Penggunaan media sosial telah menjadi rutinitas yang tidak bisa dipisahkan bagi sebagian orang. Media sosial telah lama menjadi tempat bagi seseorang untuk melakukan update kehidupan, baik itu pencapaian, keseharian, bahkan membagikan curahan hati.
Tahukah Bunda bahwa karakter orang bisa diketahui melalui unggahannya? Terutama karakter orang yang sering unggah curhatan sedih.
Di sisi lain, saat ini juga muncul tren sadfishing di media sosial. Istilah sadfishing merujuk pada kecenderungan pengguna media sosial untuk mempublikasikan kepribadian mereka secara berlebihan demi menggaet simpati banyak orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian tentang sadfishing telah banyak dilakukan, salah satunya adalah makalah penelitian yang diterbitkan di Journal of American College. Menurut penelitian ini, sadfisher berkaitan dengan adanya kecemasan yang terjadi terus menerus.
Penasihat Manajemen Perangkat Sehat di Newport Healthcare di Los Angeles, California, Don Grant, PhD, menyampaikan bahwa karakter orang yang sering unggah curhatan sedih atau sadfisher bisa saja mengkhawatirkan tergantung kasusnya.
Ia berkata bahwa dirinya pernah melihat jenis postingan sadfishing yang menimbulkan kekhawatiran.
“Kami telah melihat (postingan sedih) yang sebenarnya harus kami lakukan panggilan dan pemeriksaan kesejahteraan,” ujar Grant. “Kami yang mengenal orang atau rekannya, (kemudian) kami melakukan pemeriksaan kesejahteraan karena sangat mengkhawatirkan,” sambungnya.
Postingan sadfishing dapat dilakukan oleh orang dari berbagai kalangan usia, serta ditemukan di platform media sosial, tetapi intensitasnya bervariasi tergantung pada platform yang digunakan.
Dilansir laman New York Post, Grant mengungkap platform yang berbasis video seperti TikTok cenderung lebih mudah menampilkan postingan sadfishing. Hal ini dikarenakan video dan audio dapat menunjang nuansa dramatis dalam sebuah postingan.
Berdasarkan hasil survei Pew Research Center, anak muda di Amerika Serikat cenderung menggunakan Instagram, Snapchat, dan TikTok dibandingkan platform lain.
Selain itu, 62 persen dari remaja usia 18 hingga 29 tahun mayoritas merupakan pengguna TikTok. Itu jauh lebih tinggi dibandingkan proporsi di antara orang dewasa berusia 65 tahun ke atas sebesar 10 persen.
Selain itu, pembahasan mengenai konten sadfishing juga ramai diperbincangkan di platform X. Tidak dimungkiri bahwa dalam aplikasi tersebut juga ditemukan postingan–postingan bernuansa sadfishing.
“‘Sadfishing? Itu pada dasarnya menjadi remaja/dewasa muda, haha,” tulis salah satu pengguna, dikutip New York Post.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat diketahui bahwa karakter orang yang sering unggah curhatan sedih menurut survei dan pakar lebih dominan dilakukan oleh pengguna dari kalangan muda.
Selain itu, ada pula kecenderungan aplikasi yang digunakan, yaitu aplikasi berbasis video yang lebih memungkinkan untuk menampilkan konten sadfishing karena didukung oleh fitur video dan audio, misalnya TikTok.
Itulah penjelasan mengenai karakter orang yang sering unggah curhatan sedih. Curhatan yang disampaikan di media sosial dapat mengungkap karakter seseorang.
Namun, apabila seseorang melihat orang terdekat dirasa terlalu berlebihan dalam membagikan konten curhat, ada baiknya berkonsultasi dengan ahli karena sering mengunggah curhatan sedih berkaitan dengan ekspresi kecemasan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)





Comments are closed.