Thu,20 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. ‘Love-Hate Relationship’ Prabowo-Gen Z?

‘Love-Hate Relationship’ Prabowo-Gen Z?

‘love-hate-relationship’-prabowo-gen-z?
‘Love-Hate Relationship’ Prabowo-Gen Z?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Approval Gen Z untuk Prabowo pernah tertinggi, kini lini masa terasa berbeda. Benarkah ini kisah cinta yang berbalik, atau sekadar salah paham algoritma? 


PinterPolitik.com

“The most personalized medium ever created also has the potential to be the most isolating.”

 — Eli Pariser, The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (2011) 

Di awal 2026, sebuah temuan sempat menjadi sorotan. Survei Indikator Politik Indonesia mencatat approval rating Presiden Prabowo Subianto menembus 79,9 persen.

Cupin, yang gemar mengamati keganjilan data, langsung tertarik pada satu detail. Dukungan terkuat justru datang dari Generasi Z, sekitar 71 persen anak muda kelahiran 1997 hingga 2012 menyatakan puas.

Temuan ini bukan kejutan sesaat. Sejak Oktober 2024, berbagai lembaga survei mencatat Prabowo sebagai figur yang paling disukai kelompok muda, mengungguli para pendahulunya pada titik masa jabatan yang sama.

Namun, angka adalah potret, bukan film. Survei Saiful Mujani Research and Consulting pada Juli 2026 mencatat approval keseluruhan bergerak ke 51,1 persen, dengan kecemasan ekonomi sebagai pendorong utamanya.

Bagi Cupin, pergerakan semacam ini sesungguhnya wajar dalam siklus mana pun. Sebuah pemerintahan yang telah berjalan lebih dari satu setengah tahun memang lazim menghadapi ujian antara janji kampanye dan hasil yang terasa.

Yang justru menggelitiknya adalah hal yang tidak sepenuhnya tertangkap survei, yakni suasana di lini masa yang kerap terasa berlawanan dengan data. Di satu layar, dukungan mayoritas terekam rapi, sementara di layar lain, percakapan yang paling ramai justru sering bernada keras dan kritis.

Cupin menyebut fenomena tersebut sebagai love-hate relationship. Hangat dalam angka, tetapi gaduh dalam percakapan.

Dua pertanyaan pun layak diajukan. Apa sebenarnya yang membuat Gen Z jatuh cinta pada Prabowo di titik awal, dan mengapa kehangatan itu kini terasa bergeser di ruang digital?

Akar ‘Love’ di Panggung 2024

Akar cintanya bisa ditelusuri ke masa Pilpres 2024. Saat itu, panggung politik Prabowo bertransformasi menjadi sesuatu yang terasa akrab bagi anak muda.

Sosok yang dulu dikenal tegas menjelma menjadi figur gemoy yang hangat dan mudah didekati. Gimik joget, filter wajah lucu, dan konten pendek di TikTok menjadikan Prabowo terasa dekat di genggaman Gen Z.

Cupin mengingat bahwa kedekatan itu tidak berhenti pada konten resmi kampanye. Justru meme buatan warganet sendiri, dari stiker joget hingga fan art gemoy, yang membuat citra itu menyebar organik dari satu gelembung ke gelembung lain.

Meme bekerja sebagai bahasa asli Gen Z. Ia memampatkan pesan politik yang rumit menjadi visual renyah yang mudah dibagikan, sehingga afeksi terbangun tanpa terasa seperti sedang dikampanyekan.

Ini bukan kebetulan. Data IDN Research Institute menunjukkan sekitar 73 persen populasi Gen Z Indonesia menjadikan media sosial sebagai sumber berita utama, dengan TikTok dan Instagram sebagai kanal dominan.

Aparajita Bhandari dan Sara Bimo menjelaskan mekanisme di baliknya lewat gagasan the algorithmized self. Menurut keduanya, identitas digital anak muda dikurasi oleh logika algoritme, sehingga konten yang beresonansi secara emosional akan jauh lebih menempel dibanding argumen yang kaku.

Prabowo, dalam konteks ini, berhasil memenangi resonansi tersebut. Ia tidak melawan algoritme, melainkan berbicara dalam bahasanya, dan Gen Z merespons dengan afeksi.

Cupin mencatat bahwa fenomena serupa juga terjadi di luar negeri. Pada Pemilu Amerika Serikat 2020, riset media memperlihatkan lahirnya ruang gema politik paralel di TikTok, masing-masing dengan estetika, musik latar, dan meme yang khas.

Pelajarannya jelas. Kandidat yang menang bukanlah yang melawan platform, melainkan yang fasih berbicara dalam bahasa aslinya, persis seperti yang terjadi pada 2024.

India menawarkan pelajaran pelengkap. Pemerintah di sana membangun kehadiran digital yang masif dengan konten positif dan storytelling, dan strategi mengisi ruang itu terbukti lebih efektif ketimbang sekadar membantah narasi lawan.

