Rizki tergopoh-gopoh masuk barisan. Dia segera mengenakan sarung tangan plastik yang panitia berikan. Sama dengan puluhan temannya yang lain, siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar di Pulau Lae-lae, Sulawesi Selatan itu antusias mengikuti aksi bersih pantai hari itu. Pagi itu, Rabu (5/8/26) Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar aksi bersih sampah yang mereka kemas dalam program Belajar Atasi Sampah Bersama Siswa (Basis). Kegiatan bagian dari pengabdian masyarakat itu berlangsung 5–7 Agustus lalu. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya belajar pentingnya menjaga lingkungan, juga bagaimana mengolah sampah plastik agar bisa bernilai ekonomis. “Kami percaya perubahan besar selalu dari langkah-langkah kecil. Melalui BASIS, kami ingin menanamkan kesadaran kepada anak-anak bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” kata Nabila Ali, Koordinator Divisi Humas Human FISIP Unhas. Nabila bilang, melalui kegiatan ini, dia mengajak siswa memahami dampak buruk sampah plastik dan bagaimana cara menguranginya. Bagi masyarakat di pulau-pulau kecil, persoalan sampah jauh lebih kompleks. Sampah tidak hanya produksi dari daratan pulau, juga datang dari laut. Sementara sistem pengelolaan terbatas. “Botol minuman, kantong belanja, kemasan makanan, gelas sekali pakai dan berbagai produk rumah tangga hadir hampir setiap hari. Praktis dan murah, plastik menjadi pilihan utama masyarakat. Namun setelah digunakan, benda-benda itu berubah menjadi persoalan yang semakin sulit dikendalikan,” katanya. Sampah plastik tidak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, telah menjadi masalah global yang menjalar ke sungai, pesisir dan laut. Sampah yang terbuang di daratan dapat terbawa aliran sungai hingga ke pesisir dan laut. “Di pulau-pulau kecil, persoalan…This article was originally published on Mongabay
Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Pulau-pulau Kecil
Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Pulau-pulau Kecil




Comments are closed.