Tue,18 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Fathan Mubinan: Yang Tampak Kalah, Justru Menang Nyata

Fathan Mubinan: Yang Tampak Kalah, Justru Menang Nyata

fathan-mubinan:-yang-tampak-kalah,-justru-menang-nyata
Fathan Mubinan: Yang Tampak Kalah, Justru Menang Nyata
service

Ada kemenangan yang dirayakan dengan sorak-sorai. Ada pula kemenangan yang pada hari pertama justru terasa seperti kekalahan. Perjanjian Hudaibiyah di tahun keenam hijriah termasuk yang kedua.

Nabi Muhammad saw bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat dari Madinah menuju Makkah. Mereka tidak datang membawa agenda perang. Mereka hendak melaksanakan umrah, membawa hewan kurban, dan mengenakan pakaian ihram. Namun Quraisy Makkah menghadang mereka. Ketegangan meningkat. Pasukan Quraisy bergerak, sementara kaum Muslimin berhenti di Hudaibiyah.

Di tengah situasi yang nyaris meledak, Nabi memilih jalan diplomasi. Sejumlah utusan datang dan pergi. Utsman bin Affan dikirim untuk menjelaskan bahwa kaum Muslimin tidak datang untuk berperang. Ketika sempat tersiar kabar bahwa Utsman terbunuh, Nabi mengambil baiat para sahabat di bawah sebuah pohon. Mereka berjanji tidak akan mundur apabila harus menghadapi Quraisy. Peristiwa itu dikenal sebagai Baiat al-Ridwan.

Perang tidak terjadi. Quraisy akhirnya mengirim Suhail bin Amr untuk berunding. Di sinilah drama Hudaibiyah mencapai puncaknya.

Ketika Nabi meminta agar dokumen diawali dengan “Bismillahirrahmanirrahim”, Suhail menolak dan meminta ungkapan yang lebih dapat diterima Quraisy. Nabi menyetujuinya. Ketika Nabi hendak menuliskan “Muhammad Rasulullah”, Suhail kembali keberatan. Ia meminta agar ditulis “Muhammad bin Abdullah”. Nabi kembali mengalah.

Bagi sebagian orang, ini tampak sebagai konsesi yang terlalu jauh. Namun Nabi sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih strategis: menukar simbol dengan substansi.

Isi perjanjian pun terasa berat. Kaum Muslimin tidak diperkenankan melakukan umrah pada tahun itu dan harus kembali ke Madinah. Mereka baru boleh datang tahun berikutnya.

Kedua pihak juga sepakat menghentikan permusuhan. Dalam riwayat sahih, persoalan orang Quraisy yang datang kepada Nabi dalam kondisi tertentu juga menjadi bagian dari klausul yang sangat berat bagi kaum Muslimin.

Lalu datanglah Abu Jandal. Putra Suhail bin Amr itu telah masuk Islam dan disiksa Quraisy. Dalam keadaan dirantai, ia melarikan diri ke Hudaibiyah. Ia berharap mendapatkan perlindungan kaum Muslimin. Namun ayahnya meminta agar ia dikembalikan sesuai kesepakatan.

Bayangkan betapa menyakitkan situasi itu. Seorang Muslim yang telah disiksa berdiri di hadapan komunitas Muslim, tetapi Nabi Muhammad Saw tetap memilih memegang perjanjian.

Para sahabat terguncang. Umar bin Khattab bahkan bertanya kepada Nabi dengan kegelisahan yang sangat manusiawi: Bukankah kita berada di pihak yang benar? Bukankah mereka berada di pihak yang batil? Mengapa kita menerima syarat seperti ini?

Nabi menjawab bahwa beliau adalah Rasul Allah dan tidak akan menyelisihi perintah-Nya. Umar kemudian menemui Abu Bakar. Jawaban Abu Bakar juga tegas: Tetaplah mengikuti Rasulullah karena beliau berada di jalan yang benar.

Drama belum selesai. Setelah perjanjian ditandatangani, Nabi memerintahkan para sahabat menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut. Anehnya, tidak seorang pun segera bergerak. Perintah itu diulang sampai tiga kali. Mereka bukan tidak mencintai Nabi. Mereka sedang mengalami benturan antara harapan dan kenyataan.

Mereka datang untuk umrah. Mereka pulang tanpa umrah. Mereka merasa memiliki posisi yang kuat. Tetapi mereka menerima kesepakatan yang secara kasatmata tampak lebih menguntungkan Quraisy.

Namun justru dalam perjalanan pulang turunlah firman Allah: Inna fatahna laka fathan mubina,“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS al-Fath: 1).

Mengapa sebuah perjanjian yang tampak seperti kompromi disebut fath, kemenangan? Karena Nabi tidak membaca kemenangan dengan ukuran sesaat.

Dalam teori negosiasi modern, keberhasilan tidak selalu berarti memperoleh semua tuntutan. Negosiasi yang matang justru mencari outcome optimal, bukan sekadar kemenangan emosional. Ada perbedaan antara positional bargaining—bertahan pada posisi awal—dan interest-based negotiation, yaitu mencari kepentingan yang lebih mendasar di balik posisi masing-masing.

