Dengarkan artikel ini:
Satu peristiwa bisa melahirkan seribu kebenaran, seperti Rashomon yang membuat setiap saksi percaya pada versinya sendiri. Begitu pula Demo Agustus: negara, massa aksi, dan mereka yang memilih diam berdiri di gerbang yang sama, tetapi melihat Indonesia dari jendela yang berbeda. Ketika semua merasa menjadi saksi paling jujur, siapa yang sebenarnya sedang menulis sejarah?
Di sebuah gerbang selatan Kyoto, sembilan abad lampau, hujan turun tanpa jeda. Seorang penebang kayu, seorang biksu pengembara, dan seorang pengembara awam berteduh sambil membicarakan kesaksian yang baru saja mereka dengar di pengadilan. Seorang samurai tewas di tengah hutan bambu.
Empat orang memberikan empat kronologi berbeda tentang kematian itu. Si bandit mengaku membunuh dalam duel jantan demi memperebutkan sang istri. Istri sang samurai bersumpah dirinyalah pembunuhnya, didorong aib yang tak tertahankan. Arwah samurai, dipanggil lewat mulut seorang medium, bersaksi bahwa kematian itu murni bunuh diri demi menjaga kehormatan. Dan si penebang kayu, saksi mata yang mestinya paling jujur, punya versi keempat yang sama sekali lain dari ketiganya.
Tidak satu pun dari mereka murni berbohong. Masing-masing hanya menceritakan kebenaran yang sudah disaring lewat ego, trauma, dan naluri mempertahankan harga diri. Cerita itu ditulis Ryūnosuke Akutagawa pada 1922, lalu difilmkan Akira Kurosawa pada 1950 dengan judul Rashomon, diambil dari nama gerbang tua tempat tiga orang itu berteduh sambil bertanya-tanya: kalau semua orang jujur menurut versinya sendiri, di mana sebenarnya kebenaran bersembunyi?
Sembilan dekade berselang, gerbang itu berpindah tempat. Bukan lagi di Kyoto, melainkan di depan Gedung DPR Senayan, di Bundaran Hotel Indonesia, di jalanan yang memanas tiap kali kalender menunjuk ke penghujung Agustus. Fisiknya satu peristiwa: ribuan massa, barikade, aspal yang mendidih. Tapi begitu peristiwa itu dibedah, yang muncul bukan satu kesimpulan, melainkan proyektor yang memutar film berbeda untuk penonton berbeda.
Saksi yang Menjaga Gerbang
Bagi aparat keamanan dan elite kekuasaan, Demo Agustus bukan luapan penderitaan rakyat, melainkan ancaman terhadap stabilitas yang harus dikelola secepat mungkin. Ketika driver ojek online Affan Kurniawan tewas terlindas rantis Brimob pada 28 Agustus 2025, narasi resmi membingkainya sebagai ekses lapangan dari prosedur pengamanan, bukan kegagalan struktural.
Setahun kemudian, ketika mahasiswa turun lagi menuntut evaluasi total Proyek Strategis Nasional dan penghentian program Makan Bergizi Gratis, tuntutan itu direduksi menjadi kegagalan publik memahami kalkulasi teknokratis negara.
Filsuf Michel Foucault pernah menunjukkan bahwa kekuasaan tidak sekadar menyensor kebenaran. Kekuasaan memproduksi rezim kebenarannya sendiri, menentukan pernyataan mana yang layak dianggap sah dan mana yang otomatis gugur sebagai gosip atau amplifikasi terkoordinasi.
Negara di sini tidak berbohong dalam pengertian vulgar. Negara sedang menjalankan fungsi paling purba dari kekuasaan: mendefinisikan ulang apa yang disebut tertib dan apa yang disebut kekacauan, lalu menempatkan dirinya selalu di sisi yang pertama.
Sementara itu, bagi koalisi mahasiswa dan masyarakat sipil, realitasnya persis terbalik. Jalanan menjadi pengadilan terakhir ketika institusi formal dianggap lumpuh. Dokumen 17+8 Tuntutan Rakyat yang lahir dari kerusuhan akhir Agustus 2025, mulai dari menarik TNI dari pengamanan sipil sampai membentuk tim investigasi independen kematian Affan Kurniawan dan membekukan kenaikan tunjangan DPR, bukan sekadar daftar angka. Delapan tuntutan jangka panjangnya diberi tenggat 31 Agustus 2026, seolah sengaja menyimpan bara yang dirawat setahun penuh.
Bara itu menyala lagi tahun ini. BEM UI dan Front Mahasiswa Nasional turun ke Bundaran HI pada 18 Agustus mengibarkan tagar #MerebutKemerdekaan, membawa delapan tuntutan baru: dorong reforma agraria yang mandek, evaluasi total PSN dan MBG, bubarkan Batalyon Teritorial Pembangunan yang oleh koalisi masyarakat sipil dianggap kembalinya bayang-bayang dwifungsi militer ke desa dan tanah adat, dari Simawang di Sumatra Barat sampai Nagekeo di Flores.
