Angin kemarau berhembus kering, membawa serta aroma pekat asap yang menguar dari kawasan Perum Perhutani di Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. Api merayap tak terkendali, melahap semak belukar, rerumputan, dan serasah yang telah lama meranggas kerontang.
Di bawah bayang-bayang langit Jawa Barat yang kian pudar oleh jelaga, sebuah krisis iklim dan lingkungan tengah mempertontonkan wujud aslinya: kebakaran lahan yang kian tak terbendung dan sumber air yang terus menyusut.
Hingga pengujung Agustus 2026, Kabupaten Sukabumi resmi tercatat sebagai wilayah dengan area terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terluas di Jawa Barat. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat per 24 Agustus, dari 12 kejadian yang dilaporkan, sebanyak 49,20 hektare bentang alam di Sukabumi telah hangus menjadi abu.
Bencana ini tak berdiri sendiri. Secara akumulatif, amuk si jago merah telah menghanguskan nyaris 200 hektare (tepatnya 196,40 hektare) lahan di seantero provinsi. Api menari-nari dan meninggalkan jejak arang di 153 desa/kelurahan yang tersebar di 91 kecamatan dalam 19 kabupaten dan kota.
Frekuensi bencana pun bervariasi. Sumedang mencatatkan jumlah insiden terbanyak dengan 20 kejadian (21,68 hektare), disusul Majalengka dengan 15 kejadian (25,91 hektare), dan Bandung dengan 13 kejadian (16,80 hektare). Daerah lain yang masuk zona merah karhutla meliputi Subang, Kuningan, dan Purwakarta.
“Jadi yang perlu menjadi perhatian bukan hanya luas lahan yang terbakar, tetapi juga sebarannya yang sudah cukup luas di Jawa Barat,” ungkap Kepala BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, memberikan peringatan keras akan krisis merata yang tengah berlangsung.
Jejak Manusia di Balik Bara Api
Tragedi ekologis ini sejatinya adalah bom waktu yang prosesnya merambat lambat. Teten mencatat, bara pertama telah menyala sejak 25 Februari silam di Kabupaten Bandung, dan intensitasnya terus merangkak naik sejak Juni seiring menggilanya cuaca ekstrem. Prediksi membayangi langkah para relawan dan pemadam api: puncak kemarau dan kerawanan ini masih akan menancapkan taringnya hingga September mendatang.
Namun, mengambinghitamkan cuaca semata rasanya tidak adil. Di balik rimbun yang hilang, ulah manusia berdiri sebagai dalang utama. Api banyak tersulut di lahan kering dan tempat pembuangan sampah lewat pemicu yang sering dianggap remeh. Mulai dari pembakaran sampah yang ditinggalkan begitu saja, pembukaan lahan dengan cara dibakar demi memangkas biaya operasional, hingga puntung rokok yang dilempar sembarangan. Percikan kecil yang bertemu dengan alam yang rentan itu, akhirnya menjelma menjadi bencana yang melahap paru-paru ekosistem.
Bencana Ganda: Kala Air Menjadi Barang Mewah
Api di rimbun hutan hanyalah satu sisi dari koin krisis kemarau. Di saat yang sama, kala api berpesta di area-area terbuka, dahaga justru mulai mencekik pusat-pusat peradaban. Bencana kekeringan merayap diam-diam bak wabah, merampas hak dasar ratusan ribu warga atas air bersih.
Data BPBD menyuguhkan potret muram: sebanyak 588.534 jiwa (atau sekitar 181.484 keluarga) di 440 desa dan 189 kecamatan di Jawa Barat kini hidup dalam jerat krisis air. Kabupaten Bogor menjadi yang paling parah dengan lebih dari 200 ribu jiwa menderita kekeringan.
Di Kota Sukabumi—pusat peradaban yang berbatasan langsung dengan hamparan hutan yang terbakar di area kabupaten—dampaknya tak kalah memprihatinkan. Sedikitnya 31.037 jiwa kini harus bertahan di tengah kerontangnya sumur-sumur warga dan menyusutnya pasokan air.
Di titik ini, warga Kota Sukabumi tidak hanya harus menghadapi langit yang mulai terpapar partikel debu dari kabupaten tetangga, melainkan juga berjuang keras untuk sekadar mendapat setetes air demi menyambung hidup sehari-hari. Wilayah lain pun merana; Bekasi dengan 72 ribu jiwa terdampak, Purwakarta (49 ribu), Bandung (31 ribu), Tasikmalaya (29 ribu), hingga Karawang (24 ribu).
Jawa Barat kini benar-benar terjepit di antara dua ekstrem alam yang mematikan: tanah yang hangus terbakar dan kerongkongan yang tercekik dahaga. Rentetan kejadian dari perbukitan Jampangtengah hingga permukiman padat di Kota Sukabumi adalah alarm nyaring yang mengingatkan kita. Bahwa krisis ekologi tak lagi sekadar rentetan angka statistik di lembar laporan BPBD, melainkan penderitaan nyata manusia dan alam.
Menjelang puncak ujian di bulan September, mampukah kita meredam bara sekaligus menjaga sisa-sisa sumber air kehidupan kita?





Comments are closed.