Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Suatu ketika, Mardani Ali Sera menemukan taringnya di jalanan oposisi. Kini, Gamal Albinsaid datang membawa prestasi, tetapi memasuki arena politik dengan kurs berbeda. Apakah ia kekurangan kapasitas, atau justru kehilangan panggung untuk mengubah modal menjadi pengaruh?
Beberapa tahun lalu, sebuah foto ikonik diambil, terarah ke atas mobil komando demonstrasi, Mardani Ali Sera berdiri berorasi dengan pengeras suara seraya mengepalkan tangan.
Di tengah gelombang massa, ia menjelma lebih dari sekadar anggota partai. Dirinya seolah menjadi simbol sebuah posisi politik, oposisi yang merasa memiliki mandat moral untuk mengoreksi kekuasaan.
Saat itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berdiri sebagai penyeimbang pemerintahan. Kritik bukan sekadar strategi komunikasi, melainkan identitas politik.
Dalam ekosistem semacam itu, figur seperti Mardani memperoleh habitat yang subur. Setiap kritik menemukan resonansi. Setiap pernyataan memperoleh gema. Setiap keberanian berbeda pendapat menghadirkan panggung.
Lalu waktu bergerak. Peta kekuasaan berubah. PKS memasuki orbit pemerintahan. Politik tidak lagi ditentukan oleh jarak terhadap kekuasaan, melainkan kedekatan dengannya.
Sebelum, menjelang, dan di tengah perubahan itulah muncul Gamal Albinsaid. Secara teoritis, Gamal hampir memenuhi seluruh syarat untuk menjadi bintang politik generasi baru.
Dokter, inovator sosial, tokoh muda berprestasi internasional. Sosok yang datang bukan dari rahim politik tradisional, melainkan dari dunia kewirausahaan sosial dan gerakan kemanusiaan.
Ketika bergabung dengan PKS pada November 2020, banyak yang melihatnya sebagai investasi politik jangka panjang.
Ia tampak seperti kombinasi langka antara kompetensi teknokratik dan kemampuan komunikasi publik. Dalam imajinasi publik, Gamal seolah disiapkan menjadi penerus generasi kritis yang pernah diwakili Mardani.
Namun politik memiliki kebiasaan yang aneh. Sering kali tidak menguji siapa yang paling cerdas, melainkan siapa yang berada dalam ekosistem yang tepat.
Hari ini, ketika gelombang demonstrasi hadir dalam bentuk yang berbeda, ketika kritik terhadap negara berpindah dari jalanan menuju ruang digital, ketika publik mencari figur-figur yang mampu menerjemahkan keresahan sosial menjadi bahasa politik, nama Gamal justru terdengar lebih sunyi daripada ekspektasi yang pernah mengelilinginya.
Pertanyaannya bukan apakah Gamal kekurangan kapasitas. Pertanyaannya adalah mengapa kapasitas sebesar itu belum berubah menjadi pengaruh politik yang sebanding?
Kurs Politik Mardani
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menawarkan konsep yang sangat relevan untuk membaca fenomena ini, modal tidak selalu memiliki nilai yang sama di setiap arena.
Prestasi akademik adalah modal. Reputasi internasional adalah modal. Pengalaman sosial adalah modal.
Namun politik memiliki kursnya sendiri. Apa yang bernilai tinggi di dunia inovasi sosial belum tentu bernilai sama di arena kekuasaan.
Gamal memasuki politik dengan modal simbolik yang besar. Ia telah memperoleh pengakuan bahkan sebelum menjadi politisi. Publik mengenalnya sebagai figur yang bekerja, bukan sekadar berbicara.
Masalahnya, politik tidak hanya menghargai kompetensi. Politik menghargai diferensiasi. Di sinilah paradoks mulai muncul.
Sebelum memasuki partai, Gamal adalah sebuah merek. Memiliki identitas yang jelas dan berbeda. Namun, setelah memasuki institusi politik, identitas personal tersebut harus bernegosiasi dengan identitas organisasi yang lebih besar.