Sepuluh hari berselang, Aliansi GERAM kembali memenuhi Senayan pada 27 Agustus dengan tagar #MerebutKembaliIndonesia, menuntut kejelasan RUU Perampasan Aset yang dianggap terlalu lama mengendap sebagai wacana. Bagi barisan ini, kebenarannya sederhana: masa depan sedang dirampas secara legal, satu peraturan pada satu waktu.
Friedrich Nietzsche pernah menegaskan bahwa fakta murni tidak pernah benar-benar berdiri sendiri, yang selalu tersedia hanyalah tafsir. Sosiolog Pierre Bourdieu menyebutnya perebutan kuasa simbolik: siapa yang berhasil membuat namanya atas suatu peristiwa diterima sebagai kenyataan, dialah yang menang, terlepas dari siapa yang membawa data paling akurat.
Saksi yang Mengaku Netral
Ada kelompok ketiga yang sering luput dari sorotan: kelas menengah perkotaan, penonton yang menganggap dirinya berdiri di luar arena. Awal Agustus 2026, tim cek fakta Tempo menemukan belasan akun menyebarkan video dan foto lawas, sebagian dari kerusuhan Mei 1998, yang diklaim sebagai gelombang baru “Reformasi Jilid II.” Tidak ada aksi besar yang benar-benar berlangsung di Jakarta sepanjang pekan pertama Agustus itu. Yang ada hanyalah daur ulang ketakutan, dikemas ulang seolah kejadian hari ini.
Di titik inilah kelas menengah berperan seperti si penebang kayu dalam film Kurosawa. Sepanjang cerita, dia tampak sebagai saksi paling netral, tak punya kepentingan pada hasil duel, tak terlibat cinta segitiga, hanya kebetulan lewat. Tapi di adegan penutup, terungkap bahwa si penebang kayu mencuri belati bergagang mutiara dari lokasi pembunuhan, lalu menyembunyikan fakta itu demi menjaga namanya sendiri. Kesaksiannya yang tampak paling jujur ternyata juga disunting oleh kepentingan pribadi, hanya bentuknya berbeda: bukan demi kehormatan atau cinta, melainkan demi rasa aman.
Begitu pula kelas menengah hari ini. Ketakutan akan kerusuhan kerap lebih mendominasi ketimbang simpati pada tuntutan ekonomi yang sebenarnya mereka pahami. Kebingungan massal yang dipupuk lewat video daur ulang dan disinformasi digital melahirkan sikap serba-menahan diri, yang oleh sebagian pengamat disebut agnotologi, produksi ketidaktahuan secara sistematis. Netral yang mereka rasakan bukan posisi tanpa kepentingan. Netral itu sendiri adalah pilihan untuk tidak berpihak, dan pilihan untuk tidak berpihak selalu menguntungkan pihak yang sedang memegang gerbang.
Di sinilah letak persoalan sesungguhnya. Pertarungan Agustus, dari 2025 sampai 2026, tidak lagi soal siapa membawa bukti paling kuat. Tidak ada jumlah data tambahan yang bisa mendamaikan negara yang merasa menjaga tertib, jalanan yang merasa masa depannya dirampas, dan kelas menengah yang memilih diam demi rasa aman. Yang sedang diperebutkan adalah hak menjadi saksi terakhir yang didengar, versi mana yang bertahun-tahun dari sekarang akan tercatat dalam ingatan publik sebagai kejadian yang benar-benar terjadi.
Film Kurosawa tidak pernah memberi vonis siapa pembunuh sesungguhnya di hutan bambu itu. Yang diberikan hanya satu adegan penutup, sederhana dan nyaris tanpa dialog: si penebang kayu, meski baru saja ketahuan berbohong, memungut bayi yang ditinggalkan di gerbang, lalu membawanya pulang untuk dibesarkan bersama enam anaknya sendiri yang sudah kekurangan. Tidak ada yang memintanya melakukan itu. Tidak ada yang akan tahu jika bayi itu dibiarkan begitu saja di sana.
Demo Agustus barangkali akan terus berulang setiap tahun sebagai ritual benturan, sampai ada pihak yang berhenti bertanya versi siapa yang paling benar. Pertanyaannya bukan lagi kesaksian mana yang akan menang di pengadilan sejarah. Pertanyaannya, ketika kau berdiri di gerbangmu sendiri tahun depan, dikelilingi segala kebisingan yang saling bertentangan itu: apa yang akan kau pilih untuk dibawa pulang? (S13)





Comments are closed.