Audio dibuat menggunakan AI.
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
KATA PEMRED #68
PinterPolitik.com
Foto sidang kabinet terbit setiap pekan, dan dua kursi di dalamnya kosong sejak pertengahan tahun ini. Satu ditinggalkan seorang wakil menteri yang berpindah memimpin sebuah badan baru. Satu lagi ditinggalkan seorang wakil menteri yang ditetapkan sebagai tersangka.
Pertanyaan yang beredar sejak Juli selalu berbentuk sama. Siapa yang akan pergi.
Pertanyaan itu jarang menghasilkan jawaban yang benar, karena yang ditanyakan adalah seseorang.
Satu kalimat selalu muncul sebagai penutup setiap kali isu perombakan beredar. Pergantian menteri adalah hak prerogatif Presiden. Secara hukum kalimat itu benar dan tidak terbantahkan.
Hak yang tidak terbatas tetap dijalankan pada hari tertentu dan terhadap orang tertentu. Presiden memegang hak penuh untuk mengganti, dan karena itu pula ia sendiri yang menanggung seluruh akibat penggantian. Perhitungan yang belum selesai terlihat dari luar sebagai kabar yang maju mundur. Menteri Sekretaris Negara membantah rencana perombakan tiga kali sepanjang Juli, dan kabar yang sama muncul kembali pada pekan berikutnya. Bantahan semacam itu bukan penyangkalan atas rencananya, melainkan tanda bahwa hitungannya masih berjalan.
Saiful Mujani Research and Consulting mencatat kepuasan terhadap kinerja Presiden 81,2 persen pada November 2025, 66,4 persen pada Maret 2026, dan 51,1 persen pada Juli 2026.
Penilaian publik atas pekerjaan seorang menteri bergerak melalui satu rantai sebelum menyentuh kursinya. Pekerjaan menghasilkan anggapan, anggapan menumpuk menjadi tekanan, dan tekanan berpindah ke pundak Presiden. Rantai itu panjang, dan sebagian besar penilaian habis di tengah jalan.
Dan Slater dari University of Michigan meneliti bertahun-tahun cara presiden Indonesia menyusun koalisinya. Temuannya sederhana dan getir. Presiden menyerahkan kursi kabinet kepada partai sebagai cara berbagi kekuasaan. Partai yang seharusnya berdiri di luar justru masuk ke dalam pemerintahan, dan barisan oposisi menyusut karena anggotanya sudah duduk di dalam kabinet.
Penjelasan Slater berhenti pada hari pelantikan. Harga masuk sebuah kursi ditentukan ketika kabinet disusun, dan pihak yang mengantarkan seseorang ke kursinya selalu diketahui. Harga keluar tumbuh sesudahnya, dari jaringan yang dibangun orang yang mendudukinya dan dari program yang menempel pada namanya. Harga keluar adalah nilai tawar sebuah kursi pada hari kursi itu hendak dikosongkan.
Seorang presiden menimbang setiap kursi dengan dua daftar. Daftar pertama memuat manfaatnya, berupa suara partai di parlemen, program yang berjalan, dan wajah pemerintahan di hadapan publik. Daftar kedua memuat bebannya, berupa tekanan yang ditanggung bersama dan kesulitan yang muncul apabila kursi itu dikosongkan.
Empat ukuran menyusun kedua daftar itu.
Ukuran pertama adalah tekanan publik. Tekanan itu terbaca pada survei, pemberitaan, teguran lembaga negara, dan pertanyaan yang berulang di ruang rapat Dewan. Ukuran ini bergerak paling cepat. Kecepatannya itu pula yang membuatnya sering dikira penentu.
Ukuran kedua adalah pintu masuk. Presiden tidak mengosongkan kursi seorang menteri yang diantar partainya tanpa berunding lebih dahulu. Presiden memberhentikan menteri yang datang tanpa partai dengan satu keputusan, tanpa perlu mengajak siapa pun berunding.
Ukuran ketiga adalah lama masa jabatan. Waktu tidak melindungi siapa pun dengan sendirinya. Masa jabatan hanya menandai peluang seorang menteri menumbuhkan jaringan, dan sebagian menteri berdiri kuat sejak hari pertama.
Ukuran keempat adalah tumpuan program. Ukuran ini tidak menilai bagus atau buruknya sebuah kebijakan, melainkan menanyakan pada apa kebijakan itu berdiri. Sebagian program berdiri di atas peraturan, mata anggaran, dan direktorat yang menjalankannya. Seorang pengganti meneruskannya dalam sepekan. Sebagian lain berdiri di atas satu orang, di atas rapat yang ia pimpin sendiri, dan di atas hubungan yang hanya berjalan atas namanya.
Pintu masuk tertutup di belakang seorang menteri pada hari ia dilantik, dan masa jabatannya berjalan menurut kalender, bukan menurut kehendaknya. Ukuran keempat pun hanya sebagian berada di tangannya, sebab ia mewarisi undang-undang, struktur, kontrak berjalan, dan program prioritas yang sudah berdiri sebelum kedatangannya. Ia hanya memutuskan satu hal kecil yang berulang setiap kali sebuah pekerjaan dimulai. Pekerjaan itu diserahkannya kepada direktorat dengan mata anggarannya sendiri, atau dipimpinnya sendiri melalui sebuah tim.
