Arina.id-Gempa bumi melanda beberapa negara di dunia setidaknya dalam tiga bulan ini. Akhir pekan kemarin, Sabtu 15 Agustus 2026, gempa bumi terbaru berkekuatan 7,7 mengguncang Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) Indonesia, menyebabkan 5000 jiwa lebih mengungsi dan 57 korban meninggal dunia.
Tidak berselang lama gempa kembali mengguncang sejumlah wilayah lainnya, mulai dari Sumatera Utara gempa berkekuatan 6,4 lalu Sulawesi Tengah dengan kekuatan 6,2. Gempa bumi di Indonesia ini terjadi tidak lama jaraknya dari gempa bumi di sejumlah negara dunia; Kolombia, Jepang, Venezuela, Filipina dan Amerika Serikat (AS).
Bila menghitung waktu mundur, lima hari sebelumnya, gempa Kolombia dengan Magnitudo 7,4 mengguncang negara itu (10 Agustus 2026). Gempa ini menelan 169 jiwa. Sepekan sebelumnya lagi, gempa berkekuatan 7,1 juga menggoyang Kyushu Jepang (28 Juli 2026). Lalu gempa California berkekuatan 7,1 (5 Juli 2026), gempa bumi Venezuela berkekuatan 7,1 (24 Juni 2026) dan gempa Filipina dengan kekuatan 7,8 (7 Juni 2026).
Rangkaian gempa besar dalam beberapa bulan terakhir membuat banyak orang bertanya-tanya apakah gempa tersebut saling terkait dan apakah frekuensi yang terpaut dekat ini sebuah fenomena tidak biasa?
Namun seaneh apapun berita gempa yang terasa mengganggu dalam beberapa waktu belakangan ini, ternyata para ahli geologi mengatakan tidak ada yang luar biasa dari pola frekuensi gempa yang berdekatan tersebut. “Mungkin terasa seperti kita mengalami jumlah gempa yang sangat banyak, tetapi secara statistik, tahun ini cukup normal,” kata Wendy Bohon, seorang ahli geologi yang mempelajari gempa bumi, dikutip dari huffington post.
Secara global, kata dia, biasanya terjadi 15 hingga 18 gempa bumi dengan magnitudo antara 7,0 dan 7,9 setiap tahun. Sejauh tahun ini, data yang dia miliki baru mencatat 10 kali. “Yang menarik adalah beberapa gempa bumi baru-baru ini telah merusak,” katanya. “Itulah peristiwa yang kita dengar, kita lihat gambarnya, dan ingat.”
Ada juga efek kognitif yang terdokumentasi dengan baik, termasuk bias kebaruan dan ‘ilusi frekuensi,’ yang dapat membuat sesuatu tampak lebih umum dan memiliki keterkaitan satu sama lain, sehingga menarik perhatian publik. Kemudian bias recency atau kekinian, ini terjadi ketika orang-orang lebih mementingkan peristiwa terbaru daripada data lama dan jangka panjang.
Adapun ilusi frekuensi, atau yang juga dikenal sebagai fenomena Baader–Meinhof, adalah bias kognitif di mana seseorang merasa bahwa sebuah kata, konsep, peristiwa atau benda yang baru-baru ini dipelajari tiba-tiba muncul dan terjadi jauh lebih sering di sekitarnya. Padahal, frekuensi kemunculannya sebenarnya tidak berubah. Sehingga menurut Bohon, bias mental seperti ini adalah alasan mengapa statistik jangka panjang sangat berguna.
“Persepsi kami mungkin aktivitas gempa bumi meningkat, tetapi data memungkinkan kami mundur sejenak dan bertanya apakah itu benar-benar terjadi,” katanya. “Saat ini, kami belum melihat bukti peningkatan gempa bumi besar secara global yang tidak biasa.”
Pemantauan yang lebih baik serta liputan berita instan dan media sosial juga dapat membuat aktivitas gempa terasa lebih sering, kata Lingsen Meng, profesor geofisika di University of California, Los Angeles. “Namun, tidak ada bukti meyakinkan bahwa gempa bumi semakin sering terjadi secara global,” katanya.
Ketika gempa berkaitan, biasanya disebabkan oleh gempa susulan — gempa kecil yang terjadi di area yang sama dalam beberapa hari hingga tahun setelah peristiwa yang lebih besar, atau “mainshock.” Ada juga kasus gugus gempa bumi yang disebabkan oleh seismisitas yang diinduksi — gempa dan getaran yang dipicu oleh aktivitas manusia yang mengubah tegangan di kerak bumi, demikian menurut William D. Barnhart, asisten koordinator di Program Bahaya Gempa USGS.
Kenyataannya, gempa bumi terjadi sepanjang waktu dan kebanyakan dari kita tidak menyadarinya karena mereka berada di tengah laut atau di daerah terpencil, bukan di daerah padat penduduk yang baru-baru ini terkena dampak. “Gempa magnitudo 7 terjadi di Bumi sekitar sekali dalam setiap tiga hingga empat minggu, tetapi sebagian besar dari ini tidak terasa atau tidak menyebabkan kerusakan,” kata Barnhart.
Secara historis dan keilmuan, gempa bumi sulit diprediksi karena kondisi bawah tanah yang tersembunyi sangat dalam, pergerakan tektonik sangat kecil, dan batuan sesar bereaksi berbeda terhadap tegangan dan panas. Sehingga ilmuan sepakat, gempa bumi yang terjadi berurutan dalam beberapa waktu belakangan ini merupakan bukan sesuatu yang luar biasa, semuanya peristiwa gempa yang wajar akibat aktifitas pergerakan bumi.




Comments are closed.