Sembilan belas tahun sebelum Indonesia Emas 2045 tiba, sejumlah anak muda di kota Indonesia sudah tidak menunggu. Mereka mulai mencangkul, mengecat, dan menata ulang lingkungannya sendiri. Apa yang membuat mereka memilih bertindak, bukan berharap?
Survei Konsumen Bank Indonesia Juli 2026 menempatkan Gen Z sebagai kelompok usia paling optimistis soal ekonomi nasional, dengan Indeks Keyakinan Konsumen tertinggi di angka 122,9. Tapi survei lain di tahun yang sama menunjukkan generasi yang sama ini juga paling banyak menyerah pada satu mimpi spesifik: punya rumah sendiri.
Di atas semua itu, negara menjanjikan panggung yang lebih besar lagi. Indonesia Emas 2045 adalah visi 19 tahun ke depan yang menempatkan generasi muda sebagai tulang punggung bonus demografi.
Bagi anak muda yang tinggal di kampung kumuh dan permukiman informal, jarak ke janji itu terasa jauh. Kalender besar negara punya ritme sendiri, dan kampung punya ritmenya sendiri.
Filsuf Ernst Bloch, dalam The Principle of Hope, membedakan dua jenis harapan. Ada abstract utopia yang cuma jadi fantasi pelarian, dan ada utopia konkret yang lahir dari tindakan nyata mengubah kondisi material di depan mata.
Bagi Bloch, harapan sejati bukan soal menunggu, tapi soal bekerja.
Di beberapa kampung kumuh Indonesia, sejumlah anak muda tampaknya menjalankan prinsip ini tanpa perlu membaca Bloch lebih dulu. Mereka mengubah lahan sampah jadi kebun, tembok kusam jadi mural, dan gang sempit jadi tujuan wisata.
Tapi apakah tindakan-tindakan kecil ini benar benar bentuk harapan, atau sekadar strategi bertahan karena tidak ada pilihan lain? Dan kalau perubahan ini bergantung pada segelintir individu yang kebetulan punya energi lebih, seberapa jauh ia bisa disebut solusi yang bertahan lama?
Dari Cangkul Sampai Kuas, Masa Depan Dibangun
Pola ini paling jelas terlihat pada Dwi Angga Mukti, petani muda di Rawa Malang, Semper Timur, Jakarta Utara. Sejak 2024, ia mengubah lahan 1,5 hektare bekas pembuangan sampah liar menjadi kebun urban farming bernama Bangun Karya Mandiri.
Lahan yang dulu identik dengan sampah dan tawuran kini melibatkan belasan remaja SMP yang rutin menyiram dan merawat kebun sepulang sekolah. Pakar lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menyebut ini sebagai transformasi sosial ekologis, bukan sekadar kegiatan bercocok tanam.
Pola serupa muncul di Malang lewat Kampung Warna-Warni Jodipan. Salis Fitria memulainya sebagai tugas praktikum kampus pada 2016, mengecat kampung padat penduduk di tepi Sungai Brantas yang sebelumnya terlihat kusam menjadi ikon wisata penuh warna.
Kampung yang tadinya jarang dilirik kini rutin dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Warganya pun mendapat penghasilan tambahan dari kunjungan itu, bukan cuma perubahan tampilan visual semata.
Pola yang sama juga muncul lewat jalur berbeda: pengelolaan sampah. Di Jakarta Utara, anggota DPRD DKI mendorong pemuda dan karang taruna mengubah sampah jadi barang bernilai ekonomis, sementara gerakan GAUL’s dari Kementerian Lingkungan Hidup secara eksplisit mengajak anak muda mengubah eco-anxiety jadi aksi nyata lewat program seperti Kampung Iklim di Sunter Jaya.
Tiga pola ini, kebun, mural, dan bank sampah, sama-sama membuktikan hal yang sama. Ruang yang distigma sebagai kumuh ternyata bisa diklaim ulang lewat tindakan kolektif berskala kecil, bukan lewat menunggu proyek besar dari atas.
Kalau dibaca lewat kacamata Bloch, semua ini adalah utopia konkret. Harapan di sini tidak berhenti jadi kata kata, ia berwujud sayuran yang dipanen, dinding yang dicat, dan sampah yang berubah jadi uang.
Tapi pola ini juga punya batas yang jujur harus diakui. Baik kebun Angga, mural Jodipan, maupun program bank sampah, sebagian besar masih bergantung pada individu atau kampanye yang bersifat sementara, bukan sistem yang otomatis berjalan sendiri.
Kalau keberhasilan-keberhasilan kecil ini terus bergantung pada sosok seperti Angga atau Salis yang kebetulan punya energi dan jaringan, apakah ia bisa disebut solusi struktural, atau cuma kumpulan pengecualian yang beruntung? Dan apakah keberhasilan mikro semacam ini justru berisiko dipakai sebagai alasan menunda pembangunan infrastruktur dasar yang seharusnya jadi tanggung jawab negara?
Utopia yang Tak Menunggu Giliran
Pola yang berulang di berbagai kota ini menunjuk ke pergeseran yang lebih besar dari sekadar cerita satu kebun atau satu kampung. Anak muda di ruang-ruang kumuh kota sedang menulis ulang definisi utopia itu sendiri, dari sesuatu yang ditunggu menjadi sesuatu yang dikerjakan berulang di banyak tempat sekaligus.
Indonesia Emas 2045 menghitung masa depan dalam skala bangsa dan persentase penduduk usia produktif. Anak muda macam Angga dan Salis menghitungnya dalam skala petak tanah, dinding kampung, dan panen mingguan.
Dua hitungan itu tidak harus saling meniadakan, tapi juga tidak otomatis saling menopang. Yang satu adalah proyeksi negara untuk 19 tahun ke depan, yang lain adalah kebutuhan harian yang tidak punya waktu untuk menunggu selama itu.
Utopia bagi anak muda di kampung kumuh bukan lagi soal percaya atau tidak percaya pada janji besar yang datang dari atas.
Utopia sudah bergeser jadi soal siapa yang mau turun tangan mencangkul dan mengecat duluan, sebelum negara sempat datang membantu, atau bahkan sebelum negara sempat menyadari mereka ada. (R100)





Comments are closed.