Keputusan kecil itu menghasilkan dua akibat yang berlawanan. Program yang bergantung pada satu orang menaikkan harga keluar kursi menterinya. Program yang sama terbaca pula sebagai titik rapuh. Seorang presiden yang melihatnya memerintahkan pelembagaan, atau mengganti orangnya lebih cepat. Tidak ada satu hukum yang berlaku pada semua kursi.
Dorongan yang bekerja pada orang yang duduk di kursi itu tidak ikut berubah. Selama harga keluar ikut ditimbang, seorang pejabat menyimpan satu alasan kecil untuk tidak membuat dirinya sepenuhnya tergantikan. Alasan itu tidak perlu terbukti berhasil untuk tetap bekerja, dan tidak perlu disadari untuk tetap diikuti.
Warisan dan ketergantungan sering tertukar. Program yang tetap berjalan sesudah menterinya pergi adalah warisan. Program yang berhenti bersama kepergian menterinya adalah ketergantungan. Warisan memberi nama baik, dan ketergantungan menaikkan nilai tawar kursi yang ditinggalkannya. Keduanya terlihat serupa pada tahun pertama, dan baru terpisah pada hari pergantian.
Tidak satu pun dari keempat ukuran itu menilai mutu pekerjaan. Kursi yang goyah bukan tanda menteri yang buruk, dan kursi yang kukuh bukan tanda menteri yang cakap. Penilaian publik atas hasil kerja masuk perhitungan hanya melalui ukuran pertama, dan hanya dalam bentuk tekanan. Sisanya menumpuk di luar ruang sidang, lalu muncul kembali pada musim pemilihan berikutnya sebagai angka yang tidak dapat lagi diperbaiki oleh perombakan.
Pada pagi mana pun, seorang menteri yang membaca kursinya sendiri sanggup mengajukan empat pertanyaan. Siapa yang mengantarkan saya ke kursi ini, dan apakah pihak itu masih memerlukan saya. Berapa lama saya sudah duduk. Pekerjaan mana yang berhenti apabila saya berhenti. Berapa besar tekanan yang saya bawa masuk ke ruang sidang setiap pekan.
Dua ukuran pertama terbaca dari catatan terbuka, dan dua ukuran berikutnya hanya dapat disimpulkan. Pertanyaan ketiga adalah satu-satunya yang jawabannya berada di tangan menteri itu sendiri. Seorang pembaca memperkirakannya dari luar tanpa satu pun keterangan dari dalam kementerian. Pekerjaan yang dijalankan sebuah direktorat dengan peraturan dan mata anggarannya sendiri berbeda dari pekerjaan yang dijalankan sebuah tim bentukan menterinya. Perbedaan itu tercatat dalam dokumen terbuka.
Perhitungan ini bisa kalah, dan taruhannya berlaku sampai akhir 2026. Aturannya ditetapkan sekarang, bukan sesudah hasilnya diketahui. Sebuah kursi disebut berat apabila menterinya diantar sebuah partai, sudah menempatinya lebih dari dua tahun, dan menjalankan program utamanya melalui tim yang ia ketuai sendiri. Kursi yang tidak memenuhi ketiganya disebut ringan. Perhitungan ini keliru apabila kursi berat berpindah lebih dahulu sementara kursi ringan bertahan sampai akhir tahun.
Satu jabatan berada di luar seluruh perhitungan ini. Wakil Presiden dipilih bersama Presiden dalam satu surat suara, dan kursinya tidak dapat dikosongkan melalui perombakan kabinet.
Pada pidato kenegaraan 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menegur pembantunya di hadapan Majelis, antara lain mengenai pengawasan kepabeanan dan penyelundupan di laut. Teguran di ruang terbuka dan penggantian di ruang tertutup adalah dua alat yang berbeda, dan yang pertama memperbaiki tanpa menanggung harga keluar sebuah kursi.
Seorang direktur jenderal menyiapkan bahan rapat bagi atasan yang belum tentu ada pada bulan depan. Seorang pegawai mengurus surat mutasinya sendiri sambil menunggu kabar dari Jakarta. Mereka bekerja di bawah perhitungan yang tidak mereka ikuti.
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah menurut Peraturan Presiden 29/2014 mencakup rencana strategis, perjanjian kinerja, pengukuran, pelaporan, serta reviu dan evaluasi. Peraturan Menteri PANRB 88/2021 menambahkan penilaian atas kesinambungan perencanaan antartingkat jabatan. Seluruhnya menanyakan apakah sebuah program berhasil. Tidak ada yang menanyakan apakah program itu tetap berhasil ketika penyusunnya tidak lagi ada.
Cermin di ruang tunggu memantulkan orang yang sama setiap pagi. Orang itu tidak berubah sepanjang tahun, sedangkan perhitungan atas namanya berubah setiap bulan, dan ia tidak pernah menyaksikan perubahan itu.
Foto sidang kabinet terbit lagi pekan depan. Keterangan di bawahnya memuat nama dan jabatan, dan tidak pernah memuat perhitungan yang menempatkan orang-orang itu di sana.
Negara sudah lama sanggup mengukur menteri yang berhasil membuat sebuah program berjalan. Ukuran bagi menteri yang berhasil membuat program itu berjalan tanpa dirinya belum disusun siapa pun, dan ketiadaannya memberatkan setiap hitungan menjelang perombakan. Siapa yang akan menyusunnya, dan atas permintaan siapa?
*********************
Tentang Penulis
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
Hak cipta dilindungi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.





Comments are closed.