Quraisy ingin menjaga muka dan simbol politiknya. Nabi ingin membuka jalan bagi perdamaian dan dakwah. Maka yang dikompromikan adalah simbol, sementara tujuan strategis tetap dipertahankan. Inilah kecerdasan Hudaibiyah. Nabi tidak memaksakan setiap kata, karena beliau memahami bahwa substansi lebih penting daripada gengsi.

Dalam perspektif strategic patience, Hudaibiyah juga merupakan contoh luar biasa tentang kemampuan menunda keuntungan jangka pendek demi keuntungan yang jauh lebih besar. Nabi tidak mendapatkan Makkah hari itu, tetapi mendapatkan sesuatu yang mungkin lebih berharga: waktu. Dan waktu adalah aset strategis.

Ketika perang berhenti, komunikasi terbuka. Mobilitas meningkat. Masyarakat Arab dapat berinteraksi dengan kaum Muslimin tanpa selalu berada dalam bayang-bayang peperangan. Islam tidak lagi hanya dipandang sebagai kekuatan yang sedang berkonfrontasi dengan Quraisy, tetapi sebagai komunitas yang mampu membuat dan menghormati perjanjian. Dengan kata lain, Hudaibiyah menciptakan ruang sosial bagi dakwah.

Inilah yang menjadikan perjanjian itu sebagai kemenangan diplomatik. Bahkan sejumlah terjemahan dan tafsir modern memahami “fathan mubinan” pada ayat pertama Surah al-Fath sebagai kemenangan yang lahir melalui perjanjian Hudaibiyah dan membuka jalan bagi perkembangan Islam berikutnya.

Ada pelajaran lain yang tak kalah penting: kemenangan tidak selalu berarti lawan kalah. Kadang kemenangan berarti konflik berhenti. Kadang kemenangan berarti kita mendapatkan waktu. Kadang kemenangan berarti lawan bersedia duduk satu meja. Dan kadang kemenangan terbesar adalah ketika sebuah masalah yang selama bertahun-tahun diselesaikan dengan kekerasan akhirnya dapat dipindahkan ke meja perundingan.

Hudaibiyah juga memperlihatkan apa yang dalam teori kepemimpinan modern disebut long-term orientation. Pemimpin yang hanya melihat popularitas akan memilih keputusan yang menyenangkan pengikutnya hari ini. Pemimpin strategis berani mengambil keputusan yang mungkin tidak populer apabila ia yakin keputusan itu menyelamatkan masa depan. Di sinilah kita sering kehilangan kebijaksanaan.

Dalam politik, organisasi, kampus, bahkan kehidupan sosial, kita kerap mengira bahwa mengalah berarti kalah. Kritik dianggap ancaman. Kompromi dianggap kelemahan. Perbedaan pendapat berubah menjadi pertarungan harga diri. Akhirnya energi habis untuk membuktikan siapa yang benar, sementara persoalan utama tidak pernah selesai.

Hudaibiyah menawarkan paradigma berbeda: Jangan tanyakan hanya, “Siapa yang menang hari ini?” Tanyakan pula, “Apa yang kita menangkan untuk hari esok?

Itulah seni diplomasi kelas langit. Bukan diplomasi yang dibangun dari ketakutan, apalagi tipu daya. Melainkan diplomasi yang lahir dari kejernihan tujuan, kemampuan menahan ego, kesediaan menghormati kesepakatan, dan keberanian menukar kemenangan kecil dengan tujuan yang lebih besar.

Nabi Muhammad mengajarkan bahwa mengalah tidak selalu berarti kehilangan posisi; kadang mengalah adalah cara paling cerdas untuk mengubah posisi. Hudaibiyah membuktikannya.

Beberapa tahun kemudian, Makkah yang hari itu tertutup akhirnya terbuka. Jalan yang tidak dapat ditembus dengan konfrontasi justru terbuka melalui perdamaian, maka mungkin kita perlu mengoreksi definisi kemenangan.

Kemenangan bukan selalu ketika lawan bertekuk lutut. Kemenangan bisa terjadi ketika permusuhan berhenti, ruang dialog terbuka, tujuan jangka panjang terselamatkan, dan masa depan berubah arah.

Itulah mengapa Allah menyebut Hudaibiyah bukan sebagai kekalahan yang terhormat, tetapi sebagai: fathan mubina: kemenangan yang nyata. Sebab dalam perspektif Tuhan, kemenangan tidak selalu terlihat pada saat keputusan dibuat. Ada kemenangan yang baru tampak setelah kesabaran menyingkap buahnya. Dan barangkali, orang yang paling kuat bukanlah orang yang selalu menang dalam perdebatan, melainkan orang yang cukup besar jiwanya untuk mengalah hari ini demi memenangkan masa depan.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Dr. Aji Damanuri
Dekat FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.