Suhu udara 10 derajat Celcius, tidak menyurutkan para petani mendatangi Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Telaga seluas 25 hektar itu diapit Bukit Pangonan dan Bukit Semurup, menjadi tumpuan petani saat kemarau. Tahun ini ketika El Nino Godzilla menerjang, mereka mulai khawatir karena volume airnya berkurang. Setiap hari, ribuan liter air dari telaga ini dialirkan ke areal pertanian di dataran tinggi Dieng. “Ini satu-satunya harapan kami untuk menyelamatkan tanaman kentang,” kata Zaenuri (45), petani asal Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Minggu (16/8/26). Selain Zaenuri, masih ada 200 petani dari tiga desa yakni Karangtengah, Butuh, dan Bakal yang menggantungkan irigasi dari Telaga Merdada. “Setiap pagi, saya datang ke sini.” Air diperlukan karena sumber pengairan untuk lahan pertaniannya mulai mengering. Sudah dua bulan, dia menyedot air dari Telaga Merdada. Untuk lahan kentang sekitar 2.500 meter persegi, Zaenuri mengoperasikan pompa yang membutuhkan tujuh liter pertalite per hari. Harga per liter sekitar Rp11.000. “Sepertinya, air telaga hanya cukup dua bulan mendatang.” Hanif (41), petani Desa Buntu, juga telah menggunakan pompa selama sekitar dua bulan. Tanpa penyedotan air, tanaman kentang berisiko kekurangan air. “Kebutuhan air tidak bisa ditunda. Kentang harus mendapat pasokan berkala agar produktivitas tidak turun sebelum panen,” jelasnya, Minggu (16/8/26). Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, yang airnya berkurang drastis akibat kemarau. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Farid (44), petani Karangtengah, mulai memanfaatkan air Telaga Merdada sejak Mei. Dia menggunakan tiga mesin pompa untuk mengairi lahannya seluas satu hektar. “Semoga musim kering segera berakhir karena penurunan permukaan…This article was originally published on Mongabay
Air Telaga Merdada Kritis Diterjang El Nino Godzilla
Air Telaga Merdada Kritis Diterjang El Nino Godzilla





Comments are closed.