Georg Simmel menyebut fenomena ini sebagai persoalan jarak. Seseorang menarik perhatian karena berbeda. Ketika perbedaan itu melebur ke dalam struktur yang lebih besar, daya tariknya perlahan dapat mengalami pengikisan.
Gamal yang dahulu dikenal sebagai inovator sosial kini lebih sering dipersepsikan sebagai salah satu kader PKS.
Perubahan itu tampak sederhana. Namun, dalam politik, persepsi sering kali lebih menentukan daripada kenyataan.
Karena itu, persoalan utama Gamal bukanlah kekurangan gagasan atau minim aktivitas. Persoalannya adalah konversi modal.
Dirinya memiliki modal sosial, modal intelektual, modal simbolik. Namun, belum sepenuhnya berhasil mengubah seluruh modal tersebut menjadi modal politik yang mampu membentuk agenda publik.
Seperti seseorang yang membawa mata uang berharga ke negeri asing, Gamal datang dengan kekayaan yang besar, tetapi harus menghadapi nilai tukar yang berbeda.

Bayang-Bayang Taring
Interpretasi kemudian membandingkan Gamal dengan Mardani. Perbandingan itu sesungguhnya menyesatkan sekaligus menarik.
Menyesatkan karena keduanya tumbuh dalam ekologi politik yang berbeda. Menarik karena justru dari perbedaan itulah kita memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Mardani berkembang dalam era ketika oposisi memiliki nilai premium. Kritik memperoleh perhatian. Perbedaan sikap menghasilkan sorotan media. Semakin jauh dari kekuasaan, semakin besar peluang menjadi pusat percakapan.
Gamal justru memasuki panggung ketika PKS bergerak sendirian tak terdengar di luar kekuasaan, hingga perlahan mendekati pusat kekuasaan. Dalam politik koalisi, insentifnya berbeda.
Yang dihargai bukan lagi kemampuan menciptakan kontras, melainkan kemampuan menjaga harmoni. Yang dicari bukan lagi suara paling keras, melainkan negosiator paling efektif.
Masalahnya, publik sering kali lebih mudah mengenali suara yang mengguncang daripada tangan yang bekerja diam-diam.
René Girard pernah menjelaskan bahwa pengaruh sosial lahir dari kemampuan seseorang menjadi model yang ditiru. Dalam politik, seseorang menjadi penting bukan hanya karena benar, tetapi karena publik mulai melihatnya sebagai rujukan.
Di titik ini muncul pertanyaan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar apakah Gamal berhasil atau gagal.
Apa sebenarnya isu yang langsung diingat publik ketika mendengar namanya? Apakah ada satu tema besar yang telah menjadi tanda tangannya?
Apakah ada satu pertarungan gagasan yang membuat publik mengetahui posisi politiknya secara jelas?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu belum memiliki jawaban yang tegas, maka persoalan Gamal bukanlah soal kualitas personal. Persoalannya adalah persona politik.
Mardani tidak menjadi Mardani hanya karena kapasitasnya. Ia menjadi Mardani karena publik memahami dengan jelas posisi yang ia wakili.
Di sinilah ironi terbesar muncul. Gamal mungkin memasuki politik dengan modal yang lebih lengkap daripada banyak politisi lain. Namun politik bukan sekadar kompetisi modal. Politik adalah kompetisi makna.
Dan sampai hari ini, tantangan terbesar Gamal tampaknya bukan membuktikan dirinya kompeten, melainkan menemukan kembali alasan mengapa publik harus memandangnya sebagai figur yang berbeda.
Sebab sejarah politik menunjukkan satu pelajaran yang berulang, yakni saat prestasi dapat membuat seseorang dikagumi, tetapi hanya persona yang mampu membuat seseorang berpengaruh.
Mungkin karena itu, masalah Gamal bukanlah gagal menjadi Mardani. Masalahnya adalah ia belum sepenuhnya berhasil menjadi Gamal yang dibutuhkan oleh arena politik hari ini. (J61)





Comments are closed.