Dari deretan contoh itu, benang merahnya tampak. Fase ‘love’ antara pemimpin dan anak muda lahir ketika sang pemimpin hadir secara otentik di ruang yang mereka huni.

Namun, cinta di ruang digital jarang berjalan linear. Ruang yang sama yang membangun kedekatan ternyata juga menyimpan mekanisme yang bisa membalikkan suasana.

Dua pertanyaan baru pun muncul. Mengapa ruang digital yang dulu menumbuhkan cinta kini terasa memupuk kegaduhan, dan bagaimana relasi ini bisa dirawat kembali?

Menjinakkan ‘Hate’ di Ruang Gema

Jawabannya terletak pada arsitektur ruang, bukan pada isi hati. Eli Pariser memperkenalkan gagasan filter bubble, yakni kondisi ketika algoritme perlahan menyingkirkan informasi yang tidak sejalan dengan pola perilaku pengguna.

Gelembung itu tidak dipilih, melainkan dibangunkan untuk setiap orang tanpa disadari. Akibatnya, setiap warga seolah menonton saluran yang berbeda, meski hidup di negara yang sama.

Cass Sunstein, dalam bukunya #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media, memperingatkan konsekuensinya. Personalisasi informasi mengikis ruang publik bersama, sehingga konsensus nasional menjadi kian sulit dibentuk.

Di titik inilah Cupin menangkap inti persoalannya. Approval 71 persen di kalangan Gen Z bisa saja nyata secara statistik, tetapi jika suara yang tidak puas justru terkonsentrasi dan vokal di ruang paling ramai, maka persepsi publik bisa berlawanan dengan realitas survei.

Kondisi inilah yang bisa disebut paradoks suara sunyi. Mayoritas pendukung tersebar dan pasif, sementara minoritas kritis terkumpul dan lantang.

Meme kembali memainkan peran penting di fase ini, kali ini dengan arah yang berbeda. Humor dan sindiran visual, seperti yang terlihat pada gelombang tagar sebelumnya, menjelma menjadi instrumen konsolidasi yang mampu memampatkan keresahan menjadi konten viral dalam hitungan jam.

Gilat Levy dan Ronny Razin, dalam jurnal “Echo Chambers and Their Effects on Economic and Political Outcomes”, memperdalam pemahaman ini. Keduanya menunjukkan bahwa ruang gema tidak hanya mempolarisasi opini, tetapi juga mengubah cara informasi dipercaya.

Maka dari itu, muncul yang disebut asimetri amplifikasi. Sentimen negatif cenderung menyebar lebih cepat karena secara afektif lebih menular, sehingga satu meme kritis yang viral bisa terasa lebih besar daripada seluruh capaian yang tidak ter-amplify.

Lantas, bagaimana relasi ini bisa dirawat? Cupin merumuskan beberapa arah yang berangkat dari kekuatan, bukan dari ketakutan.

Pertama, kegaduhan lini masa sebaiknya tidak dibaca sebagai survei. Volume percakapan dan bobot dukungan adalah dua hal yang berbeda, sehingga dashboard sentimen digital perlu dibaca berdampingan dengan survei terukur.

Kedua, suara pendukung yang diam perlu diaktifkan, bukan sekadar dilawan suara yang nyaring. Legitimasi tumbuh ketika mayoritas yang pasif merasa terwakili dan memiliki bahasa untuk ikut bersuara.

Ketiga, capaian pemerintah sebaiknya diterjemahkan dalam bahasa afektif yang menyentuh, bukan dalam bahasa birokrasi. Meme, video pendek, dan cerita manusia terbukti lebih menembus gelembung Gen Z ketimbang rilis formal.

Keempat, ruang digital sebaiknya diisi, bukan dikosongkan. Pelajaran India menegaskan bahwa kekosongan narasi akan diisi pihak lain, sehingga kehadiran yang otentik dan konsisten menjadi investasi legitimasi jangka panjang.

Kelima, kritik sebaiknya diperlakukan sebagai data, bukan sebagai ancaman. Pengakuan yang cepat atas keresahan justru meredakan tekanan, sementara penyangkalan cenderung memperkeras suasana.

Pada akhirnya, relasi Prabowo dan Gen Z sesungguhnya bukan kisah cinta yang pudar, melainkan kisah cinta yang perlu belajar bahasa baru di ruang yang telah berubah. Apa yang tampak sebagai hate di permukaan sering kali hanyalah love yang tersebar dan tak terdengar, terpecah oleh arsitektur algoritme yang memang dirancang untuk memisahkan.

Dengan modal dukungan yang masih kokoh, tantangan terbesarnya bukanlah merebut kembali sesuatu yang hilang, melainkan membangun jembatan yang membuat setiap gelembung merasa didengar. Di situlah, pada akhirnya, sebuah relasi menemukan kedewasaannya. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.