Jakarta –
Lembaga Southeast Asian Ministers of Education Organitation-Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO-RECFON) merilis hasil kajian mengenai kondisi gizi anak di Indonesia. Temuan tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah terkait pemenuhan gizi anak.
Selain memetakan kondisi gizi, SEAMEO RECFON menyusun rekomendasi menu makanan bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Kajian tersebut menyatakan menu makan anak yang bergizi harus disesuaikan dengan menu lokal di setiap daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON Dr dr Brian Sri Prahastuti yang juga merupakan pakar nutrisi dari Universitas MH Thamrin menanggapi soal kecukupan anggaran Rp10 ribu per porsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nominal tersebut sebelumnya menjadi perhatian publik karena dinilai sebagian pihak sulit untuk mencukupi kebutuhan gizi anak. Namun, menurut Brian, pemenuhan gizi tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran dalam bentuk nominal.
Ia mengatakan pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu faktor penting dalam menyusun makanan bergizi dengan biaya yang tersedia.
“Ini kayaknya cukup menantang juga ya, karena waktu menu dibikin kan belum ada tuh keluar angka sekian ribu begitu untuk menu MBG,” kata Brian dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, harga per porsi menjadi lebih murah karena pengolahan dilakukan dalam jumlah yang besar yakni lewat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Meski demikian, apabila mengacu pada rekomendasi menu bergizi yang disusun berdasarkan pangan lokal, anggaran Rp10 ribu tetap menjadi tantangan untuk menyediakan seluruh menu yang direkomendasikan.
Misalnya untuk menu bergizi anak SD yang ideal di daerah regional Jawa 1, itu bisa berupa nasi goreng komplet, nasi timbel oncom teri atau nasi cobek udang bumbu Sunda.
Menurut Brian, menu tersebut tidak harus diterapkan secara persis. SPPG dapat mencari menu lain yang memiliki kandungan gizi dan komposisi yang setara. “Sebetulnya menu ini kan juga tidak menjadi paksaan juga bahwa harus seperti ini ya. Tetapi bisa jadi dicari ke apa namanya, penyetaraannya,” tutur Brian.
“Yang paling penting adalah tadi kaitannya bahan pangannya apa, kemudian kalau teman-teman melihat di buku katalog ini adalah menunya itu bukan sesuatu yang apa namanya, bukan sesuatu yang biasa-biasa saja juga,” sambung Brian.
Menurut Brian, penyesuaian menu dengan kondisi daerah juga berkaitan dengan penerimaan anak terhadap makanan. Hidangan yang diberikan sebaiknya sesuai dengan selera dan kebiasaan makan masyarakat setempat.
TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)





Comments are closed.