Artificial Intelligence (AI) datang ke dunia kerja dengan satu janji besar: membuat pekerjaan lebih cepat dan hidup lebih ringan. Tapi, bagaimana jika teknologi yang seharusnya menghemat waktu justru membuat kita semakin lelah dan lebih banyak bekerja?
Paradoks inilah yang dibahas dalam Conversation Corner edisi ke-15, Jumat, 31 Juli 2026. Dipandu oleh Nurul Fitri Ramadhani, Editor Politik & Masyarakat The Conversation Indonesia, diskusi ini mempertemukan perspektif dari pekerja, Desiree Nasfhia atau Cile, Co-Initiator/General Secretary of Human Development & Education, Minutes of Manager, dan pakar, Arif Perdana, Associate Professor Monash University sekaligus Direktur Action Lab Indonesia.
Alih-alih otomatis mengurangi beban kerja, penggunaan AI justru berpotensi mendorong burnout. Produktivitas memang meningkat, tetapi manfaatnya belum tentu ikut dirasakan pekerja. Diskusi mengidentifikasi setidaknya tiga persoalan, yaitu inflasi efisiensi, ketika pekerjaan yang lebih cepat justru diikuti tuntutan untuk menghasilkan lebih banyak; minimnya kompensasi atas tuntutan upskilling; serta pentingnya batasan dan kebijakan dari manajemen agar teknologi tidak berubah menjadi tuntutan untuk selalu bekerja lebih cepat.

Inflasi efisiensi dan naiknya standar pekerjaan
Alasan paling mendasar dari memburuknya kesejahteraan pekerja di era AI adalah terjadinya fenomena inflasi efisiensi. Jika sebelumnya pekerjaan diharapkan selesai dalam satu hari, dengan keberadaan AI perusahaan kini menuntutnya untuk selesai hanya dalam waktu beberapa jam saja. Pada akhirnya, efisiensi pekerjaan yang dianggap sebagai “keuntungan teknologi” secara cepat berubah menjadi standar minimum yang baru di dunia kerja.
Menjelaskan fenomena ini, Arif Perdana menuturkan bahwa ketika semua orang bisa memproduksi output standar dengan cepat menggunakan bantuan AI, nilai dari kecepatan itu sendiri perlahan menurun secara ekonomi. Perusahaan merespons hal tersebut dengan menaikkan standar secara eksponensial, yang menuntut pekerja tidak hanya sekadar bekerja cepat, namun harus menghasilkan volume pekerjaan yang jauh lebih banyak dalam waktu yang sama.
Pekerja dituntut beradaptasi tanpa kompensasi
Dampak dari tingginya tuntutan efisiensi tersebut mengharuskan adanya pergeseran instrumen penilaian kerja. Diskusi ini juga mengangkat tentang kebutuhan untuk pengukuran ekonomi khusus terhadap keterampilan AI dari pihak perusahaan maupun pemerintah.
Perusahaan tidak boleh lagi mengukur kinerja pekerja semata-mata dari metrik kuantitas atau kecepatan yang operasionalnya telah diambil alih oleh AI. Sudah saatnya pengukuran kinerja bergeser pada evaluasi kualitas, judgement, dan pemikiran kritis yang dihasilkan oleh para pekerja.
Berkaitan dengan hal ini, Cile menambahkan, pekerja saat ini menghadapi tuntutan untuk beradaptasi dan meningkatkan keterampilan (upskilling) agar tidak tertinggal oleh kemampuan AI. Sayangnya, tuntutan upskilling dan beban kerja yang meningkat tidak dibarengi dengan kompensasi yang sepadan sehingga kesejahteraan mental pekerja rentan terganggu dan berujung pada burnout.
Keterampilan memimpin masih belum bisa digantikan oleh AI
Di tengah tingginya tekanan tersebut, peran manager dalam era adopsi AI menjadi sangat krusial untuk menyelamatkan pekerja dari burnout. Manajer dituntut untuk memiliki empati dan kepahaman apabila pekerja bukan mesin yang bisa terus-menerus dipacu kecepatannya, sehingga harus ada penerapan batasan jam dan beban kerja yang sehat.
Selain itu, manajer juga perlu memberikan ruang dan waktu yang memadai bagi timnya untuk beradaptasi dengan sistem AI. Untuk bisa bersaing di era otomatisasi ini, para pekerja tidak boleh sekadar menjadi penerima pasif dari hasil AI atau berpasrah total pada mesin. Manusia harus memosisikan dirinya sebagai pihak pengendali dengan melatih soft-skill serta keahlian spesifik yang tidak dimiliki oleh AI.
Keahlian utama tersebut mencakup kemampuan problem framing atau keahlian memahami konteks masalah secara utuh yang didukung oleh penguasaan domain knowledge. Pekerja juga dituntut untuk mampu melakukan verifikasi, validasi hasil, serta mengaplikasikan pemikiran yang kritis terhadap data-data yang disajikan oleh AI.
Di samping kemampuan analitis, kepemimpinan untuk membangun budaya kerja yang positif dan aman tidak akan bisa digantikan oleh AI.
“Bukan AI yang akan mengambil alih peran atau menggantikan kita, melainkan manusia yang mahir menggunakan AI-lah yang akan menggantikan mereka yang tidak mau beradaptasi. Kita harus merangkul teknologi ini sebagai mitra kerja yang berharga dan bukan musuh yang harus dihindari,” ungkap Cile.
Acara Conversation Corner hadir secara rutin setiap bulannya bersama akademisi, peneliti, dan pakar untuk membahas isu sosial terkini. Jika kamu tertarik untuk bekerja sama mengadakan diskusi bersama The Conversation Indonesia, hubungi kami di: kemitraan@theconversation.com.




Comments are closed.