok, hanya ngaji kalong.”

Latar Belakang Mbah Riyan

Fakta latar belakang pendidikan Ibnu Harjo Al-Jawi yang tidak pernah mondok, kiranya menarik untuk kita refleksikan bersama. Hal ini, tiada lain agar optimisme kita dalam meraih cita-cita tidak mudah luntur oleh gengsi latar belakang dan almamater pendidikan.

Sebab masih banyak dari kita, bahkan dari kalangan mahasiswa sekalipun, yang cenderung pesimis dan minder hanya karena latar belakang dan almamater pendidikannya yang kurang mendukung.

Dengan merefleksikan perjalanan hidup Mbah Riyan (sosok pentahkik fenomenal dari Kudus), setidaknya kita menemukan faktor yang menjadikan Mbah Riyan dan para ulama terdahulu menjadi ‘alim bahkan ‘allamah (sangat berilmu). Faktor tersebut, tiada lain adalah ketekunannya dalam belajar.

Kita bisa membaca biografi para ulama klasik, dengan kehidupannya yang berliku, mulai dari faktor ekonomi yang tidak menentu, usia yang sudah tidak lagi muda, bahkan ancaman politik yang membelenggu.

Kisah-kisah demikian, dapat kita mulai dengan perjalanan hidup Hujjatul Islam, Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Dalam kisah yang masyhur, beliau adalah anak dari seseorang yang secara ekonomi terbilang sederhana, yang kesehariannya terisi dengan kegiatan memintal benang. Sehingga dalam satu riwayat, nama al-Ghazali sendiri berasa dari kata Ghazzal (penenun kain) yang dinisbatkan kepada pekerjaan ayahnya.

Namun dengan kesederhanaannya itu, al-Ghazali berhasil menerima gelar Hujjatul Islam (sang argumentator Islam). Ia menulis ratusan karya masyhur dalam berbagai bidang keilmuan, mulai dari fikih, ushul fikih, akhlak-tasawwuf, dan lain sebagainnya. Kitab-kitab al-Ghazali, sedikit banyaknya menjadi kitab yang wajib dikaji di beberapa pesantren di Indonesia. Tentunya satu kunci yang menjadikan beliau ‘alim, tiada lain adalah ketekunannya dalam belajar.

Nyala Intelektual Para Ulama Terdahulu

Begitu juga kisah masyhur seorang Ibnu Hajar al-Asqalani. Perjalanan menuntut ilmunya ia mulai manakala usianya sudah mulai senja. Bahkan dalam satu riwayat, faktor usia inilah yang pernah membuat Ibnu Hajar al-Asqalani kecewa dalam pengembaraannya mencari ilmu.

Namun, tekadnya kembali pulih seusai beliau merenungi tetesan air yang secara konsisten mampu melubangi sebuah batu keras. Dari situ, ia menyadari bahwa konsistensi dan ketekunan pada akhirnya akan meruntuhkan segala bentuk rintangan kebodohan.

Selain himpitan ekonomi dan tantangan usia yang tak lagi muda, rintangan berupa intrik dan belenggu politik nyatanya juga tak mampu memadamkan nyala intelektual para ulama terdahulu. Manifestasi paling nyata dari kegigihan ini dapat kita telusuri melalui kisah pengembaraan Ibnu Khaldun (w. 808 H/1406 M).

Hal tersebut sebagaimana tercatat dalam tulisan Muhammad Iqbal, sejarawan IAIN Palangka Raya dan editor Penerbit Marjin Kiri, yang berjudul Perjalanan Ibnu Khaldun Sebagai Ilmuwan Muslim Berpengaruh (Islami.co, 2018). Dalam catatan Muhammad Iqbal, Ibnu Khaldun hidup di era yang sangat bergejolak. Tepat ketika kekuasaan Islam di Barat tengah mengalami kemerosotan dan perpecahan.

Dalam pusaran sejarah yang tak menentu itu, Ibnu Khaldun kerap terombang-ambing, berpindah dari satu penguasa ke penguasa lain demi ruang untuk berkembang. Puncaknya, rentetan intrik politik yang keras ini tidak hanya merusak reputasinya di wilayah Maghrib, tetapi juga menjebloskannya ke balik jeruji besi, seperti pada tahun 774 H/1375 M ketika ia dipenjarakan di benteng Ibnu Salamah.

Namun, alih-alih meratapi nasib, jeruji besi justru ia ubah menjadi ruang kontemplasi yang sunyi. Di titik nadir pengasingan itulah kecemerlangan Ibnu Khaldun memuncak. Ia mulai mengamati jatuh bangunnya peradaban bangsa-bangsa, memisahkan wilayah kebenaran spiritual dari urusan sosial, dan meletakkan sejarah sebagai sebuah laboratorium sosiologi.

Ketekunan dalam Belajar

Makna terdalam dari perjalanan panjang Ibnu Harjo al-Jawi (Mbah Riyan) di era kiwari, al-Ghazali, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibnu Khaldun di masa lampau, terpatri dalam satu kunci yang patut dimiliki oleh seluruh pengembara ilmu di dunia. Ketekunan dalam belajar.

Dengan identitas sosial, ekonomi, usia, dan nasib politik yang berliku, bagi seseorang yang memiliki kedisiplinan dan ketekunan tinggi dalam menuntut ilmu, semuanya tidak otomotasi menjadi penghalang atau batu sandungan. Justru apa yang secara umum dianggap penghalang atau rintangan, dengan mudah kita taklukkan hanya dengan bermodalkan semangat dan ketekunan dalam belajar.

Dari sini saya teringat pesan hangat kiai Husein Muhammad, “Jangan biarkan hari-harimu tanpa membaca (belajar), membagi pengetahuan (menulis), dan menebarkan cinta.” []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.